Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Beberapa musisi sedang tampil di atas panggung, salah satunya duduk di kursi roda sambil memainkan drum. Ada musisi lain yang memainkan alat musik tiup dan gitar. Suasana menunjukkan kebersamaan di bidang musik, dengan latar panggung bertema ceria.

Menilik Potensi Suno Ai: Difabel Netra dalam Ruang Kreatifitas Musik Modern

Views: 19

Solidernews.com – Selama ini, banyak difabel netra yang menyimpan ketertarikan besar pada dunia musik—bahkan memiliki bakat musikal yang kuat—namun terbentur pada realitas akses yang tak selalu ramah. Mengoperasikan studio, peralatan rekaman, atau software (red_perangkat) digital audio workstation (DAW) terkadang menjadi tantangan berat karena antarmuka yang sangat tidak ramah dan berbasis visual serta proses pengeditan yang menuntut presisi teknis. Di tengah tantangan itulah, sebuah celah baru terbuka. Suno AI hadir dengan cukup menuliskan deskripsi lirik, suasana, hingga gaya musik yang diinginkan, difabel netra dapat menciptakan karya musik dengan mudah.

Lebih dari sekadar mempermudah proses produksi, Suno AI memberikan kemandirian kreatif. Difabel netra tidak lagi bergantung pada bantuan orang lain untuk mengoperasikan perangkat visual atau mengatur mixing (red_pencampuran dan penyeimbangan  dan penyesuaian level setiap elemen lagu untuk menciptakan suara yang kohesif dan seimbang) yang rumit. Difabel netra bisa bereksperimen sesering mungkin, menciptakan puluhan demo, dan mengembangkan ide-ide musikal dengan cara yang lebih bebas. Proses ini membangun rasa percaya diri sekaligus membuka peluang.

Edy Aryawan, ketua komunitas Smart Netra, yang belum lama ini mengadakan pelatihan Suno Ai bagi difabel netra, menjelaskan bahwa kehadiran Suno Ai menjadi platform untuk meningkatkan potensi dan hiburan bagi difabel yang mencintai musik. Hal itu juga dapat menjadi ruang kreatifitas difabel netra yang ingin membuat musik namun terkendala finansial dan akses studio. Sebab Suno Ai memberikan kemudahan dan berbagai solusi untuk meningkatkan pengalaman membuat musik.

“Ini memungkinkan difabel netra atau difabel lainnya untuk berkreasi di dunia musik secara gratis. Selain itu, juga bisa dijadikan tempat untuk membuat jinglle (red_rentetan bunyi untuk mempromosikan atau penanda suatu produk) atau musik untuk acara webinar. Sehingga ruang kreasi ini berpeluang untuk meningkatkan skill  (red_keterampilan) digital difabel,” jelas Edy Aryawan, saat dihubungi Solidernews, 17 November 2025.

Simak juga ..  Bandara YIA Belum Sepenuhnya Akses bagi Difabel

 

Akses yang Ramah Pembaca Layar

Suno AI—sebagai teknologi kecerdasan buatan yang mengubah ide menjadi musik—dapat diakses dengan baik menggunakan pembaca layar. Mulai dari pembuatan akun, memasukkan prompt (red_perintah/petunjuk), hingga menghasilkan musik, seluruh proses dapat dijelajahi dengan mulus.

Praktisi Teknologi Aksesibilitas, Muhammad Gagah, menjelaskan bahwa untuk Suno Ai dapat dijelajahi dengan mudah bila menggunakan pembaca layar. Sehingga ruang kreatifitas difabel dapat maksimal.

“untuk Suno Ai sudah bagus aksesnya. Dapat dijelajahi dengan screen reader (red_pembaa layar) tanpa kendala,” jelas Gagah, saat dihubungi Solidernews, 17 November 2025.

Gagah menyoroti bahwa Suno Ai juga memiliki program berlangganan untuk mendapatkan fitur yang berlimpah. Sebab bila Suno Ai yang gratis, fitur yang didapat hanya yang basic (red_dasar).

“Sehingga bila ingin maksimal ya berlangganan yang Pro. Kalau cuman yang gratis, itu fiturnya kurang maksimal. Tapi cukup untuk hiburan saat ingin mencoba membuat musik,” ungkapnya.

 

Terbukanya Ruang Kreasi

Sebagaimana yang disampaikan oleh Edy Aryawan, dirinya menggunakan Suno Ai selain untuk hiburan pribadi juga membantu komunitas difabel lain dengan membuatkan jingle,  yang dapat diputar saat webinar online (red_daring). Sebagai pribadi yang menggemari musik, ia kerap menuangkan ide-ide kreatif untuk dijadikan musik, menggunakan Suno Ai yang gratis atau berbayar.

Lebih lanjut, Edy Aryawan mengungkapkan sering membuat themes song “lagu khas yang menjadi identitas sebuah acara”, dalam berbagai agenda komunitasnya, seperti Smart Life Class, dan sebagainya. Ia juga kerap membuat Themes song untuk agenda talkshow online (red_geler wicara darng) organisasi difabel lain. Baginya, menambahkan musik identitas disuatu acara, tanpa mengeluarkan uang besar, waktu yang lebih singkat, menjadi daya tarik tambahan saat membuat acara online.

“Saat membuat themes song saya memaksimalkan Suno Ai dengan memilih yang berbayar. Kita dapat membuat refrensi musik yang lebih banyak dengan berbagai fitur-fiturnya,” jelas Edy Aryawan.

Simak juga ..  Fakultas Farmasi UGM Gelar Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Libatkan Difabel

 

Menghidupkan Puisi Menjadi Musikalisasi

Irwan Dwi Kustanto, Seorang penyair difabel netra dan penulis buku Antologi Puisi Meditasi Kopi, menjabarkan kerap menggunakan Suno Ai untuk menghidupkan puisi-puisinya dalam bentuk musik. Baginya, Suno Ai memberikan alternatif solusi untuk mengembangkan karya-karya puisi yang dimiliki oleh siapapun, menjadi lebih hidup dan berwarna.

“Sehingga, ini sangat memudahkan kita untuk berbagi karya, membuat suasana baru dalam karya, dan tentunya menjadi hiburan yang terjangkau tanpa perlu biaya mahal,” ungkap Irwan, Saat dihubungi Solidernews, 17 November 2025.

Irwan menambahkan bahwa ia juga kerap berkolaborasi dengan difabel netra lain untuk membuat karya. Ia Akan membuat lirik-lirik sesuai suasana yang disepakati. Dan rekannya akan membuat musiknya dengan mengolah lirik itu di Suno Ai. Sehingga ruang kreatifitas yang dimiliki menjadi lebih luas.

 

Antara Peluang dan Tantangan 

Nubuat, Vokalis difabel netra dari Grub Band Gandana yang dinaungi Jogja Disability Art, menjelaskan bahwa teknologi digital terus berkembang, termasuk di dalamnya ada teknologi musik. Di mana artificial intelligence (red_kecerdasan buatan) juga dapat mengolah promt untuk menjadi sebuah karya, salah satunya adalah Suno Ai. Hal itu bukan untuk di lawan, melainkan untuk diikuti dan buat karya lebih maksimal dengan kecerdasan buatan tersebut.

Nubuat menambahkan bahwa justru Suno Ai dapat digunakan untuk menjadi alat bantu membangun inspirasi saat akan membuat lirik atau musik. Hal itu akan terbantu dengan kemampuan dan bekal bermusik yang baik. Hasilnya pasti berbeda dengan yang tidak memiliki ilmu bermusik.

Musisi lain dari Gandana, Nandar, difabel netra yang menjadi pemain bass mengungkapkan bahwa AI tidak akan menggantikan performa (red_penampilan) musisi secara langsung. Penampilan live (red_langsung) tetap memiliki ruh tersendiri, begitu pula produk digital yang bisa dibedakan antara buatan manusia dan hasil AI.

Simak juga ..  Akses Literasi dan Teknologi Bagi Difabel Netra, Bikin Mereka Makin Berdaya

“Kita yang paham musik akan tahu mana yang garapan AI. Selain itu, permainan pentas panggung tetap tidak akan bisa digantikan oleh AI,” jelasnya.[]

 

Reporter: Wachid Hamdan

Editor     : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content