en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Menggugah Kesadaran Melalui Konseling Sesama: Sebuah Pendekatan Berbeda dalam Mengatasi Stigma

Solidernews.com – Di tengah masyarakat yang seringkali memandang sebelah mata terhadap penyakit kronis dan difabel, sebuah metode konseling berbeda menawarkan harapan dan pemulihan. Konseling sesama, sebuah pendekatan terapi yang melibatkan mereka yang pernah berjalan di sepatu yang sama,  menjadi harapan bagi mereka yang berjuang melawan stigma dan mencari pemahaman serta penerimaan. Konseling sesama, lebih dari sekadar proses terapi biasa, adalah pertemuan antara dua individu yang dibingkai oleh pengalaman hidup yang serupa. Ketika seseorang yang menghadapi tantangan kesehatan atau kedifabelan berbicara dengan seseorang yang telah melalui perjalanan yang mirip, terjadi sebuah koneksi unik yang sulit ditemukan dalam interaksi sehari-hari.

 

Pengalaman bersama ini tidak hanya menciptakan ruang yang aman untuk keterbukaan dan empati, tetapi juga menyediakan contoh konkret bahwa tidak hanya satu jalan menuju pemulihan dan penerimaan diri. Kekuatan utama dari konseling sesama terletak pada nilai tambah berupa pengalaman nyata dan contoh hidup yang diberikan oleh konselor sesama kepada klien mereka. Hal ini memberikan manfaat lebih dalam bentuk kekuatan mendorong perubahan yang tidak selalu bisa diberikan oleh konselor profesional. Meskipun demikian, peran konselor profesional tetap tidak tergantikan, terutama dalam hal rujukan, diskusi kasus, dan supervisi. Dalam praktiknya, konseling sesama menghadirkan sebuah paradigma yang menekankan pada kesamaan pengalaman sebagai dasar untuk mendukung dan memberdayakan. Misalnya, seseorang yang berjuang dengan akibat dari stroke mungkin merasa lebih terbuka untuk berpartisipasi dalam fisioterapi setelah bertemu dan berbicara dengan konselor yang juga merupakan penyintas stroke. Demikian pula, individu yang menghadapi stigma karena difabel atau penyakit kronis seperti kusta atau HIV/AIDS menemukan kekuatan dan inspirasi dalam cerita dan dukungan dari mereka yang telah menavigasi jalan yang serupa.

 

Konseling berbasis hak, yang dikembangkan dalam proyek SARI (‘Stigma, Assessment and Reduction of Impact’), mengambil pendekatan ini satu langkah lebih jauh dengan mengintegrasikan pemahaman dan penyadaran hak-hak individu. Model konseling ini bertujuan untuk membantu orang yang terstigma dengan mandiri mengurangi stigma mereka melalui pengembangan kapasitas dan penyadaran hak, sehingga memungkinkan mereka untuk lebih sepenuhnya berpartisipasi dalam masyarakat. Untuk menjadi konselor sesama, prosesnya dimulai dengan mengenal dan mengakui diri sendiri, sebuah langkah fundamental yang mengajarkan bahwa semua aspek dari identitas diri, baik fisik maupun non-fisik, adalah kepemilikan yang melekat dan positif. Melalui proses ini, konselor sesama belajar untuk menerima dan menghargai diri mereka sendiri, yang merupakan langkah penting dalam mempersiapkan mereka untuk membantu orang lain melakukan hal yang sama.

 

Pengertian dan Kekuatan Konseling Sesama

Konseling sesama berakar pada prinsip dasar empati dan pengalaman bersama. Dalam metode ini, individu yang telah mengalami kondisi tertentu—seperti stroke, kusta, atau HIV—bertindak sebagai konselor bagi mereka yang sedang menghadapi tantangan serupa. Kekuatan dari konseling sesama terletak pada kemampuan unik konselor untuk berbagi pengalaman, kekuatan, dan harapan mereka secara langsung, memberikan contoh nyata dan motivasi untuk pemulihan dan adaptasi.

 

Metode ini telah menunjukkan efektivitasnya dalam berbagai komunitas, terutama bagi mereka yang berjuang dengan penyakit kronis dan difabel. Nilai tambah dari pengalaman hidup yang dibagikan ini menawarkan perspektif dan solusi yang tidak selalu dapat diberikan oleh konseling profesional secara tradisional.

 

Konseling Berbasis Hak: Mengembalikan Hak dan Martabat

Salah satu terobosan paling signifikan dalam ranah konseling sesama adalah pengembangan dan implementasi model Konseling Berbasis Hak (KBH), seperti yang dilakukan dalam proyek SARI di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, di tahun 2010 hingga 2014. Model ini mengambil pendekatan yang inovatif dan sangat diperlukan dalam menangani isu stigma, yang sering kali mengikat individu-individu yang berjuang dengan penyakit kronis atau difabel dalam sebuah siklus diskriminasi dan isolasi sosial. Melalui KBH, ada upaya terstruktur untuk mengurangi stigma dengan mengembangkan kapasitas individu yang terstigma serta menyadarkan mereka akan hak-hak mereka. Ini adalah langkah strategis untuk mengembalikan martabat dan mengasertifkan hak-hak dasar individu, yang pada gilirannya mendorong kehidupan yang lebih mandiri dan terlibat secara sosial. KBH di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menunjukkan bagaimana pendekatan ini dapat diimplementasikan secara praktis dan efektif. Dengan fokus pada pengurangan stigma, KBH tidak hanya mengatasi dampak psikologis dari stigma tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang seringkali mengiringinya. Melalui konseling sesama, individu yang terstigma diberdayakan untuk mengakui dan menghargai diri mereka sendiri tidak hanya sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai pemegang hak yang memiliki suara penting dalam masyarakat. Pengembangan kapasitas dalam KBH melibatkan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri individu terstigma. Ini dapat mencakup pelatihan tentang hak-hak dasar manusia, sesi keterampilan hidup, dan workshop tentang advokasi diri. Tujuannya adalah untuk membekali individu tersebut dengan alat yang mereka butuhkan untuk menghadapi dan mengatasi stigma, serta untuk mengambil kontrol atas kehidupan mereka sendiri dengan cara yang produktif dan bermakna. Penyadaran hak dalam KBH merupakan aspek kunci lainnya. Banyak individu yang terstigma tidak menyadari hak-hak mereka atau merasa tidak berdaya untuk menuntut hak tersebut. Program seperti KBH mengajarkan individu tentang hak-hak mereka, seperti hak untuk pendidikan, pekerjaan, perawatan kesehatan, dan kehidupan bebas dari diskriminasi. Lebih dari itu, KBH mendorong individu untuk menjadi advokat bagi diri mereka sendiri dan orang lain, mempromosikan sebuah lingkungan yang lebih inklusif dan adil.KBH juga menekankan pentingnya keterlibatan sosial. Ini mencakup membantu individu yang terstigma untuk mengembangkan jaringan sosial yang mendukung, berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Keterlibatan ini tidak hanya mengurangi isolasi sosial tetapi juga membantu membangun pemahaman dan penerimaan yang lebih besar dalam masyarakat secara keseluruhan.

 

Langkah Menjadi Konselor Sesama

Bagi yang tertarik menjadi konselor sesama, perjalanan dimulai dengan dua langkah kunci: mengenal diri dan mengakui diri. Ini bukan hanya tentang memahami identitas dan ciri fisik serta non-fisik, tetapi juga tentang menerima, menghargai, dan melibatkan diri dalam pengalaman mereka. Hal ini penting tidak hanya untuk pertumbuhan pribadi tetapi juga untuk mempersiapkan mereka dalam mendukung orang lain melalui konseling. Melalui proses ini, para calon konselor belajar untuk mengenali kekuatan dan kelemahan mereka sendiri, serta bagaimana pengalaman pribadi mereka dapat memengaruhi pendekatan mereka dalam membantu orang lain. Selain itu, mengakui dan menerima diri sendiri juga membantu dalam membangun hubungan yang kuat dan dipercaya dengan klien, karena keterbukaan dan kejujuran tentang diri sendiri membantu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi klien untuk berbagi dan tumbuh. Dengan demikian, langkah pertama dalam menjadi seorang konselor yang efektif adalah memahami diri sendiri dengan baik dan mengakui keunikan serta batasan yang dimiliki..

 

Mengatasi Stigma

Stigma yang seringkali berakar pada informasi yang salah dan persepsi negatif, merupakan salah satu masalah sosial yang menyebabkan dampak yang serius, termasuk diskriminasi dan pengucilan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada tingkat personal, tetapi juga mencakup dampak yang lebih luas terhadap kehidupan sosial dan ekonomi individu. Stigma ini berpotensi mengakibatkan individu kehilangan hak-hak mereka dan menghambat partisipasi penuh dalam masyarakat. Pendekatan konseling sesama bertujuan untuk memperkuat individu yang terstigma dengan memberikan dukungan yang berbasis pada pengalaman yang serupa. Melalui percakapan dan keterlibatan langsung dengan mereka yang telah mengalami perjuangan serupa, individu yang terstigma dapat merasa didengar, dipahami, dan didukung secara emosional. Hal ini dapat membantu mereka merasa lebih kuat dalam menghadapi tantangan dan membangun rasa percaya diri yang diperlukan untuk mengatasi stigma yang ada. Selain itu, pendekatan konseling berbasis hak menekankan pentingnya pemahaman akan hak-hak individu dan upaya untuk mengembalikan martabat serta memastikan partisipasi penuh dalam masyarakat. Melalui edukasi dan peningkatan kesadaran akan hak-hak tersebut, individu yang terstigma dapat memperoleh alat yang diperlukan untuk melawan diskriminasi dan memperjuangkan keadilan. Dukungan emosional yang diberikan dalam konteks konseling berbasis hak juga membantu individu untuk merasa lebih didukung dalam proses memperjuangkan hak-hak mereka.

 

Pentingnya pendekatan konseling sesama dan berbasis hak tidak hanya terletak pada membantu individu yang terstigma secara individual, tetapi juga dalam membentuk persepsi masyarakat secara keseluruhan. Dengan meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan isu-isu stigma, pendekatan ini berpotensi untuk mengubah budaya dan norma sosial yang mendukung diskriminasi. Melalui edukasi dan pembangunan pemahaman yang lebih baik, masyarakat dapat menjadi lebih inklusif dan mendukung terhadap individu yang terstigma, menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi semua orang.

 

Kesimpulan

Dalam dunia yang sering kali tidak memahami atau bahkan menolak perbedaan, konseling sesama dan pendekatan berbasis hak menawarkan sebuah jalan menuju pemulihan dan penerimaan diri. Melalui berbagi pengalaman dan dukungan, mereka yang terkena dampak penyakit kronis dan difabel dapat menemukan kekuatan untuk menghadapi stigma, membangun kembali kehidupan mereka, dan mengklaim kembali hak-hak mereka sebagai individu yang berharga dan berkontribusi dalam masyarakat. Ini adalah bukti kuat dari kekuatan empati, pengertian, dan komunitas dalam menghadapi tantangan hidup.

 

Dengan demikian, pendekatan konseling sesama dan berbasis hak bukan hanya merupakan upaya untuk membantu individu mengatasi stigma dan memperjuangkan hak-hak mereka, tetapi juga merupakan langkah penting menuju perubahan sosial yang lebih luas. Melalui upaya bersama untuk membangun pemahaman, dukungan, dan kesadaran, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil bagi semua orang.[]

 

Penulis: Apipudin

Editor       : Ajiwan Arief

 

 

Daftar Pustaka

Pedoman Konseling Kusta. Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011.

 

Goffman, Erving. (1963) Stigma; notes on the management of spoiled identify Englewood Cliffs, N.J., Prentice-Hall

 

Lusli,M.,et.al.(2017). Development of a Rights-Based Counseling Practice and Module to Reduce Leprosy-Related Stigma and empower People Affected by Leprosy in Cirebon District, Indonesia (Doctor’s thesis). Vrije Universiteit, Amsterdam.

 

 

Lusli,M.,et.al. (2015). Lay and Peer Counsellor to Reduce Leprosy-Related Stigma – Lesson Learnt in Cirebon, Indonesia. (Doctor’s thesis). Vrije Universiteit, Amsterdam.

 

 

Prayitno dan Amti, Erman. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rieka Cipta.

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air