en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Foto Bayu Dwityo Wicaksono

Mengenal Figur Bayu Dwityo Wicaksono

Solidernews.com – Pertama kali penulis mengenal Bayu adalah pada saat istri penulis memberitahukan cuitan viral di twitter yang isinya adalah tentang cerita individu autisme yang terdiagnosis pada saat usianya 30 tahun. Pada saat mendengar kabar tersebut tentu saja langsung mengundang rasa ingin tau penulis yang juga merupakan individu autistik untuk membacanya. Pada saat waktunya telah tiba, penulis mulai membaca cuitan di twitter yang dimaksud kemudian menelusuri lebih jauh tentang sosok Bayu di Internet.

 

Pada saat penulis membaca cuitan di twitter tersebut, tentu saja penulis menggunakan pengalamannya  sebagai individu autistik dan pengetahuan yang penulis dapat sebagai mahasiswa S1 jurusan psikologi untuk menganalisis logis atau tidaknya pemaparan dari Bayu. Berdasarkan hasil analisis penulis, ada kesimpulan bahwa pemaparan Bayu sangat logis. Dari tulisan tersebut kemudian penulis mencoba untuk menelusuri sosok Bayu secara lebih mendalam lagi. Penulis mencari semua jejak terkait Bayu yang ditinggalkan di internet mulai nama lengkap, kota kelahiran, Riwayat pekerjaan dan hal-hal lainnya. Namun dalam tulisan penulis hanya menjabarkan hal hal penting saja, berikut adalah hasil dari penulusuran penulis di internet terkait sosok Bayu.

 

Hasil penelusuran penulis di internet terkait sosok Bayu

Bayu merupakan individu kelahiran Malang, Kuliah di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) jurusan Teknik Industri. Bayu memiliki kemampuan yang sangat bagus dalam hal tata kelola Bahasa dan mengoptimalisasi penggunaan sosial media. Hal ini terbukti dengan banyaknya prestasi yang diraih Bayu yang memerlukan kemampuan tersebut. Contohnya yaitu juara pertama lomba jurnalistik tingkat nasional yang diadakan oleh Microsoft, juara pertama lomba menulis tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Samsung galaxy notes 9, dan masih banyak penghargaan lainnya. Selain banyaknya prestasi yang diperoleh, Bayu juga merupakan individu dengan tingkat kecerdasan diatas rata rata. Dalam cuitan twitternya, Bayu menyebutkan bahwa hasil tes IQ yang ia dapat dari psikolognya adalah 132 atau setara dengan orang genius. Bayu saat ini bekerja sebagai social media assistant di United Nation.

 

Dari penjabaran yang sudah dikemukakan penulis, pembaca dapat melihat bahwa Bayu merupakan sosok cerdas dengan latar belakang pendidikan yang bagus dan bekerja di tempat yang diimpikan banyak orang. Namun alasan penulis ingin menulis tentang sosok Bayu bukan hanya karena dia merupakan individu autisme yang sukses kehidupannya. Alasan penulis menulis sosok Bayu adalah karena dia memiliki kontribusi besar dalam mengadvokasi seputar isu autisme, khususnya advokasi yang di lakukan di beragam platform online. Berikut adalah jejak-jejak advokasi di platform online yang sudah Bayu lakukan.

 

Mengadvokasi isu autisme dengan menggunakan beragam sosial media dengan akun pribadi

Kemampuannya mengelola kata-kata dan mengoptimalisasi sosial media membuat advokasi seputar autisme yang dilakukannya menjadi lebih efektif dengan beberapa alasan.

 

Alasan pertama, Bayu memiliki jumlah pengikutnya di beragam sosial media cukup banyak. Untuk instagramnya sendiri jumlah pengikut yang tercatat hingga saat ini adalah sekitar 28.700. sedangkan jumlah pengikutnya di tiktok sekitar 28.300. Untuk twitternya memiliki jumlah pengikut 3.429.

 

Alasan kedua adalah karena kemampuan yang ia miliki membuat konten-konten yang dibuatnya memiliki jumlah penonton dan komentar yang tidak sedikit. Konten yang dibuat Bayu memiliki topik yang beragam namun masih membahas soal autisme berdasarkan pengalaman pribadinya. Adapun konten kontennya seperti diet yang ia lakukan sebagai individu autisme, hambatan yang dialaminya pada saat berada di tempat yang terlalu berisik, tempat makan rekomendasinya yang bahan makanannya aman untuk individu autistic yang alergi glutten, skin care yang aman untuk individu autistic, mengkaitkan minat khusus yang ia miliki dengan gejala autisme, bagaimana United Nation menyiapkan akomodasi bagi pekerja autistik dan masih banyak lagi topik-topik lainnya. Untuk videonya yang paling populer di Instagram feednya berjudul didiagnosis autisme di usia kepala 3. Videonya tersebut ditonton oleh 10.039 orang, dengan jumlah likes mencapai 514, dan memiliki 42 komentar. Sedangkan videonya yang paling populer di tiktok dengan judul yang serupa disaksikan oleh 4 juta penonton, di likes oleh 316.000 orang, dikomentari sebanyak 5.444 kali, disimpan oleh 42.600 orang, di share ulang sebanyak 22.400 kali. Untuk ceritanya di twitter yang paling popular yang ia cantumkan dalam bentuk thread di retweet oleh sekitar 4.000 orang, dikomentari oleh 187 orang, disukai oleh sekitar 15.000 orang.

 

Diundang beberapa platform media online untuk menceritakan kisahnya

Viralnya kabar tentang Bayu yang mengidap autisme diusia 30 tahun membuat beberapa platform media online ingin menuliskan tentang Bayu. Ada juga beberapa platform pemberitaan online yang ingin menanyai lebih lanjut tentang autisme yang dialaminya dengan melakukkan wawancara yang dimuat di youtube platform pemberitaan online tersebut.

 

Contohnya seperti platform media online dalam bentuk tulisan yaitu detikhealth dengan judul “Dibully Gegara Gesture ‘Bencong’ yang Ternyata Gejala Autis, Pria Ini Beri Pesan”. Pada tulisan tersebut, ia ingin memberitahukan bahwa gesture bencongnya berdasarkan keterangan dari pakar yang memeriksanya merupakan cara stimming Bayu yang merupakan salah satu ciri-ciri autisme. Selain itu ia memberi pesan bahwa apabila individual non autisme tidak suka dengan gesturenya tersebut maka lebih baik untuk memberinya teguran daripada harus dirundung seperti yang sudah ia alami selama ini.

 

Sedangkan untuk platform media online dalam bentuk video, Bayu diundang oleh beberapa pihak yang berbeda. Untuk pihak yang memiliki channel youtube Rumah Terapi dan Homeschool TML, Cameo Project dan Tribun network lebih banyak menanyakan soal bagaimana cerita Bayu dari awal kehidupannya sampai ia didiagnosis berusia 30 tahun. Sedangkan untuk channel diary Uwais dan live Instagram doktorpsikologiubaya lebih banyak memfokuskan pada topik tentang bagaimana pikiran dan perasaan individu dewasa autisme. Jumlah orang yang menonton pada platiform tersebut rata rata mencapai 1.000 penonton. Tentu saja jumlah penonton pada setiap platform video yang berisi kisah autismenya bisa ditonton oleh banyak orang dikarenakan Bayu mengetahui bagaimana cara mempromosikan video yang memuat tentang dirinya di sosial media pribadi yang ia miliki.

 

Pesan penulis kepada pembaca

Berdasarkan penjabaran penulis terkait figure Bayu, pembaca yang budiman dapat melihat betapa hebatnya dampak platform online untuk melakukan advokasi. Pembaca juga dapat melihat bagaimana perkembangan teknologi membuat cara untuk mengadvokasi menjadi lebih bervariatif. Advokasi yang dulu harus terjun ke lapangan sekarang bisa melalui platform online. Bahkan, apabila platform online dimanfaatkan semaksimal mungkin maka bisa saja advokasi online yang dilakukan hanya memerlukan biaya yang lebih sedikit namun memiliki dampak yang lebih luas.

 

Reporter: Rahmat Fahri Naim

Editor      : Ajiwan Arief

 

Biodata penulis

Rahmat Fahri Naim merupakan individu autistic dan narkolepsi dewasa di Indonesia. Saat ini tergabung di Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia. Ia memiliki minat untuk mendalami isu isu Invisible Difability atau yang dalam Bahasa Indonesianya disebut difabel tak kasat mata. Penulis bisa dihubungi melalui akun r_fahri_n yaitu id instagramnya.

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air