Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Mendengarkan Dengan Empati Untuk Kamu yang Saat ini Sedang Depresi

*artikel ini berpotensi menjadi trigger bagi Anda yang memiliki pengalaman terkait perbuatan bunuh diri. Jika tidak nyaman maka skip saja.

 

Solidernews.com – Akhir-akhir ini kita banyak dikejutkan oleh berita-berita tentang kasus bunuh diri. Hal ini tentu sangat memprihatinkan sebab sebagai manusia ketika dihadapkan pada banyak masalah, kemudian seolah-olah, bunuh diri menjadi satu-satunya jalan keluar. Erat hubungannya dengan isu kesehatan mental, tak bisa dipungkiri, banyak di sekeliling kita yang malu atau sungkan untuk berbicara dan tak sedikit pula yang tidak mau mendengarkan ketika ada yang berkeluh-kesah atau sekadar ingin bercerita tentang problem yang dihadapinya.

 

Lantas bagaimana terkait aksi mendengarkan? Dalam siaran IG Live, drm Lahargo Kembaren, Sp.KJ dipandu  illyana Widodo, seorang coach dan pastor, banyak berbicara terkait isu kesehatan jiwa dan bagaimana teknik-teknik mendengar. Menurut dr. Lahargo,  aktivitas mendengarkan dengan empati laiknya memberikan ventilasi. Beberapa orang mendengar dan ingin cepat-cepat menasihati kemudian keluarlah ayat-ayat. Mereka tidak tahu ada apa di balik cerita yang disampaikan.  Lalu teknik yang bagaimanakah untuk menjadi pendengar yang aktif dan berempati?

 

Caranya dengan mengalihkan kontak alias fokus ke mata sebab dalam istilah bahasa Inggris ada hearing dan listening, badan maju ke depan kemudian  mengulang kalimat terakhir yang dia bicarakan, dengan aktif dan berempati tanpa menengok ponsel, posisikan diri pendengar ini pada dia yang punya pemikiran ingin mati, stress, tidak nyaman, Jadi bisa disarikan bahwa sikap validasi penting untuk merasakan sedih, pahit, kecewa, dengan mengatakan “oke, boleh kok,” Membiarkan perasaan itu hadir dan jangan membohongi perasaan.

 

Berbagai wahana “ventilasi” antara lain adalah journaling, menulis di buku harian atau di note, curhat ke teman, mendengarkan musik, dan meregulasi emosi dengan berbagai teknik misalnya butterfly hug dengan berbicara terhadap diri sendiri,”tenang, ini semua akan berlalu.” atau dengan metode nafas 4-7-8, empat hitungan mengambil nafas, tujuh hitungan menahannya dan delapan hitungan mengeluarkan nafas pelan-pelan.

 

Menurut dr. Lahargo teknik grounding juga menyenangkan, dengan mendengar suara-suara di sekitar, melihat pemandangan di dekatnya, berjalan di taman yang banyak oksigen, mengecap makanan yang disukai. Ini biasanya orang menyebutnya mindfulness. Upaya terakhir adalah pergi ke profesional seperti psikolog, konselor, perawat jiwa, atau psikiater dengan tidak lupa untuk notice “The Power of Others” sebab menyadari bahwa kita semua rapuh dan memiliki keterbatasan.

 

Lantas pertanyaan dilontarkan, kapan waktunya ke psikolog dan kapan ke psikiater? Jawabannya adalah siapa yang paling mudah dijangkau dan nyaman. Sebab seorang psikolog dan seorang  psikiater pekerjaannya bersinergi dan kolaborasi. Maka ada sistem referal atau rujukan. Dan tidak ada yang lebih hebat karena masing-masing memiliki kompetensi. Alias jangan malah semakin menyendiri. Sebab  di luar sana ada juga yang siap mendampingi seperti para pelayan di gereja, pendamping serta komunitas.

 

Manusia ada beberapa dimensi yakni sebagai fisik, mental, spiritual, oleh karenanya pendekatannya adalah holistik. Bahwa dalam keadaan seseorang depresi itu ada neurotransmitter, ada zat serotonin yang sedang bermasalah dan membutuhkan obat anti depresan. Artinya jika ada label yang bilang meminum obat bikin ketergantungan itu tidak benar.  Seorang psikiater akan memberikan obat sesuai yang dibutuhkan pasien. Jadi kata-kata “ketergantungan” itu mitos. Jika datang ke psikolog atau konselor maka akan diubah perspektifnya kepada perubahan memandang hidup itu seperti apa. Jadi inilah yang disebut holistik bahwa area spiritualitas itu kepada Tuhan, dengan psikolog akan dilakukan  terapi misal CBT dan untuk urusan kimiawi otak adalah psikiater.

 

Lantas bagaimana jika kita menemukan  seseorang yang tertutup atau tidak mau bercerita sama sekali? Jawabnya jika ia memperlihatkan  perilaku yang membahayakan untuk melukai orang lain atau diri sendiri atau bahkan ada percobaan bunuh diri maka langsung dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan perawatan agar segera pulih. Dengan kata lain untuk mengingatnya yakni tiga kata : LOOK, LISTEN, LINK.

 

Kemudian apakah kecenderungan  bunuh diri  bisa menurun? jawabnya adalah bunuh diri punya faktor genetik jika di dalam keluarganya juga ada yang melakukan hal sama. Ini perlu diwaspadai bukan untuk takut tetapi lebih aware. Sebab hal ini juga terkait dengan bagaimana pola asuh orangtua, yang memunculkan istilah-istilah nge-tren saat ini seperti generasi strawberry, mental breakdown, meski istilah-istilah tersebut banyak yang tidak setuju sebab terkesan memberikan stigma.

 

Bagaimana jika Anda punya masa lalu yang kurang mendukung? jawaban menurut dr. Lahargo adalah setiap orang memiliki masa lalu dan tidak bisa diubah namun diambil lesson learn-nya atau janganlah menjadi orang yang terlalu cemas atau overthinking melihat masa depan sebab hari ini kita hidup di masa saat ini, “here and now”.

 

Beberapa tips bisa dibagikan agar perlu lebih  aware bagi komunitas, lembaga gereja, lembaga spiritual yakni perlu adanya support system untuk selalu hadir menjadi pendamping dan memberikan dukungan penuh karena orang-orang yang kita temui sedang berjuang. Safe support system’ itu dengan mendengarkan dan tidak menghakimi. Awarness penting sebab support sistem akan memberikan edukasi misalnya bahwa kesehatan mental itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

 

Sebagai pengetahuan, bahwa di Indonesia saat ini ada sekitar 1200 psikiater, dan terapi serta konsultasi ditanggung oleh BPJS Kesehatan.[]

 

Reporter: Astuti

Editor     : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air