Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Mempertanyakan Penggunaan Accessibility Widget di Website

Solidernews.com – Belakangan ini, seiring semakin meningkatnya gerakan untuk mendorong aksesibilitas digital, semakin banyak orang memperhatikan aksesibilitas website dan konten media sosial. Sebagai staf di layanan disabilitas di sebuah perguruan tinggi, saya tentu juga mempelajari bagaimana difabel dari berbagai ragam mengakses konten, buku, atau informasi digital. Karena tempat di mana saya bekerja menyediakan layanan kepada nyaris semua ragam difabel, saya pun turut harus mengetahui bagaimana memberikan layanan yang mencakup semua ragam difabel. Akhirnya, saya secara tidak langsung berkenalan dengan desain universal di dunia digital, Web Content Accessibility Guideline, dan hal lain yang terkait.

 

Sebelum saya melangkah lebih lanjut dalam tulisan ini, saya ingin bercerita terlebih dahulu mengenai diri saya. Hal ini penting untuk memperjelas konteks pengetahuan, pengalaman saya, dan pertanyaan yang ingin saya ajukan sebagaimana tercantum di judul tulisan ini.

 

Perama, saya bukan difabel. Saya bekerja di layanan disabilitas di perguruan tinggi dan setiap hari berinteraksi dengan difabel, baik dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Secara tidak langsung saya sedikit banyak mengerti pengalaman difabel mengakses informasi digital. Meskipun bukan pengalaman personal saya, saya cukup cerewet bertanya soal bagaimana screen reader bekerja, bagaimana screen magnifier digunakan teman-teman difabel low vision, atau sejauh mana besaran rasio juru bahasa isyarat di televisi yang mudah terlihat oleh teman-teman Tuli, atau berapa durasi standar dan jumlah kata masing-masing potongan subtitle/caption agar mudah dibaca.

 

Jadi, pengetahuan saya tentang aksesibilitas digital hanya hasil belajar secara mandiri. Begitu pula pengalaman yang saya pahami adalah pengalaman tangan kedua dari difabel.

 

Kedua, dalam pengalaman saya belajar bagaimana membuat website aksesibel kepada teman-teman difabel dari berbagai ragam, awalnya saya bertemu dengan pelatihan yang diselenggarakan UNICEF tentang aksesibilitas digital. Lalu pengembaraan saya berlanjut ke pelatihan yang dikelola oleh Utah State University, WAVE WebAIM, dan Universal Design Australia. Di tahapan-tahapan tersebut, saya tidak pernah menemukan saran agar menggunakan accessibility widget di website.

 

Untuk itu, dengan penjelasan pertama dan kedua di atas, saya jadi bertanya-tanya, apakah accessibility widget yang dipakai di website-website benar-benar dapat membuat website aksesibel kepada difabel?

 

Penggunaan Accessibility Widget

Accessibility widget yang saya maksud adalah aplikasi tambahan pada website yang menyediakan fitur-fitur seperti penyuara teks, penyesuai tampilan website dari segi warna dan tipografi, dan lainnya yang dapat dimanfaatkan difabel  untuk mengakses website tersebut sesuai preferensi pengguna. Saat ini, accessibility widget banyak digunakan di website pemerintah, seperti di website Kominfo dan di website Solider News ini. Accessibility widget yang umum saya temui adalah produk Userway. Selain Userway, mungkin ada pula plugin dengan fungsi yang senada namun berbeda nama.

 

Saya penasaran, apakah widget tersebut benar-benar berguna pada pengguna difabel?

 

Bukankah difabel memang menggunakan fitur-fitur serupa yang merupakan bawaan dari gawai mereka sendiri seperti Voice Over di IOS atau TalkBack di Android, atau yang memang diinstall di laptop seperti JAWS dan NVDA? Baik pengguna IOS atau Android, atau Windows dan MacOS pada laptop, fitur aksesibilitas yang lengkap dan mencakup banyak ragam difabel telah tersedia dan dari sanalah difabel menyesuaikan sesuai kebutuhan mereka.

 

Pertanyaan tersebut pernah saya ajukan kepada teman-teman difabel saya di kampus, baik mereka dari kalangan mahasiswa atau tenaga kependidikan. Jawaban mereka, mereka tidak menggunakan accessibility widget di website, karena mereka telah memiliki screen reader, screen magnifier, reduce motion, dan lainnya di gawai mereka sendiri-sendiri. Justru plugin tersebut kadang mengganggu.

 

Seorang teman difabel netra saya pernah bercerita bahwa ketika ia mengakses website Kominfo dan mencoba accessibility widget yang website tersebut sediakan, suara dari screen readernya dan dari widget tersebut menjadi ganda dan bertabrakan. Teman difabel netra saya tentu lebih memilih menggunakan screen reader bawaan ponselnya sendiri karena lebih bisa disesuai kecepatannya. Melalui screen reader bawaan tersebut dia juga menavigasi aplikasi, browser, dan menu di ponselnya.

 

Dalam kasus lain, salah satu teman Tuli mencoba mengakses website Kominfo dan mendapati bahwa website tersebut tersedia aplikasi yang mengonversi semua teks di website menjadi bahasa isyarat. Teman Tuli saya ini berkomentar, “Memangnya mereka pikir Tuli tidak bisa membaca sehingga semua teks yang tertera harus dibahasaisyaratkan? Yang perlu dibahasaisyaratkan atau disertai subtitle itu hanya konten audio atau video yang memuat informasi,” ucapnya disertai pesan yang jelas.

 

Selain dari pengalaman mereka secara langsung, saya sempat memeriksa secara semantik dan manual bagaimana aksesibilitas website yang disediakan accessibility widget. Website Kominfo, misalnya, tingkat aksesibilitasnya 77 dari nilai 1 sampai 100. Website tersebut kurang kontras di beberapa bagian, navigasi yang bermasalah, elemen Heading yang tidak sekuensial, dan tabel dan list yang bermasalah. Secara manual, beberapa tombol dan ikon website tersebut tidak terbaca dengan spesifik pada screen reader.

 

Website Solider, jika dites melalui Google Lighthouse, angka yang muncul adalah 89 pada kategori penialaian aksesibilitas dari rentang 1-100. Website ini kurang di bagian kontras warna dan link-link yang kurang jelas penamaannya. Angka 89 dari penilaian tersebut sebenarnya hampir mencapai ambang batas agar website Solider bisa kompatibel dengan berbagai teknologi pendukung aksesibilitas di gawai difabel.

 

Berdasarkan pengalaman dan tes secara semantik dan manual tersebut di atas, saya menyimpulkan bahwa accessibility widget tidak maksimal dalam mendorong aksesibilitas dan pengelola cenderung salah memahami aksesibilitas digital dan website.

 

Meskipun accessibility widget dapat diacuhkan, tidak digunakan, namun ia bermasalah dalam beberapa hal. Pertama, butuh biaya. Penggunaan accessibility widget berkisar di 490 dollar Amerika untuk website kecil. Kedua, penggunaannya memiliki kecenderungan bahwa pengelola kurang benar-benar memahami prinsip aksesibilitas digital dan user behaviour difabel dalam mengakses konten digital.

 

Awalnya, saya mengira bahwa website Solider tidak akan menggunakan accessibility widget karena di redaksi Solider banyak difabel yang saya tahu dan pernah bertemu secara langsung dalam beberapa kesempatan, meskipun mereka mungkin saja tidak mengenal saya. Keterlibatan difabel dalam tim redaksi sangat menguntungkan bagi media atau organisasi. Pelibatan difabel dalam web development, produksi konten, dan persebarannya, sangat penting untuk mendukung aksesibilitas digital.

 

Meskipun dalam tulisan ini saya menyimpulkan bahwa penggunaan accessibility widget cenderung keliru secara praktik dan teoretik untuk menyediakan akses kepada difabel dalam mengakses website, untuk menghindari penilaian yang bias sebagai nondifabel yang menggeluti aksesibilitas digital, pertanyaan saya tentang kebenaran fungsi widget tersebut tidak berubah: apakah penggunaan accessibility widget di website benar-benar mendukung aksesibilitas digital bagi difabel?[]

 

Oleh: Mahalli, Peneliti dan Staf di Subdirektorat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya

Editor    : Ajiwan Arief

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air