Views: 115
Solidernews.com. KONFERENSI Nasional Pendidikan Inklusi Indonesia yang diselenggarakan Forum Pendidik Inklusi pada Jumat (8/8) digelar secara hybrid sejak pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Acara ini mengusung tema “Membangun Support System yang Efektif untuk Pendidikan Inklusi” dan diawali dengan prosesi simbolis menyalakan lilin harapan. Satu lilin untuk semua anak Indonesia.
Hadir sebagai keynote speaker, Prof. dr. Paula Sterkenburg dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda. Ia adalah psikolog klinis dan profesor dengan fokus pada difabel visual dan intelektual, relasi sosial, kelekatan (attachment), serta penerapan teknologi informasi dalam perawatan dan intervensi. Dengan lebih dari 40 tahun pengalaman di bidang pendidikan dan terapi inklusi, Prof. Paula memadukan penelitian akademik dengan praktik nyata di Departemen Psikoterapi Bartiméus, Doorn, Belanda.
Hubungan dekat lebih berharga
Prof. Paula membuka paparannya dengan pertanyaan sederhana: “Apa yang membuat kita bahagia — uang, ketenaran, atau relasi sosial?” Berdasarkan penelitian global jangka panjang, jawabannya jelas: close relationship (hubungan dekat yang aman dan penuh kepercayaan) lebih berpengaruh terhadap kebahagiaan dan kesehatan dibandingkan uang atau ketenaran.
Hasil riset menunjukkan, orang dengan kedekatan sosial yang kuat tetap bahagia dan sehat hingga usia lanjut, bahkan lebih memiliki ketahanan menghadapi stres. “Kita diciptakan untuk hidup bersama, bukan sendirian. Kehadiran orang yang kita percayai membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan,” tegasnya.
Dalam konteks pendidikan inklusi, secure attachment: hubungan aman antara anak dengan guru atau pendamping, menjadi fondasi penting. Anak yang memiliki relasi aman merasa yakin bahwa dalam situasi sulit, akan ada orang dewasa yang hadir mendampingi. Hal ini membantu menurunkan tingkat stres dan mengatur sistem saraf, sehingga anak lebih siap untuk belajar.
Prof. Paula menampilkan studi kasus seorang remaja dengan multi difabel (Down Syndrome, buta dan tuli), yang awalnya menunjukkan perilaku menantang dan menyakiti diri. Melalui pertemuan konsisten tiga kali seminggu selama sembilan bulan, guru dan terapis membangun hubungan aman dengan pendekatan hangat dan penuh kesabaran. Hasilnya, perilaku destruktif berkurang drastis tanpa hukuman. Kuncinya ada pada hubungan dan co-regulation.
Melampaui pendekatan perilaku
Menurut Prof. Paula, modifikasi perilaku (behavior modification) atau positive behavior support saja tidak cukup memberikan perubahan jangka panjang jika tidak dibarengi hubungan emosional yang kuat. Perilaku bermasalah sering kali merupakan gejala dari keterbatasan keterampilan mengelola emosi atau trauma yang dialami anak.
Karena itu, pendekatan berbasis attachment menjadi langkah awal:
- Membangun hubungan aman (secure relationship).
- Co-regulation, pendidik menenangkan diri dan membantu anak menenangkan emosinya.
- Memberikan alternatif perilaku yang lebih adaptif sambil tetap melihat anak sebagai individu yang berharga.
Guru memiliki peran sentral dalam menciptakan support system yang efektif. Prof. Paula menekankan pentingnya:
- Struktur dan rutinitas yang jelas.
- Lingkungan belajar yang aman (safe environment).
- Nutrisi yang baik.
- Aktivitas fisik yang memadai.
- Sikap sensitif, empatik, dan responsif terhadap kebutuhan anak.
“Kadang, hanya butuh 10 menit mengikuti kemauan anak di awal pembelajaran untuk membangun koneksi, sebelum kemudian mengajak mereka mengikuti instruksi,” ujarnya.
Prof. Paula mengajak para pendidik untuk memandang anak bukan hanya dari perilaku yang terlihat, tetapi memahami latar belakang emosi dan pengalaman mereka. Dengan membangun hubungan aman, membantu regulasi emosi, dan memberikan ruang bagi perkembangan sesuai keunikan masing-masing, pendidikan inklusi dapat menjadi lebih efektif dan manusiawi.
“Hubungan adalah kunci. Saat anak merasa aman, ia akan terbuka untuk belajar,” tutup Prof. Paula.
Selanjutnya, ia menegaskan bahwa pemahaman dan praktik baik pendidikan inklusi tidak hanya penting bagi sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, tetapi juga bagi masyarakat luas, para pemangku kepentingan di bidang pendidikan, serta orang tua. Dengan begitu, ekosistem pendidikan yang setara dapat terbangun bersama, bukan hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga di tengah kehidupan sehari-hari.[]
Reporter: Harta Nining Wijaya
Editor : Ajiwan







