Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Sumber gambarhttps://www.youtube.com/watch?v=5Y1Pz7ucFVo (channel EagleAwards)

Melihat Sisi Lain Indonesia; Kusta Bukan Nista, Mereka Berhak Berdaya

Solidernews.com – Berdasarkan sumber data dari Kementerian Kesehatan pada Januari 2022 menyebut ada 13.487 pengidap kusta dan penemuan kasus baru pada 2021 mencapai 7.146 kasus. Sebanyak 15,4 persen pasien kusta mengalami kedifabelan  tingkat 1 atau 2 akibat keterlambatan penanganan penyakit. Jika dilihat dari jumlah pengidap kusta di Indonesia kurang dari 1 orang tiap 10.000 penduduk. Maka dari itu Indonesia menjadi negara urutan ketiga untuk kasus kusta di dunia.

 

Proses eliminasi kusta di Indonesia ditargetkan   mampu mencapai hasil pada  tahun 2024. Dari 37 provinsi di Indonesia, masih ada 6 provinsi yang  belum mencapai target prevalensi kurang dari 1 pengidap kusta dalam setiap 10.000 penduduk, yaitu Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Sementara jumlah kabupaten/kota yang belum dapat mengeliminasi kusta tersebar di 101 kabupaten/kota atau hampir 20 persen kabupaten/kota yang ada.

 

Penanganan kasus kusta tidak hanya menjadi penanganan yang berpokok pada masalah kesehatan namun juga berimbas pada masalah sosial, ekonomi, budaya. Hal ini merupakan imbas dari munculnya stigma atau diskriminasi yang ditujukan kepada pasien kusta atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) oleh masyarakat sekitar. Hal ini terjadi karena informasi yang kurang tepat diterima oleh masyarakat bahkan pemahaman yang salah terhadap penyakit kusta.

 

Film singkat berdurasi 18.32 menit, menampilkan pembuka dengan pernyataan soal kusta dari beberapa masyarakat. Ada yang menjawab kusta tentang Kandala istilah bahasa Makassar, ada juga yang menjawab penyakit menular, penyakit turunan, orang yang jadi peminta-minta di jalanan, dan penyakit menjijikkan. Scene masuk ke wawancara Muhammad Amin sebagai pendiri Permata (Perhimpunan Mandiri Kusta) Indonesia yang menceritakan pengalaman terkena kusta saat di bangku sekolah tingkat atas. Perlakuan kurang menyenangkan diterima dari sejak  sekolah bahkan saat Amin akan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil di kantor Gubernur  yang harus terpaksa gagal karena penyakit kusta.

 

Profil berikutnya Fatmawati, seorang OYPMK yang menceritakan terkena kusta saat usia remaja. Beliau tidak melanjutkan sekolah karena malu dengan sakit kusta. Fatmawati tinggal di daerah perkampungan kusta di Makassar. Keterangan gambar selanjutnya yakni ruangan dan pasien kusta di  RS Tajuddin Chalid, bangsal dengan pasien kusta yang menempati ruangan tersebut. Dokter Irawati Kesumaningsih selaku Fasilitator Pusat Latihan Kusta Nasional menyampaikan bakteri atau kuman kusta ini menular melalui saluran nafas dan kontak kulit yang erat lama. Kuman kusta tidak melalui makanan, pakaian, darah, atau air. Obat kusta tersedia gratis di puskesmas dan kusta dapat disembuhkan.

 

Perkampungan kusta merupakan tanah yang diberikan sejak jaman para raja untuk orang kusta. Muhammad Amin sebagai tokoh di sana menceritakan bagaimana susahnya OYPMK untuk mendapatkan hak-haknya (sekolah, bekerja, menikah). Permata hadir sebagai wadah dari OYPMK untuk memperjuangkan hak-hak bagi OYPMK agar terbebas dari stigma dan dikriminasi. Ditunjukkan satu adegan yang menampilkan empat orang sedang duduk bersama di depan rumah warna hijau, satu diantaranya menjawab kondisi saat kini dengan penyakit kusta yang dialaminya. ”Cacat tidak cacat yang penting hati kita tidak cacat” salah satu kalimat yang disampaikan oleh kawan Permata yang sedang memberikan semangat kepada OYPMK perempuan.

 

Adegan berlanjut tentang kegiatan Tim Peer to Peer Permata mendatangi salah satu pasien kusta di rumah sakit. Perbincangan mereka cukup dalam tentang kondisi salah satu pasien yang sudah tinggal selama dua tahun di rumah sakit. Keinginan untuk kembali ke kampung tetap ada, namun memikirkan kembali apakah bisa diterima kembali menjadi keresahan tersendiri. Gambar selanjutnya mengambil latar  kegiatan di kompleks Penderita Kusta di Jongaya. Amin dan tema-teman Permata Indonesia melakukan perjalanan dengan motor untuk menuju ke salah satu sekolah. Pelaksanaan edukasi saat itu berada di SMK Telkom Shandy Putra 1. Salah satu peserta menyampaikan bahwa konsep yang diterima tentang kusta selama ini kurang baik namun setelah adanya penyuluhan yang benar mengubah cara pandang tentang kusta. Al Qadri selaku OYPMK dan pengurus Permata menyampaikan bahwa untuk mengubah image dan pandangan tentang kusta sejak di bangku sekolah. “Kusta dapat masuk di kurikulum sekolah sehingga kita dapat mewujudkan Indonesia bebas kusta”.

 

Perasaan senang dan semangat disampaikan oleh Al Qadri karena bisa tinggal dan berbaur dengan OYPMK yang lain di Jongaya. Di scene tersebut, Al Qadri melakukan tugas di rumah dengan istrinya seperti keluarga pada umumnya, mencuci dan membersihkan rumah. Informasi juga disampaikan oleh Al Qadri tentang ragam pekerjaan dari warga di kampung Jongaya yakni sebagai buruh, tukang becak, tukang parkir, pengepul, dan pula yang memiliki kerajinan mebel. Menurutnya, bicara tentang kusta tidak hanya soal kesehatan dan sosial, namun semua elemen harus terlibat di dalamnya untuk mengambil bagian dalam penyelesaian masalah kusta.

 

Gambar berikutnya ke lokasi KPD (Kelompok Perawatan Diri) Jongaya di mana para pasien kusta atau OYPMK sedang  melakukan pembersihan dan perawatan luka di kaki dan tangan. Ada bantuan berupa alat bantu serta fasilitas yang diberikan KPD kepada pasien sesuai kebutuhan. Kalimat terakhir dari Fatmawati selaku pengurus KPD menyampaikan bahwa seseorang yang kena kusta jangan diam dan merenung tapi harus berusaha untuk bisa sembuh dan berdaya.

 

Menyaksikan film singkat hasil besutan sutradara Redjo Siwah yang diunggah pada channel Eagle Awards di Youtube, menambah wawasan tentang kusta yang ada di Indonesia. Perkampungan Jongaya yang dulu dikenal sebagai penampungan pasien kusta kini menjadi satu kampung yang cukup padat penduduk yang penghuninya berasal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Film singkat menyuarakan isu kusta tidak banyak didokumentasikan, sehingga film ini menjadi salah satu sajian yang informatif bagi masyarakat. Melalui Film Melihat Indonesia: Kusta Bukan Nista,  penonton diajak untuk merasakan suasana asli kampung Jongaya, kegiatan sehari-hari dari penduduk, serta kegiatan aktor-aktor kusta yang membawa perubahan dalam eleminasi kusta.

 

Sebagai masyarakat awam yang tidak pernah menemukan kampung kusta sebelumnya, saya membayangkan bagaimana sakit dan sedih apabila mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, harus dikucilkan, bahkan harus tinggal jauh dari keluarga akibat kusta. Hadirnya organisasi Permata Indonesia di Jongaya, mampu secara masif  memperjuangkan hak-hak OYPMK dan melakukan edukasi ke sekolah atau kelompok masyarakat tentang kusta secara benar. Perjuangan dan semangat bertahan hidup ditampilkan dari para anggota Permata Indonesia yang tidak hanya merubah nasib diri saja, tentu memperjuangkan cita-cita Indonesia terbebas dari kusta.[]

 

 

Sumber video : https://www.youtube.com/watch?v=5Y1Pz7ucFVo

Penulis                       : Erfina Cahyanti

Editor                         : Ajiwan Arief

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air