Views: 17
Solidernews.com, Yogyakarta – Di tengah arus informasi yang kian deras akibat gempuran media sosial dan kecerdasan buatan (AI), organisasi difabel dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang besar. Bagaimana media komunitas bisa tetap relevan dalam mengadvokasikan hak-hak difabel, dan mungkinkah isu ini menembus tembok tebal media arus utama yang berorientasi pada profit? Pertanyaan-pertanyaan krusial ini menjadi benang merah dalam Webinar #15 yang digelar oleh Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia bersama CBM Global Disability Inclusion.
Dengan mengusung tema “Peran Strategis Media dalam Mendorong Publikasi, Advokasi, dan Penguatan Organisasi Difabel”, Senin (29/9) yang menghadirkan dua narasumber dari dunia media yang berbeda yaitu Robandi dari media komunitas Solidernews dan Cheta Nilawaty, seorang jurnalis Tempo.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Gerakan Optimalisasi Organisasi Difabel (GOOD) yang bertujuan memberdayakan organisasi difabel dalam mendorong pemenuhan hak-hak mereka.
Robandi dari Solidernews membuka sesi dengan memaparkan lanskap media yang telah berevolusi secara drastis. Ia memetakan perjalanan konsumsi informasi manusia, mulai dari era media tradisional di mana audiens pasif, berlanjut ke era internet awal yang memungkinkan pencarian aktif, kemudian masuk ke era media sosial dan algoritma di mana konsumsi didikte oleh feed, hingga kini memasuki era AI dan agentic media di mana asisten digital mengambil alih penyajian informasi.
“Informasi akan membanjiri di era AI,” tegas Robandi, menggarisbawahi tantangan baru yang dihadapi media komunitas. Menurutnya, media difabel sering kali menghadapi kendala internal yang kompleks, mulai dari ketertinggalan dalam proses advokasi, kapasitas sumber daya manusia yang terbatas, hingga minimnya jejaring yang membuat mereka sulit mendapat ruang dalam sirkulasi informasi.
Menyajikan data terkini, Robandi menunjukkan bahwa dengan penetrasi internet Indonesia yang mencapai 80.7%, platform berbasis video seperti YouTube telah menjadi sumber rujukan berita utama bagi 31% responden global. Untuk menjawab tantangan sekaligus memanfaatkan peluang ini, ia merekomendasikan sebuah strategi yang berfokus pada pelatihan jurnalistik untuk meningkatkan kapasitas, kolaborasi strategis dengan berbagai pihak untuk memperkuat advokasi, serta dukungan pengembangan dan pendanaan untuk menjamin keberlanjutan.
Cheta Nilawaty dari Tempo memberikan perspektif dari luar dengan membedah logika media arus utama (mainstream). Ia menjelaskan bahwa media arus utama pada dasarnya berorientasi pada bisnis dan profit, sehingga cenderung menyajikan isu-isu umum yang laku di pasar.
“Media arus utama tidak bisa menyajikan isu-isu khusus,” ujarnya, menjelaskan mengapa isu difabilitas sulit mendapat tempat. Saat ini, menurut Cheta, isu difabilitas yang berhasil masuk ke media arus utama sering kali dibingkai dalam tiga kategori: kesejahteraan sosial, olahraga, dan kesehatan.
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kecenderungan untuk membingkainya sebagai isu amal (charity). “Difabel sebagai subjek charity adalah kesalahpahaman dan stigmatisasi yang disengaja. Media arus utama membacanya sebagai sebuah hal menarik yang dapat menarik pembaca,” ungkapnya.
Meski pintu terlihat sempit, Cheta membagikan strategi jitu agar suara difabel bisa didengar. Organisasi difabel harus cerdas mencari “cantolan isu”, yaitu mengaitkan isu difabel dengan topik hangat yang sedang menjadi perbincangan publik. Selain itu, penyajian informasi harus berbasis pada jurnalisme yang kuat. Artinya informasi memerlukan basis data yang kuat.
Cheta menekankan bahwa kredibilitas adalah segalanya. Ia mendorong para pegiat isu difabel untuk menjadi “the barking dog“, yaitu pihak yang kritis terhadap fakta di lapangan. Alih-alih hanya mengandalkan emosi, advokasi melalui media harus didukung oleh data, riset, dan fakta yang solid.
“Kunci media mainstreaming adalah penulisan fakta, tidak boleh ngarang, tidak boleh mengandalkan emosi atau hati nurani. Fakta itu mendekati kenyataan, 5W 1H,” pungkasnya.
Menurutnya, momentum ini bisa diartikan sebagai panggilan untuk jurnalisme yang faktual dan kritis ini menjadi arahan yang jelas bagi organisasi difabel. Tidak hanya menceritakan kisah mereka, tetapi juga untuk menjadi sumber informasi yang tak terbantahkan dan tepercaya, yang bahkan tidak dapat diabaikan oleh media arus utama sekalipun.[]
Reporter: Bima
Editor : Ajiwan




