Views: 13
Solidernews.com – Difabel mental dan psikososial masih diperlakukan diskriminatif. Hal itu muncul saat sesi diskusi pada kegiatan KPSI Solo Raya bersama Program Gerakan Optimalisasi Organisasi Difabel (GOOD) SIGAB Indonesia yang didukung CBM Global mengadakan pelatihan atau lokakarya penyusunan Renstra organisasi di hari ketiga, Minggu (20/7). Pengakuan dari beberapa orang difabel psikososial terkait peminggiran atau diskriminatif masih ditemui, sebagian besar dilakukan oleh pemangku kebijakan atau pemangku kewajiban yakni unsur pemerintah, juga di kalangan pelaku usaha.
Seperti diungkapkan oleh Ami, dirinya belum lama ini mendapatkan undangan secara lisan dari sesama pegiat isi difabel untuk datang di sebuah acara yang dihelat oleh kementerian, datang sebagai personal asisten difabel berkursi roda, sebagai representasi dirinya yang seorang difabel psikososial. Namun, kemudian ia menemukan undangan yang sudah jelas tertulis permintaan hanya bagi difabel fisik dan sensorik saja (tanpa melibatkan difabel mental dan psikososial) telah menciderainya.
Menurut Ami, penolakannya itu adalah bentuk sikap agar panitia paham bahwa, persoalan seperti itu ke depan tidak terulang. Menurutnya, pihak penyelenggara belum memahami benar terkait keberadaan difabel mental dan psikososial. “Ini jadi PR besar, karena setingkat kementerian masih abai,”ujarnya.
Pengalaman pengabaian pada difabel mental psikososial juga dialami Dea yang suatu hari melakukan pendaftaran pelatihan keterampilan kecantikan yang diadakan oleh sebuah dinas. Pada saat sesi wawancara, ia diperlakukan berbeda karena dicecar dengan lebih banyak pertanyaan oleh petugas, berbeda dengan peserta lainnya. Petugas bertanya terkait hambatan yang dialaminya dan itu Dea bisa menjawab bahwa itu bisa diatas dengan terapi karena pada saat wawancara ia sudah pulih. Dea merasa lebih dipinggirkan lagi karena pada hasil akhir, ia tidak diterima dalam pelatihan tersebut.
Pengakuan lain juga disampaikan Tumi, yang_ lagi-lagi_menjalani wawancara pelatihan namun ditolak ketika pewawancara mengetahui dirinya seorang difabel psikososial. “Saya dan beberapa teman yang bersemangat ikut pelatihan kerja, ditolak begitu menulis jenis difabel kami. Padahal beberapa teman sudah ada yg merintis usaha dan sudah pulih,”ungkap Tumi.
Hal-hal demikian menjadi catatan saat pelatihan bahwa masih ada “pekerjaan rumah” bagi KPSI Solo Raya untuk memasukkan program pelatihan advokasi dan mainstreaming disabilitas kepada para pemangku kebijakan pada rencana strategis yang disusun untuk kegiatan lima tahun ke depan.
Selain itu, ada terdapat PR juga terkait wacana kolaborasi kegiatan pelaksanaan program misalnya kerja sama dengan dinas kesehatan dengan program Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) yang melibatkan tim KPSI Solo Raya dalam mengedukasi masyarakat.[]
Reporter: Astuti
Editor : Ajiwan




