Views: 17
Solidernews.com, Yogyakarta. UJI coba Malioboro full (red_sepenuhnya) menjadi Kawasan pejalan kaki atau pedestrian, kembali digelar pada 1–2 Desember 2025. Selama dua hari penuh, kawasan ini ditutup untuk kendaraan bermotor mulai pukul 08.00 hingga 24.00 WIB. Uji coba juga diramaikan dengan agenda budaya bertajuk “Malioboro Cultural Vibes” (red_gelaran budaya Malioboro). Pemerintah menyebut skema ini sebagai penyempurnaan dari uji coba sebelumnya.
Pertanyaan penting menggantung. Bagaimana pengalaman difabel fisik ketika harus turun di tengah kerumunan besar? Dengan jarak titik parkir dengan lokasi yang jauh, serta fasilitas yang belum sepenuhnya aksesibel?
Selama uji coba, kantong parkir resmi berada di enam titik. Di antaranya: Ngabean, Senopati, TKP II Malioboro, Beskalan, Ketandan, dan Menara Kopi Kotabaru. Semua titik berjarak cukup jauh dari pusat Malioboro. Jarak yang mungkin biasa bagi orang tanpa hambatan fisik. Namun menjadi tantangan berat bagi pengguna kursi roda, kruk, tongkat, atau mereka yang mobilitasnya terbatas.
Hal ini dikonfirmasi langsung dengan para difabel yang mencoba mengakses Malioboro. Trimah dan Rini Rindawati. Keduanya difabel fisik, berjenis kelamin perempuan. Trimah, dia terlahir tanpa kedua pergelangan lengan. Sedangkan Rini Rindawati pengguna dua krug penyangga tubuh.
Kepada solidernews.com Trimah menuturkan, bahwa dirinya sudah dua kali mencoba datang ke Malioboro pada masa uji pedestrian. Kedatangan pertama, menggunakan transportasi publik Trans Jogja. Karenanya, dia tidak perlu memikirkan parkir.
Kali kedua ia ke Malioboro bersama keluarga. Cukup bermasalah ketika itu. Ia tidak menemukan akses parkir yang dekat, kecuali kantong parkir yang jauh. Akhirnya Trimah, suami dan anaknya, terpaksa memanfaatkan parkir ilegal demi memangkas jarak yang tidak mungkin ditempuh.
Baginya, kondisi Malioboro yang padat membuat difabel dengan alat bantu gerak “sulit mengakses ketika crowded (ramai)”.
Sedangkan Rini Rindawati, pengguna kruk ganda, juga menyampaikan hal serupa.
Ia merasa nyaman-nyaman saja datang ke Malioboro. Asal, lanjutnya, tidak harus berjalan jauh. Tanpa kursi roda, jarak kantong parkir membuatnya kelelahan dan rawan cedera. “Saya harus beli kursi portable nih,” ujarnya.
Pada kondisi ramai, Rini mengaku mobilitasnya terancam. Ia bisa tersenggol, terjatuh, bahkan tanpa sengaja mencederai orang lain karena kruknya.
Pos dan tempat duduk
Kepada pemerintah, Trimah menyarankan adanya pos jaga khusus difabel setiap kali ada event besar. Pos seperti ini bisa menjadi tempat bantuan mobilitas, informasi, maupun pertolongan cepat bagi difabel yang kesulitan.
Sementara Rini menekankan dua kebutuhan mendesak. Yakni: kantong parkir difabel yang jaraknya realistis, dan bangku-bangku yang dapat diakses sepanjang Malioboro. Dengan begitu, difabel dapat beristirahat tanpa harus berdiri lama.
Rini juga mengatakan perlu membawa bangku portable (mudah dibawa) sendiri. Sebuah pilihan, yang menunjukkan betapa ruang publik belum menyediakan kebutuhan paling dasar bagi pengunjung difabel.
Bagaimana pula jika diagendakan ujicoba secara rutin? Jawaban keduanya beragam. Namun dengan satu benang merah. “Akses harus diperbaiki dulu,” seru keduanya.
Trimah bersedia datang jika kedatangannya dalam rangka evaluasi resmi, dengan tujuan memperbaiki layanan dan memberi masukan untuk difabel lain.
Sedang Rini, dia mengaku tidak masalah datang. Asalkan akses mudah dan tersedia tempat duduk yang memadai.
Keduanya menegaskan bahwa akses bukan soal dimanjakan. Melainkan soal kesempatan hadir sebagai warga kota yang setara.
Ruang bersama
Uji coba full (red_penuh) pedestrian memiliki banyak tujuan baik. Di antaranya: menekan emisi, menghidupkan budaya, dan membangun ruang publik yang lebih manusiawi. Namun ruang publik tidak akan pernah “untuk semua” bila sebagian warga harus mengandalkan parkir ilegal, melawan arus manusia, atau membawa kursi sendiri demi sekadar bisa berjalan.
Jika pemerintah berharap uji coba pedestrian menjadi rutinitas bulanan, maka uji coba aksesibilitas harus menjadi bagian tak terpisahkan. Bukan pelengkap.
Malioboro bukan milik wisatawan saja. Bukan hanya milik warga yang kuat berjalan jauh. Ia adalah ruang hidup bersama.
Pertanyaan akhirnya sederhana, namun menentukan. Siapkah Malioboro benar-benar menjadi kawasan pedestrian inklusif, hari ini, bukan hanya di perencanaan?[]
Reporter: Harta Nining Wijaya
Editor : Ajiwan








