Views: 7
Solidernews.com, Yogyakarta – Unit Layanan Disabilitas UGM menggelar Kelas Tahsin pada Kamis (6/3) lalu yang bertempat di kantor ULD. Kegiatan ini terwujud atas inisiasi beberapa mahasiswa difabel UGM. Selain bertujuan untuk mempererat solidaritas antar mahasiswa difabel, kegiatan ini juga membantu meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca Al-Qur’an.
Muhammad Irsyad, mahasiswa difabel netra yang tengah menjalani magang di ULD, menyampaikan bahwa kegiatan ini akan diselenggarakan secara rutin setiap hari Kamis selama bulan Ramadan di Kantor ULD UGM. “Kelas tahsin ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran, tetapi juga memperkuat ikatan kebersamaan di antara mahasiswa difabel UGM,” ujarnya.
Kegiatan ini secara khusus menyasar mahasiswa difabel dari berbagai fakultas di UGM. Pada pertemuan perdana, kelas tahsin dihadiri oleh enam mahasiswa dengan ragam disabilitas, termasuk fisik, netra, tuli, dan mental. Setelah sesi tahsin selesai, peserta juga diajak untuk melaksanakan sholat Tarawih berjamaah.
Menariknya, Kelas Tahsin ini menghadirkan Fadliah Sarita Rustam sebagai pemateri. Wanita yang akrab disapa Sari itu merupakan mahasiswa difabel mental, sehingga acara ini benar-benar menjadi ajang pembelajaran dari dan untuk mahasiswa difabel. Kendati demikian, mahasiswa nondifabel yang tertarik juga diperbolehkan untuk ikut serta dalam kelas ini.
Dalam materinya, Sarita menyoroti bahwa selama ini pembelajaran Al-Qur’an sering kali hanya berfokus pada pengenalan huruf hijaiyah serta aturan panjang-pendeknya. Namun, aspek penting seperti tajwid dan makhraj (hukum bacaan dan cara melafalkan sebuah huruf dalam bahasa Arab) sering kali belum dipahami dengan baik. “Maka Ramadan ini dapat kita jadikan sebagai momentum untuk memperbaiki cara membaca Al-Qur’an dengan lebih baik,” tuturnya.
Untuk membantu peserta memahami pelafalan huruf dengan lebih tepat, Sari juga menggunakan alat peraga berbentuk gigi dan mulut. Alat ini memberikan gambaran nyata mengenai bagian mana yang harus diam atau bergetar saat mengucapkan suatu huruf hijaiyah. “Alat peraga ini sangat membantu, terutama bagi difabel netra dan tuli, dalam memahami kondisi gigi, gusi, lidah, atau langit-langit saat melafalkan suatu huruf,” jelasnya.
Sementara itu, bagi difabel fisik dan mental, Sari menyebut bahwa relatif tidak ada hambatan yang berarti dalam mengikuti Kelas Tahsin ini. Sari berharap dengan adanya inisiatif baik ini dapat meningkatkan kualitas mahasiswa difabel UGM dalam membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, sembari mempererat kebersamaan di antara mereka dalam suasana Ramadan yang penuh berkah.[]
Reporter: Bima Indra
Editor : Ajiwan





