Views: 17
Solidernews.com – Rumah sakit umum daerah Sele Be Solu Kota Sorong merupakan salah satu layanan fasilitas Kesehatan yang menjadi andalan masyarakat di kota Sorong. Rumah sakit ini tak hanya menyediakan layanan keseahtan bagi masyarakat secara umum, namun juga menyediakan layanan terapi bagi difabel setampat yang membutuhkan layanan terapi rehabilitasi medis dan itervensi agar mereka dapat meminimalkan hambatan yang selama ini mungkin mereka alami. Beberapa waktu yang lalu, solidernews.com bersama sejumlah aktivis perempuan dari Jaringan kerja lembaga pelayanan Kristen indonesia (JKLPKI) Region Papua Barat Daya mengunjungi RSUD Sele Be Solu Kota Sorong. Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah ruang rehabilitasi medik. Bersama Kepala Seksi Pelayanan kesehatan, dan kepala ruangan meninjau aktivitas terapi rehabilitasi medis di tempat tersebut.
Salah satu fisioterapis, Tyas terlihat sedang melakukan terapi dengan salah satu pasien anak yang mengalami cerebral palsy, bernama Saudi berusia 2 tahun lebih. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Tyas dan ibu pasien menyemangati Saudi untuk mengikuti sesi terapi.
Ditemui usai terapi, Tyas mengatakan bahwa memberikan terapi kepada pasien anak dibutuhkan kesabaran baik dari terapis maupun orang tua. Apalagi bagi difabel Cerebral palsy yang mengalami kelumpuhan pada otak. Ia pun membatasi sesi terapi maksimal 30 menit agar pasien juga lebih efektif.
“Biasanya dicari tahu dulu riwayatnya mulai dari saat hamil, saat bayi apakah pernah kejang atau demam tinggi, atau hanya delay atau keterlambatan saja, semua harus dicek. Kalau terlambat diagnosa, maka akan terlambat juga diterapinya. Misalnya, umur 9 bulan biasanya bayi sudah mulai belajar berdiri, ternyata si bayi tengkurap saja belum bisa, maka perlu diajarkan tengkurap, mengangkat kepala dan lainnya. Semua tahapan itu harus dilalui tidak bisa langsung karena pengen jalan langsung dilatih jalan, semua butuh proses, jadi lebih cepat ditangani akan lebih baik,” tutur Tyas.
Peluang kesembuhan juga menurut Tyas, meski tidak seperti orang pada umumnya, namun peluang untuk semangat akan lebih tinggi dibandingkan yang tidak melakukan terapi.
“Butuh kerjasama antara terapi di rumah sakit dengan orang tua dirumah,” imbuh Tyas.
Seperti Gafariel, anak laki-laki berusia 4 tahun ini, sejak 2 tahun lalu mengalami lumpuh layu atau kaki yang tidak bisa berdiri. Orang tuanya selama 2 tahun dengan penuh cinta kasih mengantarkan Gafriel mengikuti terapi dengan bantuan kaki palsu atau Avo hingga kini, kekuatan otot kaki Gafriel berangsur membaik dan bisa berjalan meski masih tertatih.
“Ada semangat, bangga, bahagia bisa melihat anak Saya bisa berjalan. Dulu Saya berpikir bahwa anak saya akan lumpuh selamanya, tapi saat tahu ada pelayanan terapi di Sele Be Solu, Saya bersyukur dipertemukan dengan dokter dan perawat yang baik hati dan penuh kesabaran melakukan terapi ke anak Saya dan diberikan alat bantu kaki palsu ini,” ucap Ibunda Gafriel bersemangat.
Kepala Bidang pelayanan kesehatan RSUD Sele Be Solu Kota Sorong, Zainudin mengatakan bahwa ruangan rehabilitas medik Sele Be Solu baru berjalan dua tahun. Namun untuk sumber Daya manusia, tenaga dokter, perawat dan peralatan, untuk pasien anak dan dewasa, perempuan dan laki-laki dapat dikatakan cukup memadai dan canggih di wilayah Papua Barat Daya.
“Pelayanan disini kami melayani pasien BPJS maupun pasien umum, intinya semua kami layani tanpa membedakan apakah pasien BPJS atau umum. Saat ini, Kami juga sedang menyiapkan dan membangun ruang rehabilitas medik yang lebih memadai, semoga bisa cepat digunakan dengan tentunya penambahan fasilitas,” ujar Zainudin.
Ditambahkan olehnya bahwa rata-rata pasien terapi yang datang ke ruang rehabilitas medik 20-30 perhari dan terus bertambah dengan semakin banyaknya informasi yang diterima oleh masyarakat mengenai ruangan rehabilitas tersebut.
“Kedatangan kami disini melihat bahwa anak saya, Saudi ditangani dengan baik oleh para petugas dan dalam ruang rehabilitasi pun juga sudah sangat cukup memadai untuk tumbuh kembang anak saya, semoga kedepannya rumah sakit di wilayah Sorong menambahkan fasilitas-fasilitas kesehatan untuk difabel. Agar para orang tua tidak perlu khawatir ketika ingin mengajak anak untuk terapi”. Ucap Ibunda Saudi.
Sementara itu, aksesibilitas menuju ruangan terapi pun sudah mudah dilalui untuk pengunjung difabel, dengan adanya bidang miring/ramp sudah sangat memudahkan bagi pengguna kursi roda untuk menuju ruang rehabilitasi. Namun, masih ada yang kurang untuk difabel netra, rumah sakit ini belum memiliki guiding block berwarna yang digunakan untuk meningkatkan visibilitas bagi pengguna yang masih memiliki sedikit penglihatan (low vision). Guiding block ini membantu mereka berjalan lurus menuju tujuan, seperti pintu masuk bangunan, peron, atau fasilitas umum lainnya.[]
Reporter : Irfan Ramdhani
Editor : Ajiwan








