Views: 19
Solidernews.com – Membangun sebuah inklusifitas tidak hanya soal tuntutan kepada masyarakat luas. Melainkan dimulai dahulu dari sebuah aksi dan kontribusi dari diri sendiri. Melalui berbagai mekanisme, Jogja Disability Art memulai langkah tersebut lewat jalur seni dan keterbukaan diri.
Jogja Disability Art (JDA) yang kini berdiri sebagai sebuah yayasan seni yang menaungi difabel untuk berkarya, tidak hanya berhenti di situ saja. JDA terus berupaya untuk membuka peluang seluas mungkin untuk semua orang agar memiliki keterbukaan dan inklusifitas melalui ruang-ruang seni. Dari sebuah seni, JDA berupaya untuk memutus rantai dan skat pembatas antara lapisan masyarakat difabel dengan khalayak umum.
“Kami memulai semua ini tentu dengan sebuah kesadaran. Berawal dari kesadaran akan persatuan semangat dari kawan-kawan difabel, utamanya difabel yang menggeluti kesenian, langkah inklusif sudah kami mulai sejak tahun 2009,” ungkap Butong, kepada Solidernews, 22 Juli 2025.
Komitmen yang Tidak Pernah Padam
Saat dijumpai di Sekretariat Jogja Disability Art, Selasa, 22 Juli 2025, Sukri Budi Ajidharma, selaku salah satu founder JDA, yang akrab disapa Butong ini menceritakan langkah progresif dunia seni yang membantu mengangkat isu difabel. Pria yang penuh semangat ini, menjelaskan bahwa misi panjang dari JDA tidak hanya mewadahi difabel saja. Melainkan secara luas melibatkan semua kalangan untuk membangun keakraban, kolaborasi, juga saling mengisi satu sama lain. Agar difabel dapat berkontribusi dan memiliki peran bermakna, melalui jalur seni.
Sewaktu solidernews bertandang di Sekretariat JDA, sebuah bukti nyata terpampang di ruang ArtSpace yang sedang dilangsungkan pameran tunggal sebuah karya ilustrasi dan sketsa dari seniman Win Dwi Laksono. Pameran yang dibuka untuk umum ini membuktikan bahwa komunitas difabel juga mampu memberi ruang bagi seniman non-difabel untuk menggelar pameran secara maksimal. Kegiatan yang berlangsung sejak 13-26 Juli 2025 yang lalu membawa spirit kolaborasi dan partisipasi bermakna dari difabel itu sendiri.
Pameran bertajuk “Rindu Masa Lalu” yang dibuka oleh Ugo Untoro ini menampilkan mahakarya Win Dwi Laksono. Sekitar 300 karya ditampilkan, yang merangkum proses kreatif Win sejak 1980 hingga 2024. Meski bernuansakan visual, tapi bagi pengunjung difabel sensorik netra dan Tuli tidak menjadi masalah.
JDA selaku yayasan difabel yang bergerak di blantika seni, sudah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang. Seperti JBI (Juru Bahasa Isyarat), kursi roda, audio pendamping karya, dan gallery sitter yang dipandu langsung oleh founder JDA, Butong. Sehingga fasilitas akses bagi difabel cukup lengkap dan memadai.
“Kami terus melakukan riset dan pengembangan untuk aksesibilitas ruang seni. Sehingga, ruang yang kami berikan untuk Pak Win ini juga sekaligus menjadi mini laboratorium untuk mengembangkan inklusifitas dan aksesibilitas di dunia seni,” jelas Butong.
Pameran Seni Yang Mudahkan Pengunjung Difabel
Sewaktu di ajak berkunjung di instalasi seni, Solidernews diceritakan beberapa fasilitas penunjang bagi pengunjung difabel. Seperti adanya headset yang ditujukan untuk difabel netra, karena berisi diskripsi pendamping, kursi roda bagi difabel fisik dan pengunjung lansia, juga adanya JBI yang siap mendampingi tour seni di ruang ArtSpace Jogja Disability Art.
“Nah, ini bisa mas gunakan untuk menambah wawasan serta interaksi terhadap karya. Headset yang terdapat rekaman ini, akan membantu masnya yang difabel netra untuk lebih menyelami karya,” jelas Damai, Gallery Sitter dari ISI Yogyakarta.
Saat solidernews mencoba Headset yang terhubung ke alat pemutar MP3, terdengar penjelasan karya yang ada di dinding. Dalam audio itu dijelaskan jika karya yang dibuat merupakan sekumpulan ilustrasi untuk cerita silat. Tidak hanya itu, untuk lebih membangun emosional, di audio yang ada juga terdapat backsound seseorang yang tengah berkelahi menggunakan jurus-jurus silat.
Pada perjalanan awal, solidernews diajak untuk menikmati sekumpulan karya-karya yang menampilkan gambar dengan narasi orang-orang silat. Karya ini merupakan sebuah karya yang dibuat Win Dwi Laksono, sejak 1980 hingga awal 2000. Sebab di tahun-tahun itu, cerita silat begitu marak beredar di masyarakat. Entah berbentuk komik, cerita buku, koran, majalah, dan media lain.
“Ya, kami memberikan headset yang didalamnya terdapat mp3 yang berisi tentang ilustrasi karya, inti cerita, juga cerita yang diilustrasikan. Ini kedepannya akan kami terus kembangkan, bisa dalam bentuk barcode dan ada file PDF yang bisa diakses,” jelas Butong.
Membangun Kontribusi dan Kedalaman Pengalaman Menikmati Seni
Pada gelaran acara ini, pengunjung akan diajak ke beberapa instalasi seni. Mulai ilustrasi buku, komik, koran, ada diorama, dan juga sebuah instalasi patung. Pengunjung difabel dapat memiliki akses lebih terhadap karya. Bagi difabel netra, beberapa karya patung boleh disentuh, atas seijin Win Dwi Laksono dan koordinasi dari JDA.
Selain itu, pengunjung difabel akan mendapat dampingan langsung dari gallery sitter yang siap menemani sampai akhir ruang pamer. Sebagaimana yang disampaikan Putri, gallery sitter dari Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan PLB, pameran ini juga dikunjungi ragam difabel lain. Utamanya saat pembukaan, partisipasi dari rekan difabel sangat antusias.
“Di awal ada difabel tuli yang saya dampingi, terus ada juga difabel fisik, dan ada juga difabel netra yang sekaligus menjadi panitia dalam acara pembukaan ini. Sehingga openingnya sangat penuh antusias,” jelas Putri, yang juga sekaligus fasilitator Juru Bahasa Isyarat dalam pameran ini.
Dijelaskan pula oleh Damai, bahwasannya ada difabel netra juga yang ikut memeriahkan acara dengan ikut menggambar di opening, “kawan difabel netra itu ikut menggambar dengan aplikasi BeMyEyes. Saya kurang paham gimana teknisnya. Tapi dia terpantau ceria dan antusias, dengan caranya sendiri saat ikut mencoba menggambar.”
Pada penghujung pameran, Solider diajak untuk meraba karya berupa patung yang terbuat dari fiber dan bahan lain. Ada patung yang berbentuk perempuan tengah keramas, patung kuda yang di tubuhnya memiliki gurat-gurat wajah kuda, dan orang yang tengah memegang gitar. Semua karya khas Win Dwi Laksono memanglah bertekstur. Tidak polosan, sehingga ini tentu menjadi pengalaman seru bagi difabel netra.
Dari pameran ini, Jogja Disability Art, ingin menunjukkan kepada komunitas difabel dan masyarakat umum, bahwa inklusi dan penyediaan aksesibilitas di pameran seni bukanlah hal mustahil. Selain itu, pesan difabel juga mampu menjadi penyedia tempat pameran, sebagai wujud kontribusi untuk khalayak umum juga menjadi spirit di pameran “Rindu Masa lalu”. Pesan kuat dari pameran tersebut juga menyiratkan difabel juga mampu berkontribusi secara maksimal, bila kepercayaan dan kesempatan itu diberi secara tulus.
“Hasil kolaborasi inklusif tidak hanya menjadikan difabel pengunjung saja. Melainkan kami juga mampu menyediakan ruang yang baik, untuk pameran dari para seniman non-difabel. Kami terus belajar dan terus mengembangkan untuk aksesibilitas ruang seni bagi difabel. Sehingga, kesempatan ini begitu berarti bagi kami. Karena kami dipercaya untuk menyelenggarakan pameran tunggal Pak Win Dwi Laksono,” ungkap Butong.[]
Reporter: Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan









