Views: 32
Solidernews.com – Smart Life Class pertemuan kedua, yang digelar oleh komunitas Smart Netra berlangsung pada Sabtu, 8 November 2025, melalui platform Zoom Meeting dan siaran langsung di YouTube.
Kelas pengembangan diri ini mengangkat tema “Menjadi Pribadi Unggul untuk Meraih Keberhasilan dan Mencapai Kebahagiaan dalam Hidup.” Tidak hanya membuka ruang refleksi bagi peserta difabel netra, kegiatan ini juga menjadi wadah belajar bersama lintas latar belakang — untuk saling tumbuh dan menginspirasi serta membangun empati untuk terwujud inklusifitas.
Pengurus Komunitas Smart Netra, Edy Aryawan, mengatakan kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh peserta difabel. Melainkan ada dari masyarakat non-difabel, seperti mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Hal itu ditujukan untuk membangun empati kalangan non-difabel untuk membersamai dan berkolaborasi dengan komunitas difabel.
Memasuki pertemuan ke dua dari dua puluh delapan pertemuan yang akan dilaksanakan, pada pagi hari ini, konsep yang dikaji adalah “Memahami Konsep Diri” yang dipandu oleh dua narasumber yaitu: Irwan Dwi Kustanto seorang psikoterapis, penyair, sekaligus instruktur baristadifabel netra; serta Edy Aryawan, praktisi pendidikan anak difabel netra dan pembicara publik.
Kedua narasumber mengajak peserta untuk memahami topik-topik reflektif seperti mengenal diri sendiri, menemukan panggilan hidup, menggali bakat unik, dan mengelola pikiran secara positif di kehidupan sehari-hari.
“Mudahnya kita akan mempelajari bagaimana konsep diri, pandangan tentang diri kita, dan bagaimana kita melihat diri sendiri untuk menjalani kehidupan sehari-hari sesuai pada ilmu pengembangan diri yang lebih praktis,” ungkap Irwan.
Mengenal diri dapat dipetakan dalam berbagai hal, salah satunya adalah tentang memahami citra diri dan harga diri. Di mana dengan memahami citra diri dengan baik, kontrol terhadap diri dapat diselaraskan untuk merespons analisis diri dan hal-hal negatif dari luar seperti pembicaraan orang lain, presepsi, dan lainnya.
Irwan Dwi Kustanto menjelaskan bahwa penting sekali seseorang memahami citra dirinya. Sebagai difabel, hal ini dapat menjadi acuan untuk merespons segala sesuatu, utamanya dalam mengembangkan diri. Salah satunya mengenal potensi diri untuk keberlanjutan hidup.
“Kita dapat menjadi lebih waspada terhadap lingkungan untuk tidak lengah pada model yang dapat melemahkan atau menekan diri kita. Sehingga model pertahanan diri kita dapat selalu siaga. Meski begitu, kita juga harus sadar untuk mengamati kapan waktunya kita untuk istirahat dari ketegangan tersebut,” ungkap Irwan.
Pada kesempatan yang sama, Supriyati hafizah, difabel netra yang terpilih menjadi peserta aktif yang berkuliah di Universitas Terbuka, turut berbagi pandangannya mengenai pentingnya mengenal dan mengembangkan diri bagi difabel netra. Menurutnya, ilmu pengembangan diri tidak sekadar tentang motivasi, tetapi lebih kepada kemampuan membangun keterampilan praktis dan kekuatan mental untuk menavigasi dunia yang belum sepenuhnya ramah bagi difabel. Ia menilai, melalui proses ini, difabel dapat membuka potensi terpendam di berbagai bidang sesuai potensi yang dibangun—sekaligus membangun ketahanan mental dan keterampilan adaptif dalam menghadapi tantangan sosial maupun lingkungan.
“Ilmu pengembangan diri bagi penyandang difabel netra seperti saya merupakan fondasi utama untuk kemandirian dan pencapaian. Sebelum bisa mengembangkan potensi, kita harus lebih dulu memahami dan menerima diri secara utuh. Kalau pemahaman diri itu seperti menemukan peta harta karun di dalam diri, maka pengembangan diri adalah perjalanan untuk menggali dan membagikannya kepada dunia,” jelasnya saat dihubungi Solidernews, 8 November 2025.[]
Reporter: Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan




