Views: 23
Solidernews,- Makassar. Program Ruang Disabilitas PRO1 RRI Makassar edisi Sabtu, 3 Januari 2026 mengangkat tema “Implementasi Kebijakan Pariwisata Inklusif di Kota Makassar” dengan menghadirkan Tyas Harnando, Pendiri Komunitas Pariwisata 101, sebagai pembicara. Dialog yang dipandu Risna Supratio ini menyoroti urgensi aksesibilitas dalam pengembangan pariwisata yang ramah bagi semua kalangan.
Tyo (Tyas Harnando) menegaskan pentingnya menjadikan pariwisata inklusif sebagai kebutuhan, bukan sekadar wacana. “Pariwisata inklusif bukan sekadar konsep semata, tetapi merupakan kebutuhan agar setiap orang, termasuk penyandang disabilitas, Tuli dan netra misalnya dapat menikmati ruang publik secara setara.”
Tyo menyatakan bahwa potensi Kota Makassar untuk mengembangkan pariwisata inklusif besar, namun hal tersebut mensyaratkan kebijakan yang nyata dan terimplementasi di lapangan. “Regulasi yang baik harus diikuti dengan implementasi, mulai dari akses fisik, informasi, hingga pelayanan yang ramah disabilitas,” ujarnya.
Tyo juga menekankan peran pemerintah daerah dan pentingnya sinergi antar-pemangku kepentingan. “Tanpa kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha pariwisata, kebijakan pariwisata inklusif akan sulit berjalan optimal, petugas di lapangan perlu juga memiliki pemahaman tentang kebutuhan disabilitas agar pelayanan yang diberikan benar-benar inklusif dan berkeadilan,” jelasnya.
Selain aspek infrastruktur, pembahasan juga menyorot pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata. Sebagai contoh praktik pelayanan inklusif, Tyo memaparkan pengalaman yang diterapkan di salah satu destinasi wisata kota Makassar, yakni Museum Kota Makassar.
“Saya dan kawan-kawan mengaplikasikan teknologi visual dan audio di spot museum. Dengan layar monitor yang membantu Tuli dalam mendapatkan informasi serta audio yang menarik untuk Tuli. Semoga ini bisa jadi pilot project diterapkan di destinasi wisata lainnya di Makassar,” papar Tyo.
Keterlibatan komunitas disabilitas dalam perencanaan menjadi salah satu rekomendasi penting yang disampaikan. “Penyandang disabilitas harus dilibatkan sejak awal, karena merekalah yang paling memahami tantangan aksesibilitas,” ungkapnya.
Menutup dialog, Tyo menyatakan harapannya agar Makassar menjadi teladan penerapan pariwisata inklusif di tingkat nasional. “Saya optimistis kebijakan yang tepat akan mendorong pariwisata yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Pariwisata inklusif bukan hanya tentang akses, tetapi tentang penghormatan terhadap martabat setiap manusia,” pungkasnya.[]
Reporter: Andi Syam







