Views: 44
Solidernews.com, Yogyakarta – Di balik gelat tawa dan canda hangat mahasiswa-mahasiswi, baik difabel maupun nondifabel, yang memenuhi Hall Perpustakaan Sekolah Vokasi UGM, Sabtu (4/5). Mereka berkumpul untuk megikuti Acara Gatherfest: Fun Weekend with Friends, Laughter, and Togetherness yang digelar oleh UKM Peduli Difabel UGM. Secara tak langsung, acara ini menjadi simbol penguatan relasi antara mahasiswa difabel, UKM Peduli Difabel, dan Unit Layanan Disabilitas UGM.
“Teman-teman difabel tidak sendiri. Kami di UKM Peduli Difabel siap menjadi teman, pendamping, sekaligus ‘buddy’,” ujar Almas Zulfarika, Ketua UKM Peduli Difabel 2025, saat membuka acara. Pernyataan itu merupakan cerminan dari misi yang diemban oleh UKM sejak awal berdiri yaitu menjadi ruang aman dan ramah bagi mahasiswa difabel, sekaligus memperjuangkan pemenuhan hak-hak mereka di lingkungan kampus.
Gatherfest tak hanya menjadi ajang perkenalan antar anggota dan pengurus UKM, tetapi juga memperkenalkan tiap departemen dan program kerja mereka. Mahasiswa difabel dari berbagai fakultas hadir sebagai peserta. Mereka diajak mengenal lebih dekat siapa saja yang bergerak di balik layar, serta bagaimana mereka bekerja untuk memastikan mahasiswa difabel mendapat dukungan sosial yang layak di lingkungan akademik.
Salah satu peserta, Riani Wulan Sujarrivani, mahasiswa autis semester dua, merasakan langsung dampak kehadiran dua lembaga yang selama ini aktif membersamainya. “Menurut saya, ULD dan UKM justru saling menguatkan. Dan lagi, ini menunjukkan komitmen serius UGM dalam mewujudkan kampus inklusif,” ungkap Wulan dengan senyum ringan kepada Solidernews.
Wulan bukan satu-satunya. Banyak mahasiswa difabel lainnya yang merasakan dampak positif dengan keberadaan dua entitas ini, UKM Peduli Difabel dan ULD UGM. Meski berada di bawah payung kelembagaan yang berbedam, UKM di bawah Direktorat Kemahasiswaan, sementara ULD berada langsung di bawah Sekretaris Universitas. Namun keduanya membuktikan bahwa struktur bukan penghalang sinergi.
Kolaborasi nyata dapat terlihat misalnya saat pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) beberapa waktu lalu. ULD mengambil peran strategis dalam melakukan asesmen kebutuhan terhadap setiap peserta difabel, sementara UKM Peduli Difabel menugaskan anggotanya untuk mendampingi peserta secara langsung sesuai kebutuhan yang telah diidentifikasi oleh ULD. Di sinilah nilai “buddy” yang disebut Almas menemukan bentuk konkretnya, bukan sekadar slogan, tapi aksi nyata.
Pendampingan pun berlanjut hingga ranah perkuliahan dan praktikum. Dengan pelatihan dan pembekalan yang secara konsisten dilakukan, anggota UKM tidak hanya menjadi relawan, tetapi juga mitra sejajar dalam perjuangan mahasiswa difabel menempuh pendidikan tinggi. Kedua entitas ini berkontribusi dalam memenuhi, menghormati, dan melindungi hak difabel, sebagaimana mandat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Istilah “difabel” yang digunakan UKM juga menyimpan makna historis. UKM berdiri sejak 2013, saat regulasi formal (UU 8 Tahun 2016) belum mengatur istilah yang baku, oleh karena itu UKM Peduli Difabel memilih kata “difabel” sebagai upaya untuk mendorong perubahan paradigma. Dari yang tadinya melihat difabel sebagai objek belas kasihan menjadi subjek yang setara dan berdaya. Sementara itu, ULD yang berdiri delapan tahun kemudian mengadopsi istilah “disabilitas” sebagaimana diatur dalam hukum.
Perbedaan istilah ini tidak menjadi jurang, melainkan jembatan yang memperkaya perspektif keduanya. Di tengah perjalanan kampus menuju inklusivitas, UGM beruntung memiliki dua pilar penggerak ini. Satu dari unsur mahasiswa, sementara satu dari struktur resmi kelembagaan. Keduanya saling melengkapi, memperjuangkan hak dengan cara masing-masing, namun dengan semangat yang sama.
Adanya dua Lembaga ini di UGM juga mengisyaratkan kepada kita semua bahwa perjuangan menuju kampus yang benar-benar ramah difabel tak bisa dilakukan sendirian. Perlu ada sinergi antar unit-unit didalamnya untuk saling bekerjasama dan membangun ekosistem kampus yang inklusif.[]
Reporter: Bima Indra
Editor : Ajiwan








