Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Potret sosok intelektual dan keagamaan KH. Imam Aziz, mengenakan batik dan peci. Dokumentasi PBNU DIY.

KH Imam Aziz: Lentera Inklusivitas itu Padam, Namun Cahanya Abadi

Views: 32

Solidernews.com, Yogyakarta. Dunia pesantren dan gerakan inklusi sosial di Indonesia kehilangan salah satu lenteranya. KH. Muhammad Imam Aziz, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sekaligus Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia, wafat pada Sabtu dini hari, 12 Juli 2025 pukul 00.46 WIB di Rumah Sakit Dr. Sardjito, Yogyakarta. Almarhum tutup usia di umur 63 tahun dan  dimakamkan di lingkungan Pesantren Bumi Cendekia.

Lahir di Pati, Jawa Tengah pada 29 Maret 1962, KH. Imam Aziz dikenal sebagai sosok ulama yang tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk pendidikan pesantren, namun juga turut aktif menyalakan api perubahan sosial, terutama dalam perjuangan hak-hak difabel dan kelompok minoritas.

Salah satu warisan perjuangannya yang akan selalu dikenang adalah perannya dalam sejarah pendirian SIGAB Indonesia (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel) pada awal tahun 2003. Dalam sambutan pengantarnya, Direktur SIGAB, Joni Yulianto, mengingat betul momen saat ia dan beberapa kawan muda difabel menemui KH. Imam Aziz untuk menyampaikan gagasan pendirian SIGAB.

“Beliau adalah salah satu orang pertama yang menyatakan dukungan dan kesediaan untuk bergabung dalam menggagas SIGAB. Kehadirannya menjadi penguat kami dalam membangun wadah perjuangan advokasi kesetaraan dan inklusi,” ungkap Joni dengan mata berkaca.

SIGAB, yang kini telah menginjak usia 22 tahun, menjadi saksi bagaimana sebuah inisiatif kecil di tingkat komunitas menjelma menjadi gerakan nasional yang memperjuangkan inklusi sosial secara luas. Di balik jejak perjalanan itu, nama KH. Imam Aziz senantiasa hadir sebagai pemikir, penyokong, dan penjaga arah perjuangan.

Lebih dari sekadar tokoh agama, Mas Aziz, demikian ia akrab disapa, adalah jembatan antara dunia pesantren dan gerakan masyarakat sipil. Ia tak lelah mengusung pemikiran bahwa kebhinnekaan, nilai-nilai kultural, dan ajaran keagamaan harus menjadi perekat sosial, bukan sebaliknya.

“Kami sangat kehilangan. Tapi di balik kehilangan itu, ada warisan besar: gagasan, pemikiran, dan keteladanan beliau yang harus kita lanjutkan. KH. Imam Aziz telah menjadi bagian dari kita semua,” ujar Joni, mewakili komunitas difabel yang merasa kehilangan tokoh sekaligus sahabat.

Wafatnya KH. Imam Aziz memang meninggalkan duka mendalam. Namun semangat dan cita-citanya tidak ikut terkubur. Ia telah menyalakan pelita di banyak hati: para santri, aktivis, difabel, dan mereka yang mencita-citakan Indonesia yang lebih adil dan inklusif.

Selamat jalan, Kiai. Cahaya pengabdianmu akan terus menyala di jalan perjuangan kami.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor      : Ajiwan

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content