en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Ketika Empati Menjauh dan Pergi dari Kota Inklusi

Solidernews.com. Yogyakarta –Bagi seorang ibu, sekecil apa pun prestasi yang diraih anaknya, hal itu patut mendapatkan apresiasi. Terlebih ketika prestasi atau keberhasilan itu, didapatkan oleh anak yang terlahir dengan difabilitas. Hambatan pendengaran (tuli), satu di antaranya. Kebanggan dan kebahagiaan menyelinap, ketika sang anak berhasil melakukan sesuatu, menyelesaikan misi.

 

Mengapa demikian?

Tuli. Dalam kondisi tanpa suara yang dapat didengarnya, di tengah stigma, serta minimnya dukungan dan empati lingkungan sosialnya. Mengakses pelayanan publik, bak berada di belantara. Situasi tersebut, dikemukakan oleh seorang tuli, Laksmayshita Khanza Larasati Carita (28). Ibu seorang bayi berusia empat bulan.

 

Ibu muda itu tengah berjuang sendiri, tanpa pendamping. Dia hendak mengaktifkan kartu BPJS atas nama Gladys Iraida Jasmine Alshita, yakni putrinya. Berkomunikasi dengan oral dan tulisan dilakukannya.  Sebab, tidak ada penerjemah bahasa isyarat di Kantor Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) Kota Yogtakarta itu.

 

Dia yang juga pengurus Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia) Kota Yogyakata itu biasa disapa Shita. Seringkali dia mengakses sendiri pelayanan publik tanpa pendamping. Bukan tanpa alasan. Bagi dia, saling belajar dan mengedukasi harus dilakukan. Agar pemberi pelayanan paham kebutuhan masyarakat tuli. Sehingga tuli juga bisa mandiri.

“Terlebih ketika tuli sudah berkeluarga, mandiri menjadi sangat penting,” ujar Shita, Jumat (1/3/2024) siang kepada solidernews.com.

 

Minim empati

“Mama… saya merasa punya masalah mengurus BPJS Jasmine [nama panggilan anaknya]. Masalah pada status pekerjaan juga di Kartu Keluarga,” pesan singkatnya kepada sang ibu.

 

“Kenapa kak? Tetap semangat ya, kakak pasti bisa,” pertanyaan sekaligus kalimat menyemangati sang ibu.

 

“Saya kecut melihat cara kerja petugas BPJS. Dia  mengejek saya yang tidak jelas berbicara dan menulis untuk berkomunikasi. Ya ma, aku sabar,” pesan whatsapp Shita berikutnya.

 

Layaknya pemulung fakta di lapangan, diam-diam Shita meng-capture kegiatan para petugas, dan mengirimkan gambar-gambar kepada ibunya. “Gambar-gambar ini berguna kan ma? Sayang dia tidak ada nama di dadanya. Aku tidak mau menyapa dan bertanya nama,” pesan tulisan Shita bernada kesal.

 

“Terima kasih kakak, iya berguna. Kakak harus berhasil ya. Jasmine harus bangga punya ibu, yaitu ibu Laksamayshita,” lagi-lagi semangat diberikan sang ibu.

 

Setelah beberpa menit sang ibu hendak memastikan misi anak gadisnya dengan bertanya. “Bagaimana kak? Aman kan? Berhasil?” tanya sang ibu ingin tahu. Beberapa menit kemudian, mendapatkan balasan menggemberikan sekaligus lucu.

 

“Aman mama. BPJS aktif dalam dua hari. Saya tidak senyum sama ibu petugas BPJS yang kufoto tadi. Saya merasa sudah tambah sabar. Tapi petugas itu tertawa-tawa dan mengejek kertas tulisan dan menunjukkan ke petugas lain,” keluh Shita mengkritisi petugas BPJS Jamkesda Kota Yogyakarta.

 

Ibunda Shita, yang disapa dengan nama Harta, segera membalas pesan putrinya. “Kakak hebat. Mama yakin, kakak pasti bisa mengatasi hambatan. Selamat ya kak. Segera pulang ya. Jasmine sudah menunggu,” rasa lega sekaligus apresisi disampaikan ibunda Shita.

 

Masih minim aksesibilitas

Situasi di atas, terjadi karena minim aksesibilitas bagi tuli di kantor pelayanan BPJS, Jamkesda Kota Yogyakarta. Di kantor yang berada di Kompleks Balaikota Yogyakarta tersebut, juga belum tersedia penterjemah bahasa isyarat, minim keramahtamahan petugas.

 

Sehingga, Tuli akan terlebih dulu membuka percakapan, mengawali komunikasi untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Bahkan hanya sekedar bertanya keberadaan ruang pemberi layanan pun, tak ada petugas yang paham. Menulis menggunakan android menjadi salah satu cara. Namun sangat disayangkan, ketika petugas justru mentertawakannya.

 

Benar saja, butuh mental kuat dan keberanian, agar tujuan dapat berhasil diraih. Butuh dukungan dari keluarga, untuk meberinya pemahaman, bahwa semua akan baik-baik saja. Karena akan selalu ada cara untuk berkomunikasi dengan sekitarnya.

 

Dalam sebuah percakapan dengan Kepala Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kota Yogyakarta, Dra. Septi Sri Rejeki, diakuinya aksesibilitas bagi difabel yang minim tersebut. Minimnya perspektif difabel pada para pegawai, akan menjadi evaluasi baginya.

“Masukan demi masukan dari masyarakat, menjadi bagian penting menuju pelayanan yang inklusif dan aksesibel. Kami terbuka menerima evaluasi terkait kinerja pegawai di Balaikota Yogyakarta,” ujar Septi Sri Rejeki, Jumat (1/3).[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor      : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air