Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Foto dr. Etha (psikiater)

KDD Surakarta Gelar Talkshow Keswa Bahas Resiliensi

Views: 7

Solidernews.com – Resilien adalah kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan, tantangan, atau tekanan dengan cara yang efektif dan adaptif. Seseorang yang resilien  akan dapat menghadapi stress dengan cara mengelola tekanan dengan baik, mengatasi kesulitan dan tantangan dengan cara yang efektif, beradaptasi dengan perubahan dan situasi baru serta memulihkan diri dari kesulitan dan trauma. Intinya, resilien tidak berarti bahwa seseorang tidak mengalami kesulitan, tetapi mereka dapat menghadapi dan mengatasi kesulitan tersebut dengan cara yang sehat dan efektif. Demikian dikatakan oleh dr. Adriesti Herdaetha, Sp. KJ. (K), M.H., psikiater  RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta pada talkshow bersama 50 difabel perwakilan organisasi/komunitas difabel Surakarta (OPDis) yang dihelat oleh Komisi Disabilitas Daerah (KDD) Surakarta, Sabtu (20/9) di Gedung Sekretariat Bersama.

Resiliensi apakah terbentuk otomatis? Menurut psikiater yang biasa dipanggil dr. Etha tersebut,  resiliensi tidak bawaan dari lahir. Sebab resiliensi bisa diciptakan lewat beberapa faktor seperti pengasuhan orangtua, dan pendidikan dari orangtua. Maka menurutnya yang paling penting adalah faktor orangtua sebab orangtua adalah guru pertama. “Jadi penting membina hubungan baik antara orangtua dan anak, ” ungkapnya menjawab pertanyaan seorang penanya pada sesi talkshow terkait fenomena kekinian seperti aksi demo dan rentetan kekerasan setelahnya, yang  memicu stress.

Lantas bagaimana tips atau solusi supaya teman difabel mental psikososial tidak mengalami trigger apalagi bagi mereka penyintas anxiety disorder? dr. Etha memiliki jawaban bahwa mengelola kecemasan yakni dengan cara berpikir di masa sekarang, saat ini. Artinya, jangan berpikir masa lalu, apalagi masa depan, maka pikirkan apa yang ada saat ini. Intinya  adalah harus bisa mengelola pikiran. Namun demikian, dr. Etha Psikiater tetap menyarankan apabila stress yang berlebihan dan tidak bisa dikelola dengan baik dan bahkan menganggu, maka tetap harus menghubungi profesional.

Simak juga ..  Lakukan Self Care untuk Kesehatan Mentalmu

Psikiater yang sudah bekerja lebih dari 15 tahun di RSJD dr. Arif Zainudin tersebut lantas berpesan bahwa terkait stigma ‘orang gila’ yang disematkan pada difabel mental  dan psikososial terkait bagaimana mengubah stigma tersebut, yakni dengan syarat mengubah diri sendiri dulu. Karena dengan mengubah diri, dapat memperkuat diri sendiri sehingga akan menjadi pribadi yang kuat. Dan yang utama adalah melakukan edukasi kepada masyarakat serta yang sangat penting adalah harus dimulai dengan adanya perubahan yang lebih baik.[]

 

Reporter: Astuti

Editor      : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content