Views: 13
Solidernews.com – Di ruang galeri Taman Budaya Yogyakarta yang terang dan luas, karya-karya seni dari 131 seniman difabel menyambut setiap pengunjung. Lukisan, patung, audio visual, hingga instalasi seni rupa bukan hanya bicara tentang keindahan visual—tetapi juga tentang keberanian untuk berdiri dan menyatakan diri: “Kami ada, kami berkarya!” Inilah semangat yang membakar selama berlangsungnya Suluh Sumurup Art Festival (SSAF) 2025.
Digelar selama sembilan hari, 15–23 Mei 2025, festival ini memasuki tahun ketiga sejak pertama kali diselenggarakan pada 2023 yang waktu itu digelar dengan potensi lokal. Tahun ini, SSAF 2025 menjangkau partisipasi seniman difabel dari berbagai daerah di Indonesia, dengan 15 provinsi yang mengirimkan karya seni dari seniman difabel. Baik perorangan, komunitas, sekolah, dan sejenisnya.
“Gelaran Suluh Sumurup Art Festival ini menjadi semangat inklusif dan komitmen kami untuk mendorong potensi seniman difabel, menunjukkan hasil kreativitas ragam seniman difabel, dan menunjukkan bila difabel itu berhak dan layak menjadi pelaku, bukan hanya sebagai objek yang tidak diberikan ruang untuk berekspresi,” ungkap Sukri Budi Dharma, salah satu kurator seni difabel SSAF saat dijumpai solidernews.com, Pada 18 Mei 2025.
Perjalanan dan Konsistensi Gerakan Seni Inklusi Untuk Seniman Difabel
Suluh Sumurup Art Festival (SSAF) hadir sebagai ruang seni yang menyala dari semangat inklusi. Pergelaran perdana yang terselenggara pada 2023 dalam lingkup lokal, mengusung tema “Gegandengan”. Sebuah simbol ajakan untuk saling merangkul, membangun kesadaran kolektif, dan menumbuhkan cita-cita bersama. Memasuki tahun kedua, SSAF 2024 melangkah lebih jauh. Dari ruang lokal, festival ini berkembang menjadi ajang tingkat nasional, membawa semangat baru lewat tema “Jumangkah”—yang dimaknai sebagai langkah awal menuju harapan dan tujuan yang lebih besar.
Pada 2025, SSAF melanjutkan perjalanannya dengan mengangkat tema “Jejer”. Dalam khazanah bahasa dan budaya Jawa, “jejer” memiliki beragam makna. Dalam tata bahasa Jawa, jejer berarti ‘subjek’—penanda siapa yang berperan atau mengambil posisi sentral. Ia juga bermakna berdiri tegak di atas kaki sendiri—sebuah simbol kemandirian dan keteguhan. Sementara dalam dunia pertunjukan wayang kulit, jejer menjadi tanda penting dimulainya sebuah adegan atau kisah.
Makna jejer inilah yang menjadi napas SSAF tahun ini. Festival ini ingin menegaskan posisi seniman difabel sebagai subjek—bukan objek. Sebagai individu yang berdiri tegak, aktif, dan kreatif. Kehadiran mereka di ruang seni bukan sekadar partisipasi, melainkan pernyataan bahwa mereka turut mencipta dan menghidupkan budaya.
Sukri Budi Dharma yang akrab dipanggil Butong, selaku Kurator Seni Difabel, menyampaikan alasan diambilnya tema “Jejer” pada SSAF 2025. Hal ini erat kaitannya dengan kondisi praktik sehari-hari difabel yang hanya menjadi objek. Baik dikasihani, menjadi objek amal, dan program filantropis. Tanpa adanya ruang pemberdayaan yang bermakna. Akibatnya , kebutuhan, partisipasi, dan kepentingan difabel acap kali dirumuskan pihak lain yang menganggap dirinya lebih paham difabel, dari pada difabel itu sendiri.
“Kami mendorong difabel untuk berpartisipasi, berkreasi, dan menunjukkan potensi pada gelaran festival ini. Mulai memajang karya seninya, UMKM difabel, hingga workshop yang juga diisi oleh pelatih dan pemateri difabel. Sehingga makna jejer ini dapat merepresentasikan kekuatan difabel dalam ajang Suluh Sumurup Art 2025,” tegas Budi.
Instalasi Seni dan Produk yang Mendekatkan Difabel
SSAF 2025 menampilkan 193 karya seni rupa dari 131 seniman difabel dari berbagai provinsi di Indonesia. Gelaran UMKM dan workshop yang digagas difabel turut menambah kemeriahan SSAF 2025 tahun ini. Penampilan seni musik dari komunitas difabel pun turut disertakan guna menambah kemegahan festival tahunan ini.
Personil Gandana Band, salah satu band difabel di Yogyakarta yang pentas pada tanggal 18 Mei 2025, Aat menjelaskan bahwa kehadiran mereka adalah sebagai wujud partisipasi, aspirasi, dan ikut andil memeriahkan SSAF 2025 tahun ini. Mereka membawa beberapa alat yang terbuat dari alat bantu difabel. Seperti gitar bass yang terbuat dari tongkat difabel fisik.
“Nama Gandana merupakan singkatan dari ganda guna. Sebab kita menggunakan sebagian besar alat musik yang dibuat dari alat bantu disabilitas, Walau terkadang kami juga masih menggunakan alat musik konvensional standar pabrikan. Hari ini kami membawa beberapa alat-alat musik yang terbuat dari alat bantu disabilitas,” jelas Aat saat dijumpai solidernews.com, 18 Mei 2025.
Dari lini UMKM difabel, ada beberapa souvenir, baju, snack, minuman, dan masih banyak lagi. Seperti Kopi Egalita yang menampilkan display buku dari difabel netra, juga kopi yang dibuat oleh barista difabel netra.
“Kehadiran pengunjung terpantau ramai. Biasanya mereka membeli kopi di jam 16.00— sampai malam. Banyak dari pengunjung yang juga kami edukasi, kalau kopi ini dibuat oleh tunanetra dan pemilik dari Kopi Egalita juga seorang difabel,” jelas Lutfi, tim Egalita, 22 Mei 2025.
Sigit, barista difabel netra dari Egalita, saat dijumpai pada 22 Mei 2025, menyampaikan, “Pemasukan dari event seperti ini sangatlah baik. Selain berjualan, kami juga bisa mengedukasi bahwa difabel juga mampu membuat kopi berkualitas. Mulai tubruk, V60, dan masih banyak lagi. Saya sangat senang bisa berpartisipasi pada agenda ini.”

Aksesibilitas dan Inklusifitas yang Dibangun
Adanya fasilitas juru bahasa isyarat, teman bisik, dan letak pameran yang strategis untuk beragam difabel menjadi upaya kesetaraan akses bagi semua pengunjung. Desain bangunan yang rata, berada dalam satu lantai, dan dengan ruang luas menjadi poin plus aksesibilitas fisik maupun non-fisik dari gelaran SSAF 2025.
Display karya seni yang tidak terlalu tinggi dibuat agar pengguna kursi roda nyaman menikmati karya. Selain itu, jarak antar karya yang luas, memudahkan mobilitas di ruang pameran. Tulisan keterangan di samping karya pun dibuat dengan font yang lumayan besar, agar pengunjung dengan hambatan penglihatan mampu menikmati, menjadi hal pelengkap dari aksesibilitas di SSAF 2025.
“Kami bekerja sama dengan relawan dari Bawayang, UPY, dan lainnya, untuk membantu mendampingi tour difabel di acara Suluh Sumurup 2025. Kami berkolaborasi bersama mereka untuk meningkatkan aksesibilitas di ruang pameran,” jelas Budi.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa relawan yang dihadirkan dilakukan dengan open recruitment. Dengan koordinasi, kolaborasi, dan pembinaan untuk gallery sitter, aspek aksesibilitas untuk pengunjung difabel dibangun sebaik mungkin.
Salah satu Gallery Sitter, Ragil, menjelaskan bahwa caption keterangan karya dan informasi lengkap dapat dilihat pada barcode di samping karya. Ada barcode untuk umum serta ada barcode untuk rekan-rekan difabel. Hal itu dibuat untuk kenyamanan difabel yang memerlukan beberapa modifikasi untuk kenyamanan saat membaca.
“Barcode yang dibuat ada yang untuk umum juga ada yang untuk difabel. Hal itu ditujukan untuk kenyamanan difabel saat menikmati informasi detail dari karya,” ujar Ragil.
Animo Difabel Di Gelaran Suluh Sumurup 2025
Keterlibatan, kunjungan, dan apresiasi dari pengunjung difabel ataupun seniman difabel pada acara SSAF 2025 ini begitu positif. Mulai para seniman difabel yang aktif berpartisipasi dengan karya, komunitas, atau orang tua difabel yang terus bertandang, membuktikan bahwa kegiatan ini mendapatkan respons baik. Mulai dari kalangan difabel maupun masyarakat umum.
Sesuai yang dijelaskan oleh Butong , selaku kurator SSAF 2025, festival ini membuka kesempatan bagi karya-karya seni difabel yang sulit menggelar pameran. Ia mencontohkan dari Komunitas Priangan Disability Art, yang menjelaskan bila mereka sulit mendapatkan ruang untuk membuka ruang pameran, sehingga karya yang dibuat kurang mendapat publikasi.
“Di acara ini kesempatan itu datang. Semula mereka yang hampir lesu untuk berkarya sebab tidak mendapat ruang, kini dengan Suluh Sumurup Art Festival, semua aspirasi mereka dapat tertampung,” jelas Butong, saat dihubungi lewat telepon, 21 Mei 2025.
Lebih lanjut Butong juga menambahkan bahwa kehadiran dari pengunjung difabel, per-tanggal 21 Mei 2025 sangat signifikan. Ada komunitas difabel dari Purworejo, rombongan SLB, dan hampir 15% lebih pengunjung yang datang adalah dari kalangan difabel. Mulai menikmati karya, ikut berkreasi di ruang interaktif dengan melukis di kertas yang dilambari kardus, meronce, dan menempelkan karya di dinding ruang interaktif.
“Ada POTADS (persatuan orang tua anak dengan down syndrom, rekan komunitas down syndrom mutiara, komunitas dan organisasi difabel netra, serta masih banyak lagi. Antusiasmenya sangat positif,” katanya.
Dari segi seniman yang berpartisipasi sendiri cukup banyak yang ingin mengajukan. Bahkan ada anak-anak difabel dari Papua yang di menit terakhir pengumpulan karya, mereka masih ingin untuk memasukkan karya, untuk ikut diseleksi. Hal ini menunjukkan bahwa seni difabel dan seniman difabel makin bermekaran di seluruh Indonesia.
“ada perorangan, 8 sanggar, dan 7 SLB maupun sekolah inklusif yang meramaikan event kali ini. Bahkan adik-adik dari Papua sangat tinggi minatnya untuk mengirimkan karya,” imbuh Butong.
Galery Sitter (GS) SSAF 2025, Mey menjelaskan kebanggaan bisa terlibat dalam gelaran acara seni difabel. SSAF 2025 menjadi pengalaman pertamanya dalam berinteraksi dengan pengunjung dan seniman difabel. Ia merasa senang dan terus ingin belajar menjadi GS yang mampu menemani pengunjung difabel.
“Tentu aku sangat senang dan merasa beruntung bisa belajar di festival ini. Meski baru pertama kali, aku banyak belajar. Utamanya saat menemani pengunjung difabel untuk menikmati karya seni yang kujaga,” ungkap Mey, saat ditemui Solidernews.com, pada 18 Mei 2025.[]
Reporter: Wachid Hamdan
Editor : Ajiwan








