Views: 36
Solidernews.com, Yogyakarta. HARI Anak Nasional (HAN) dirayakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada anak-anak Indonesia. Namun bagi anak-anak difabel, perayaan ini belum sepenuhnya terasa. Mereka masih berjuang untuk didengar, dilibatkan, dan diperlakukan setara dalam berbagai aspek kehidupan.
“Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini adalah ajakan untuk memperkuat komitmen terhadap masa depan bangsa. Namun, kehebatan anak-anak tidak boleh didefinisikan sempit. Kehebatan juga tumbuh dalam diam, dalam perjuangan senyap anak-anak difabel yang tak pernah menyerah meski dunia belum ramah.
Bagi mereka, menjadi hebat artinya bertahan, belajar, dan tetap bermimpi meski lingkungan kadang membatasi.
Hebat meski tak selalu dipahami
Remaja tuli yang biasa disapa Sinta (18), Ia memiliki mimpi menjadi seorang guru. Di sekolah inklusi tempatnya belajar, ia menulis puisi dan menari. Ia bermimpi menjadi guru. Kini, dia tengah berjuang masuk ke perguruan tinggi yang mendukung cita-citanya. Sedangkan Nadya Annisa Raharjo (24), remaja dengan mild autism, pasca menyelesaikan SMA Luar Biasa, dengan dukungan keluarganya ia bergabung dengan berbagai komunitas. Selain mengasah keterampilan, juga sebuah cara bagi Nadya bersosialisasi.
Bersama empat temannya, Nadya menjadi bagian komunitas “Keluarga Para Rupa”. Sebuah komunitas bagi anak dan remaja difabel tumbuh dengan percaya diri. Waktu lainnya diisi dengan menari bersama Komunitas Nalitari dan Sanggar Tari Tuli.
Nadya, ia menemukan kenyamanan paling kuat dalam lingkar keluarga: ibu, bapak, dan kakaknya, Jody. “Kami bersyukur Nadya bisa bersosialisasi semasa sekolahnya di SLB, juga di komunitasnya. Meski hingga kini lingkungan teraman baginya tetap keluarga inti,” tutur sang ibu, Dyah Ruwiyati.
Sinta dan Nadya. Dalam kondisinya masing-masing, semangat mereka untuk tumbuh adalah bentuk kehebatan yang tak boleh diabaikan.
Dari ruang kelas
Di sisi lain Umi N. Farida, seorang guru SLB swasta di Sleman, setiap hari mendampingi anak-anak tuli dan difabel intelektual. Bagi bu Ida, demikian nama sapaannya, muridnya yang tak fasih bicara, tapi kuat dalam visual. Untuk itu, guru harus memahami, menyusun strategi pembelajaran sesuai kemampuan. bukan memaksa anak menyesuaikan kurikulum. Apalagi kurikulum umum.
Umi menekankan pentingnya dukungan emosional dan sosial di sekolah. Anak-anak difabel butuh ruang yang aman, dukungan dari teman sebaya, dan guru yang tidak sekadar mengajar tapi juga memahami. “Kalau ingin mereka tumbuh hebat, maka lingkungan belajarnya harus diciptakan dengan cinta, empati, dan dukungan yang berkelanjutan,” ujarnya, Rabu (23/7/2025).
Umi menekankan pentingnya dukungan emosional dan sosial. “Anak difabel butuh dukungan nyata, bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Lingkungan harus menciptakan rasa aman dan kesempatan berinteraksi yang sehat,” tandasnya.
Tak bisa tanpa mereka
Bagi seorang aktivis isu anak difabel Reny Indrawati, sekaligus orang tua Adnan, remaja dengan cerebral palsy. Ia menyatakan bahwa pemenuhan hak anak difabel masih jauh dari ideal. “Kebijakan banyak, tapi implementasinya minim. Pendidikan seharusnya inklusif, tapi masih banyak syarat yang diberlakukan untuk anak difabel. Anak malah disuruh menyesuaikan, padahal seharusnya lingkungannyalah yang berubah dan menyesuaikan.”
Indonesia tidak akan benar-benar kuat tanpa melibatkan seluruh anak bangsa, termasuk anak difabel. Perayaan Hari Anak Nasional seharusnya bukan sekadar simbol, tetapi refleksi. Bahwa setiap anak, dengan segala keberagamannya berhak atas ruang, peran, dan pengakuan.
“Anak difabel juga anak hebat. Tapi kehebatan itu sering tak terlihat jika negara dan masyarakat tidak membuka mata, tidak sepenuhnya memberikan kesempatan seluas-luasnya,” ujar Reny.
Di tengah tema besar menuju Indonesia Emas 2045, ada anak-anak yang mungkin tidak bersuara lantang, tapi mereka hadir. Mereka bertumbuh. Dan mereka menunggu dunia menyambut langkah kecil mereka dengan cinta yang besar.
Merayakan Hari Anak Nasional tak cukup dengan seremoni atau slogan. Harus ada keberpihakan nyata pada anak-anak yang selama ini terpinggirkan. Merayakan mereka berarti menyematkan keberanian di kepala setiap guru, orang tua, serta pembuat kebijakan, untuk menciptakan ekosistem yang setara. Karena setiap anak berhak merasa utuh, diterima, dan dicintai, apa pun kondisi.
Tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” akan hampa jika hanya sekadar selebrasi tanpa refleksi. Karena, anak-anak difabel tidak butuh dikasihani, tapi mereka butuh kesempatan dan pengakuan hak. Serta, perlindungan yang dimaksud tak boleh eksklusif. Ini saatnya menempatkan anak-anak difabel bukan sekadar sebagai objek bantuan, tapi sebagai subjek hak.
“Inklusif itu bukan sekadar memberi tempat duduk di barisan depan. Tapi memberi ruang berpartisipasi, menyusun, bahkan memimpin. Kami ingin ruang yang tidak membuat anak-anak difabel merasa sebagai beban. Mereka juga berhak atas kesempatan, bermain, belajar, dan didengar,” ungkap Reny, aktivis dari Wahana Keluarga Cerebral Palcy (WKCP).
Harapan besar pun disematkan. Peringatan Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum, mengevaluasi pelaksanaan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Tak hanya dari sisi hukum, namun lebih pada kenyataan hidup sehari-hari para anak difabel dan keluarganya.[]
Reporter: Harta Nining Wijaya
Editor : Ajiwan









