Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Ini Upaya dan Pengalaman Difabel Netra Berkiprah di Desa

Solidernews.com –  Difabel yang memiliki kemampuan berbeda dengan orang lain,  tentu banyak hal yang harus dipahami. Terutama bagi saya sebagai penulis.  Sebab sejak tahun 2020 kondisi mata saya menunjukkan penurunan signifikan. Yups! Saya merupakan difabel netra yang hidup di pedesaan. Hal tersebut tentunya membuat keseharian saya ndak mudah. Banyak rintangan dan absurditas yang saya alami.

 

Berbicara tentang masyarakat desa, tentunya akan lekat dengan kebiasaan gotong royong, kumpulan pemuda, remaja masjid, dan berbagai aktivitas khas   lainnya. Bahkan juga soal style, kecenderungan nongkrong, dan cara bersosialisasi yang tentu beda jauh dengan masyarakat kota. Kalau di kota kita diam, ndak saling kenal, atau saling cuek itu biasa, di desa bila seperti itu akan jadi masalah. Endingnya akan jadi bahan gunjingan grup ibu-ibu di saat beli sayur di abang sayur pojok desa.

 

Nah, hal itu kadang jadi dilema tersendiri bagi saya. Udah jalan susah, termasuk kaum minoritas, dan minimnya pengalaman sebagai difabel netra tentu menjadi tantangan yang tidak berhadiah bagi saya. Mau nimbrung kadang ndak direspon, tidak nimbrung jadi bahan omongan. Arrggh! Serba salah deh. Jadi, intinya pokok’e bermasyarakat di desa harus srawung (Bersosialisasi). Bagaimana semua hal itu saya lewati? Mungkin ini sedikit yang bisa saya ceritakan.

 

Dipandang Kasihan, Dipinggirkan, dan Sulit Berkontribusi

Persoalan pertama yang saya alami adalah perbedaan perilaku saat sebelum mau pun sesudah saya menjadi difabel netra. Waktu itu, saya cukup mendapatkan tanggapan baik, ajakan, dan saran untuk berkarya nyata di desa. Tetapi setelah menjadi difabel netra, semua hal itu menghilang seperti menulis di atas pasir pantai lalu tersapu ombak.

 

Galau, pusing, merana, dan serasa asing sontak menjadi perasaan yang tiap hari saya telan. Banyak versi yang saya simpulkan dari fenomena itu. Mulai dari yang kasihan, merendahkan, menyingkirkan, dan ada juga yang merasa kalau kebutaan saya itu, juga menyebabkan saya tidak bisa apa-apa.

“Wachid itu sekarang aja jalan susah. Gimana ia bisa bermasyarakat?”

 

“Tiap melangkah juga kadang nabrak. Ntar itu gimana ia bisa berkerja, berkeluarga, dan punya anak?” timpal yang lain.

 

Ungkapan di atas hanya segelintir yang saya dengar dari laporan keluarga. Banyak masyarakat yang masih memiliki sudut pandang pendek. Mereka hanya mengukur dari hal yang terlihat, tanpa mau bertanya langsung kepada yang terkait. Tapi saya menyikapi hal itu dengan tidak ambil pusing. Karena saya lebih memikirkan cara untuk bertahan dari semua rintangan yang kini nyata di hadapan.

 

Indra yang Tersisa adalah Mata bagi Difabel Netra

Semenjak mata yang tidak mampu menerima informasi duniawi, saya kini memfokuskan indra lain. Pendengar, penciuman, pengecap, peraba, dan perasaan saya latih untuk memiliki kepekaan lebih. Semua itu saya lakukan untuk menjawab tantangan di masyarakat. Saya tunjukkan kalau saya juga bisa melakukan apa yang mereka lakukan, tentu dengan cara saya sendiri. Karena mencapai sebuah tujuan itu banyak caranya.

 

Menjawab keraguan dan pemikiran negatif masyarakat tentu saya lakukan tidak dengan bantahan. Saya lebih memikirkan solusi atas permasalahan yang ditimbulkan oleh tidak berfungsinya lagi indra mata.

Cara berjalan, berkomunikasi, bersosialisasi, dan berkerja, terus saya cari alternatif agar bisa saya jalani dengan nyaman.

 

Seperti menempuh pendidikan yang kini bisa saya jalani dengan lancar. Dengan segala kuasa Allah, saya diberi intuisi tajam untuk terus berpikir mencari solusi. Di bangku pendidikan saya menggunakan media perekam, laptop yang sudah terinstal aplikasi pembaca layar, dan berbagai cara lain, nyatanya bisa saya tempuh dengan lancar. Tentu proses itu tidak mudah, karena sindiran tetap tidak berhenti.

“Wachid itu terlalu bergaya. Udah tahu ‘cacat’ masih sok-sokan kuliah. Mending ia ikut kerja di cuci piring warung pecel lele, yang jelas lebih menghasilkan uang,” nyinyir salah satu tetangga.

“Wachid itu kuliahnya jelas di kampus khusus orang cacat,” sahut yang lain.

 

Entah apa yang ada di benak masyarakat itu. Padahal mereka tahu saya berkuliah di UIN Sunan Kalijaga yang jelas di sana mayoritas adalah mahasiswa non-difabel. Kok bisa hanya demi kompak ngobrol, mereka membuat informasi hoax yang tidak berdasar. Mengetahui hal itu pun saya tidak peduli, saya hanya fokus untuk menggapai cita-cita yang kini saya perjuangkan. Karena saya tahu masih ada indra lain yang bisa menggantikan peran mata saya yang kini tidak berfungsi.

 

Berorganisasi, Berkesenian, dan menulis adalah caraku Berkontribusi

Segala kepenatan dan kemustahilan yang dimunculkan masyarakat atas diri saya pribadi, perlahan saya jawab dengan kapasitas yang bisa saya tunjukan di mata mereka yang nondifabel. Saya berani muncul di tengah-tengah mereka dengan karya  yang saya miliki. Saya membuktikan semua kemustahilan yang mereka yakini. Mulai bersekolah, berkerja, dan memiliki jaringan profesional dari orang-orang luar desa.

 

Setelah mengetahui beberapa karya saya, masyarakat pun seolah berhenti menggunjingkan kekurangan saya. Artikel, cerpen, pementasan grup hadrah saya, dan fakta kalau saya terkadang menjadi imam rombongan ziarah wali, sedikit meredam pandangan buruk masyarakat. Tetapi celah untuk berkontribusi di dusun sampai hari ini baru sebatas membantu acara tahlil, mengisi hadrah, menjadi bilal salat jumat, mengisi kultum, menjadi panitia zakat dan melatih hadrah. Belum maksimal sih. Tapisetidaknya saya bisa menjalankan pengabdian di masyarakat dengan cara saya sendiri.

“Wah,berarti Mas Wachid itu pintar ya. Nyatanya ia punya tulisan di internet, grup hadrahnya bagus, dan ia tetap kuat meski banyak yang merendahkan,” ujar bakul angkringan depan masjid desa, saat saya tengah ngopi.

“Ampuh anak itu. Ndak semua orang bisa setahan Wachid. Murah senyum, konyol, dan santai banget wong’e berjalan ke sini,” sahut bapak yang lain.

“Meski pake tongkat, nyatanya ia ndak nyasar. Coba kamu, Kang. Jalan merem terus pake tongkat ke sini. Yakin deh, pasti nabrak tiang listrik,” kelakar yang lain sambil menunjuk bakul angkringan.

 

Evaluasi Pribadi Bersama Secangkir Kopi

Kekonyolan, kejengkelan, dan kerumitan perlahan bisa saya urai. Pengabdian masyarakat nyatanya bisa saya lakoni sesuai kapasitas saya. Tidak berusaha sok-sok’an untuk dipandang baik. Proses natural, terus menggali potensi, dan menerima kondisi menjadi kunci langkah saya bersama tongkat putih. Semula masyarakat ragu, kini saya ambil “Ragu,” itu jadi lecutan untuk meningkatkan kualitas. Bukan  merutuki nasib, tapi terus fokus membenahi nasib.

 

Semua itu pasti ada jalannya. Saya yakin sekali, kalau kita memang mau berubah, pasti tangan Tuhan akan membantu. Mengapa begitu? Karena kita bisa mencapai jarak 10 meter, kita harus melangkah satu meter dahulu. Ungkapan buruk orang yang menyasar pada kita, sebenarnya itu hanyalah cara mereka untuk dipandang lebih baik dari kita. Meski caranya mereka harus membuat kita rendah, agar mereka tinggi.[]

 

Penulis : Wachid

Editor    : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air