en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

I Made Wikandana, Kemampuan Bahasa Inggris Membuatnya Bisa Keliling Dunia

Solidernews.com – Bung Karno pernah berkata, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Kalimat di atas  menjadi penyemangat bagi kalangan muda di Indonesia. Karena dari pemudalah perubahan itu akan nyata adanya. Sejarah juga telah membuktikan bahwa Kemerdekaan yang  Indonesia raih tidak terlepas dari peranan golongan muda. Apalagi dari tahun 2020 hingga 2035 Indonesia akan mengalami bonus demografi sebagaimana  dilansir dari Kantor Wilayah Jawa Timur Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.  Mulai tahun 2020 hingga 2035 Indonesia akan menikmati suatu era yang langka yang disebut dengan Bonus Demografi. Dimana jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa Indonesia yang mencapai 64% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa.

 

Tentunya, harapan kita semua sebagai pemuda Indonesia dan seluruh bangsa adalah dengan ledakan demografi tersebut berbanding lurus dengan semakin majunya sumber daya manusia muda di Indonesia. Intinya, sebagai pemuda kita harus selalu optimis dan sering-sering mengabarkan hal-hal baik yang dilakukan oleh pemuda Indonesia, baik dari lingkup lokal, nasional, hingga internasional.

 

Tulisan ini akan menampilkan profil seorang pemuda difabel asal Bali yang harapannya akan menjadi inspirasi bagi pemuda, bahwa siapapun kamu, kamu bisa berbuat untuk negeri ini.

 

Namanya I Made Wikandana. Ia berasal dari Provinsi Bali dan ia menyelesaikan pendidikan strata satunya di Universitas Brawijaya Malang pada prodi Hubungan Internasional di tahun 2020. Selain itu, ia juga tergabung di beberapa felloship global yang melibatkannya pada berbagai isu, tidak hanya isu hubungan internnasional saja. Sekarang ia tengah bertugas di Unicef.

 

Beberapa waktu yang lalu, solidernews.com sempat mewawancarai pemuda keren asal Bali ini  yang lebih  akrab dengan panggilan Wikan.

 

Dalam wawancara tersebut, Wikan bercerita tentang latar belakangnya dan   awal ia meniti karir di Unicef, manfaat memiliki kemampuan bahasa Inggris, dan   pesan-pesannya bagi anak muda difabel secara khusus dan anak muda secara umum.

“Perkenalkan, aku Wikan, I Made Wikandana. Aku merupakan anak muda dari Bali dan seorang difabel netra. Saat ini bekerja di Unicef  Indonesia sejak dari tahun 2021. kurang lebih sudah tiga tahun bekerja di Unicef Indonesia sebagai disability inclusion officer. Jadi, aktivitas kuncinya adalah untuk membantu kerja-kerja Unicef atau mengarahkan kerja-kerja Unicef di Indonesia terkait anak, remaja ataupun anak muda gitu  agar lebih  inklusif bagi disabilitas dan program-program kunci kita itu lebih inklusif, “ tuturnya.

 

Wikan juga bercerita asal muasal ia bisa bekerja di Unicef. Menurutnya itu karena adanya aware dan kesiapan diri. Waktu itu juga ia sedang berada di penghujung pekerjaan sebelumnya, jadi timing-nya  sangat pas. Wikan selesai dari pekerjaan sebelumnya dan ia diterima di Unicef Indonesia. Adapun informasi tentang lowongan kerja di Unicef itu, ia dapatkan dari broadcast teman-teman. Sebenarnya ia juga tidak menyangka bisa sampai tahap interview dan akhirnya diterima sebagai disability inclusion officer di Unicef Indonesia.

 

it’s been really fun, sangat menyenangkan.    Sangat embridging pengalaman Unicef sejauh ini, gitu. Jadi, aku bersyukur   udah dikasih kesempatan untuk bekerja dan juga Unicef sebagai salah satu chapter karierku,” katanya.

 

“Ya mungkin kalau informasi tambahan lainnya terkait bio. Selain jadi disability inklusion officer, aku juga seorang public speaker, writer, dan sudah banyak diundang di konfrensi-konfrensi global, gitu. Pernah diundang ke Afrika, ke US, dan next juga diundang ke Paris,” tambahnya.

 

“Writing, I mean, I do writing. Aku juga punya newsletter yang aku publish weekly dan subscriber yang di newsletter juga semakin meningkat dari 0 ke 70% dalam waktu sebulan. Gitu, additionall info,” terangnya.

 

Tentang bahasa Inggris, Wikan juga memberikan pandangannya.

“Bahasa Inggris kalau menurutku memang ya bukan lagi penting atau nggak pentingnya karena persaingan pasar kerja saat ini, bahasa Inggris malah bukan jadi  salah satu kelebihan. Ya, general knoledge gitu loh, bahasa Inggris jadi pengetahuan yang umum dan harus dimiliki tiap orang. Bukan lagi menjadi comparative advantage sebuah keunggulan seperti dulu. Jadi orang-orang sekarang tuh bahasa Inggris ya udah mutlak semua harus bisa bahasa Inggris, gitu,” ungkapnya.

 

“Yang mungkin aku garis bawahi, bisa bahasa Inggris tuh bukan berarti harus pandai gitu. Karena orang-orang sering terjebak pada konsep bahwa mereka harus bisa bahasa Inggris. Mereka IELTS-nya  (International English Language Testing System) 9, 10. Ataupun tes toefl-nya (Test of English as a Foreign Language) harus ferfect, gitu. It’s not really about that, gitu loh. Tapi mungkin case-nya kalau misalnya pengen fokus di hunting scholarship untuk mencari beasiswa  mungkin iya, gitu. Tapi, kalau menurut ku sih again kenapa bahasa Inggris penting karena pada dasarnya bahasa Inggris itu akan digunakan untuk kita jalin relasi, itu yang pertama,” lanjutnya lagi.

 

Menurut Wikan, bukan hanya bahasa Inggris. Karena pada dasarnya semua bahasa bila dirunut kebawah kuncinya adalah komunikasi. Misalnya bahasa Spanyol dan semacamnya adalah alat untuk kita berelasi. Selain itu, menurutnya dengan bisa bahasa Inggris, otomatis keran relasi  kita akan semakin luas. Channel dan networking akan semakin terbuka sehingga menciptakan opportunity. Wikan juga  berpesan ke teman-teman difabel, terutama difabel netra bahwa bahasa Inggris itu bukan hanya soal how we get the highest scor bukan hanya soal bagaimana kita meraih nilai yang tinggi, tapi bagaimana dengan kemampuan bahasa Inggris yang kita punya dapat melebarkan networking dan jejaring  kita dan tentunya akses yang kita punya akan berbeda dengan teman-teman  lain yang belum memiliki kemampuan bahasa Inggris.

 

Bagi Wikan, nothing wrong with scolarship tidak ada yang salah dengan mengejar beasiswa dan semacamnya. Tapi, apa yang akan kita lakukan kemudian itu yang menjadi penting.

 

Di akhir wawancara, Wikan menekankan mengenai pentingnya self branding, terutama untuk teman-teman netra. Meskipun menurutnya difabel netra itu kesulitan pada saat menambahkan gambar dan hal-hal yang berhubungan dengan visual  pada postingan di sosial media, namun Wikan berpandangan bahwa apapun yang kita kerjakan, kita bagikan kepada dunia. “Tapi, sebenarnya comparative advantagenya atau keunggulan untuk mencari peluang lebih di sana, gitu loh.  Ketika kita bisa, apapun yang kita kerjakan itu loh  kalau kita bisa posting dan membuat semua orang jadi tahu itu, that we exist, kita dapat menunjukkan eksistensi kita, gitu. Kadang-kadang kan kita  lack of opportunity atau kurangnya kesempatan itu karena juga   opportunity itu belum tahu kita exist apa nggak, gitu  kalau menurutku sih. Jadi, itu saranku,” jelasnya.

 

“Mungkin apapun pekerjaannya, apapun value-nya  share, gitu. Share ke dunia supaya orang-orang tahu juga bahwa teman-teman difabel netra  ataupun kalian juga punya potensi,” punkasnya.

 

Dari tulisan ini dapat kita simpulkan bahwa pemuda itu harus memiliki wawasan yang mengglobal, jejaring internasional, dan tentunya pemuda harus memberi kontribusi nyata pada lingkungan dan komunitasnya. Pemuda harus keluar dari zona nyaman  yang mungkin selama ini lebih suka dengan kebiasaan rebahan tanpa aktivitas yang lebih bermakna. Mari menjadi pemuda yang bermanfaat karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat.[]

 

Reporter: ZAF

Editor      : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air