Views: 6
Solidernews.com – Himpunan Mahasiswa (HIMA) Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Surakarta (FSRD ISI) menyelenggarakan kegiatan pengembangan kreativitas. Digawangi oleh Divisi Pengabdian Masyarakat, mereka menyelenggarakan kegiatan melukis bersama dengan mengekspresikan perasaan melalui garis dan warna pada Sabtu dan Minggu (8-9/11).
Berlian, penanggung jawab acara kepada solidernews.com mengatakan bahwa KPSI Solo Raya menjadi pilihan terakhir untuk diajak kolaborasi sebab sebelumnya pihaknya berpikir untuk mengajak rehabilitan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) namun khawatir persyaratan agak sulit. Lantas ingin pula mengajak siswa SLB namun terbentur jumlah personil pendamping, akhirnya memilih KPSI dengan peserta 10 orang dan itu sudah memenuhi syarat untuk hasil akhirnya untuk dipamerkan.
Berlian menyatakan terkait dampak yang diharapkan nanti bahwa kegiatan ini bisa membuka wawasan bagi kawan-kawannya terkait kesadaran pentingnya kesehatan jiwa. Selain itu juga terjalin koneksi sehingga membuka peluang untuk berkolaborasi lagi ke depan.
“Even bagi saya adalah untuk pengalihan karena di saat sekarang saya lagi berada di posisi down (red_menurun). Saya lama tidak tertawa dan hari ini tadi saya bisa tertawa kembali, ketika berdiskusi dengan teman-teman. Lalu kami maknai bahwa acara ini tidak melulu tentang melukis bareng saja tetapi bagaimana akhirnya kami saling bercerita, saling curhat dan itu melegakan, disertai dengan rasa aman, “ungkapnya.
Bagi Dhimas Radityo, penyintas psikososial, terapi melukis memiliki manfaat luar biasa di antaranya adalah menyalurkan pikiran agar lebih rileks, melatih mental jadi berani bergaul berani karena kegiatan melukis dilakukan secara bersama-sama. Sebelum berkegiatan dengan mahasiswa ISI, Dhimas pernah beberapa kali melakukan kegiatan melukis di RSJD dan pernah mendapatkan tawaran agar karyanya dipajang dan dititip untuk djual di sana.
Kali ini, bersama mahasiswa ISI ia menggambar lukisan yang diberi judul “Alam Fantasi’ berupa campuran berbagai macam warna, ada pelangi ada foto wajah-wajah manusia, pohon dan gambar yang diasosiasikan sebagai setan.
Nyaris sama pendapat Dhimas, Galih, peserta kegiatan melukis lainnya yang langsung mendapatkan manfaatnya yakni dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada mimpi buruk seperti biasanya. Artinya pikirannya jadi rileks dan penuh kedamaian. Katanya, ia jadi menemukan salah satu bentuk terapi yang bakal ditekuninya selain terapi farmakologi (red_terapi obat) yang dijalani selama ini.
Setelah acara usai, panitia membekali para peserta dengan alat dan wahana melukis dengan harapan kegiatan bisa dilakukan lebih lanjut di rumah masing-masing.[]
Reporter: Astuti
Editor : Ajiwan





