Views: 87
Solidernews.com – dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ., dalam siaran YouTube bersama Raditya Dika menyampaikan ketertarikannya menggeluti kedokteran jiwa. Awalnya ia ingin menjadi dokter anak, namun tidak lolos, lantas karena suka berbicara dengan orang, dan cerita tentang manusia itu menurutnya selalu menarik, ia lantas pilihan menjadi dokter ahli jiwa.
Berbicara tentang stigma “orang gila”. Terlepas dari stigma ini, semakin ke sini semua orang semakin tahu bahwa tidak hanya persoalan “orang gila” saja sebenarnya. Ada satu-satu permasalahan kesehatan mental yang meliputi itu, contohnya, kalau misalnya dulu ada yang jalan keliling komplek lantas anak-anak takut, kalau sekarang itu didefinisikan sebagai penyakit mental.
Menurut dr. Elvine Gunawan, secara fisik mungkin penyakit bisul mudah untuk menjalani tindakan operasi misalnya. Dan obatnya sungguh jelas. Tetapi kalau depresi belum tentu, ketika cerita yang sama divalidasi ke orang, dia tidak akan dibilang depresi, seperti yang lain tetapi dibilang mungkin kurang Iman, kurang beribadah, kurang berusaha, dan lain-lain. Tetapi kalau gangguan jiwa yang dibilang berat itu sebenarnya gambaran skizofrenia.
Menurut dr. Elvine sekarang fenomenanya lebih banyak yang depresi, cemas, panik dan psikosomatis. Hal-hal tersebut sebenarnya mulai ramai di masyarakat karena mereka berani speak up. Lantas ada lagi fenomena psikosomatik yang artinya berasa sakit tapi cuma dia saja yang merasa sakit. Tapi semua bukti pemeriksaan yang lain menganggap dia normal jadi misalnya merasa jantungnya berdebar, dia merasa mau mati, berasa serangan jantung dan ternyata normal.
Saling bercerita di masa kecil yang masih menganggap orang sakit mental dengan istilah “orang gila” dr. Elvine dan Raditya Dika, lantas mengungkapkan definisi tentang apa itu skizofrenia yang lantas dijelaskan bahwa gejala skizofrenia bisa dilihat dengan jelas seperti ngomong sendiri, tertawa sendiri lantas punya waham atau delusional misalnya dia menganggap dia sebagai King Charles, dan dia sangat yakin dan ketika orang lain menentang, dia marah besar.
Melihat perkembangan pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan jiwa, menurut dr. Elvine kadang seseorang mau membantu orang mesti melihat dulu orang itu sehat atau tidak. Di zaman dia kecil, masih muda, jelas tidak notice karena melihat teman di sekitarnya tidak ada yang lagi depresi. Tetapi di era sekarang dengan adanya kehidupan moderen dan era media sosial jadi tahu ada istilah-istilah tentang kesehatan mental.
Di usia 40 tahunan, banyak yang berobat, dan problemnya adalah ternyata dari remaja dia sudah punya depresi, sudah punya cemas, tapi tidak mengerti.
Namun sebaliknya ada pula yang merasa dia sudah antisipasi, “daripada gua depresi, gua harus ngerti dulu tentang depresi” Jadi mereka kebanyakan membaca akhirnya jadi cocoklogi. Nah, itu tidak benar untuk mendiagnosa diri sendiri. “Banyak banget yang kayak gitu kan banyak banget modal google. Sedih karena putus cinta dua minggu, ya iyalah ya, putus cinta pertama dua minggu masih oke lah nangis-nangis terus dibilang gua depresi, gua depresi putus cinta, “seru dr. Elvine dalam podcast bersama Raditya Dika. Menurutnya kata-kata depresi ini terlalu serius walau kadang cemas dan panik ya katakanlah cemas.
Oke, berarti kalau putus cinta dua minggu itu sedih namanya.
Diakui bahwa ada beberapa orang yang memang tidak matang secara mental, tidak bisa resilien. Jadi ketika dia melihat masalah, ada dua sebenarnya cara pandangnya, bisa melihat itu sebagai masalah atau melihat itu sebagai tantangan untuk bertumbuh. Makanya ada momen yang namanya post traumatic growth, “kamu boleh kena trauma, boleh kena sakit, tapi kamu harus bertumbuh dari trauma itu, ” terang dr. Elvine. Setelah dua minggu, ada yang cepat, ada yang lama dan ada yang bisa sendiri serta ada yang perlu dibantu. Jadi kemungkinan orang setelah putus cinta, dua minggu malah masuk ke depresi adalah ketidakmampuannya merespon trauma.
Balik lagi ke proses parenting orang tuanya seperti apa. Ada tipe orang tua yang memang senang ketika anaknya gagal dan dia tidak memberikan solusi. Kadang ada kontradiksi misalnya anak tantrum di depan mall, terus dia ditertawakan banyak orang karena dia guling-guling sebenarnya dia hanya butuh perhatian.
Ketika melihat dari pojok terus anaknya ditertawakan oleh banyak orang. Lantas bandingkan jika anak itu lalu dipeluk, terus bilang, “kenapa lu kecewa? enggak dapat barang lu? Oke nanti kita berjuang lagi buat beli barang itu ya?” Karena itu lebih enak didengar daripada memperlihatkan anak guling-guling, efeknya ketika ketrigger. Dia mempunyai respon emosi yang depresif itu maksudnya dia akan menjadi selalu merasa bersalah sehingga lebih gampang untuk mendeteksi dia cenderung jadi cemas.
Dia menambahkan bahwa ajarkan pula kepada anak tentang emosi jadi kalau misalnya anak kecewa sebenarnya itu proses penting dalam proses emosional kecerdasan emosional. Jadi belajar menambah, menamai dan melabel emosi apa. Artinya kalau dia bilang, “saya marah”. Dijawab saja, “Oke, good kamu bisa bilang kamu marah tapi boleh nggak nanti lain kali jangan banting piring, banting plastik kek banting squishy kek, atau misalnya kamu streaming, kek streaming juga kalau bisa yang bernada kan gitu, atau nge-beatbox kan nggak apa-apa kan, ”
Menurut dr. Elvine, ada dua yang paling utama yaitu Same dan Guilt, dikondisikan dari kecil bahwa hal ini tidak apa, tidak sempurna, alias tidak apa-apa.
Melihat di proses perjalanan gangguan jiwa sebenarnya sudah dimulai dari perut ibu. Jadi terbayang kalau si ibu misalnya tidak siap secara ekonomi buat memberikan gizi baik buat anak-anaknya. Momen attachment, jadi anak sebenarnya sudah bisa merasakan dia dicintai atau tidak semenjak dari perut ibunya. Jadi kalau di rumahnya sudah seperti perang dunia, maka kita tahu kalau bapak ibunya sering berantem keluarga pembentukan akan seprti apa di masa Toddler, Golden Period-nya, yang hadir dengan masa-masa kekerasan seperti itu dan itu bisa menurunkan nafsu otak yang sarafnya terus nanti dia masa remaja ya tinggal seperti apa. Sebenarnya karena karena secara fisiologis memang tidak sempurna betul secara psikologis tidak matang.
Fisiologisnya artinya secara fisik, komposisi otaknya kalau tadi mungkin neuron tidak sempurna sedang dan lain-lain atau chemical di kepala, berarti memang katakanlah gangguan depresi berarti kemungkinan memang ada dua : satu secara psikologis masa kecil tadi, dan fisiologis. Konsepnya jiwa itu bio psikososial spiritual. Oke, biologi bicara tentang fisik, dan otak psikologis bicara mengenai dukungan support secara psikologis yang dimiliki.
Bicara tentang stigma, bicara tentang keluarga, support sistem. Kalau cara bicara tentang budaya yakni tempat bertumbuh, dan spiritual tinggal belajar bagaimana nilai-nilai agama yang membantu untuk punya positive mindset.
Edukasi Podcast Kurangi Stigma “Orang Gila”
Ada beberapa tanggapan tentang bagaimana dr.Elvine yang di dalam media sosial seperti Instagram dan YouTube sering mengedukasi khalayak tentang pentingnya kesehatan mental. Seperti yang disampaikan oleh Ika Hana, lulusan S2 Psikologi UGM, bahwa pembawaan dokter Elvine cenderung cheerful dan logis, sehingga buat anak muda, mungkin banyak yang cocok karena isu yang dibahas adalah isu kekinian. Meski dengan pembawaan sedikit “cablak”. Edukasi ini menurutnya sangat penting apalagi sangat dibutuhkan oleh generasi Z yang saat ini sedang banyak berjuang, bahkan untuk mengurangi stigma Gen Z itu sendiri, terkait kesehatan mental.
Sama halnya pendapat Gilang, survivor bipolar yang juga tergabung dalam Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Solo Raya bahwa materi edukasi dalam YouTube dr.Elvine bisa diterimanya dan pesan-pesan yang disampaikan mudah dimengerti.[]
Reporter: Astuti
Editor : Ajiwan








