Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

DPP Pertuni Berkomintment Perjuangkan Perempuan Difabel dan Berikan Akomodasi yang Layak

Views: 49

Solidernews.com, Gunungkidul –

Memperingati Internasional Women’s Day ke – 30 tahun 2025, DPP PERTUNI dan Srikandi PERTUNI mengadakan webinar dengan tema “Kesetaraan Dimulai Dari Diri: Personal Branding Sebagai Kunci Perubahan.”

Hadir dalam webinar ketua dewan Pengawas Pusat PERTUNI, ketua Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Anak PERTUNI, Eka Pastiah, serta Setiawan Gema Budi selaku ketua umum PERTUNI.

Dalam sambutan pembukaannya, Setiawan Gema Budi menyatakan akan memberikan aksebilitas dan akomodasi yang layak bagi semua perempuan terutama perempuan difabel.

“Kami memahami Perempuan difabel menghadapi tantangan yang kompleks karena adanya interseksi difabel dan gender. Oleh karena itu PERTUNI memiliki komitmen kuat untuk memperjuangkan hak perempuan difabel secara holistik dengan mempertimbangkan faktor kehidupan mereka.

Kami menyadari mereka memiliki pengalaman yang unik sehingga kami berkomitmen untuk menghargai keragaman mereka.” Ujarnya.

Melalui tema percepat aksi untuk semua perempuan dan anak perempuan, dan hak kesetaraan pemberdayaan yang relevan untuk mewujudkan inklusifitas yang berkeadilan, Ketua Umum PERTUNI mengajak kepada seluruh warga masyarakat untuk membangun linkungan yang inklusif dan berkeadilan karena perempuan perlu kita sadari potensinya secara penuh.

Dalam webinar ini pula ketua Umum PERTUNI berharap dapat meningkatkan kesadaran dan inklusivitas yang berkeadilan sehingga menjadi langkah awal untuk memulai personal branding sebagai kunci perubahan.

Mengundang dua pembicara pakar di masing-masing bidangnya, yakni Mahretta Maha, SH, bendahara umum PERTUNI dan Rofi Rahmawan, dari BPJS Ketenagakerjaan Jakarta.

Mengawali webinar dengan menyampaikan materinya tentang Kepemimpinan Perempuan Difabel Mewujudkan Kesetaraan, Mahretta Maha, SH, menyatakan bahwa kesetaraan harus bisa dinikmati dan dirasakan oleh semua orang melalui perubahan yang ada dan tidak hanya berupa slogan saja.

Equality (persamaan) dan equity (kesetaraan) harus saling melengkapi fungsi. Karena equality adalah ilusi jika tidak dibarengi equity.” Jelas Mahretta. Sementara dalam penjabarannya Mahretta menyampaikan bahwa interseksionalitas adalah keberagaman yang dimiliki oleh semua orang dengan latar belakang yang berlapis dengan identitas ganda yang menuntut pemahaman dan tindakan tepat sasaran.

Bicara kepemimpinan, Mahretta menyatakan bahwa perempuan difabel tidak lagi menjadi bayangan, atau pelengkap. Tidak lagi menjadi nomor dua, karena sebenarnya untuk menjadi pemimpin perlu suara supaya perempuan difabel bisa didengar dan kebutuhan perempuan difabel bisa terakomodir sesuai interseksional masing-masing.

“Tentunya ada hambatan yang harus dihadapi, diantaranya hambatan sistemik, dimana perilaku perempuan difabel selalu dianggap kurang karena perempuan, bisa jadi karena banyak pekerjaan rumah tangga. Bukan karena kurangnya kemampuan perempuan difabel tapi karena kurangnya aksebilitas dan dukungan yang merampas hak perempuan difabel untuk menjadi pemimpin.” Tegas Mahretta.

Berlakunya gerakan global sebagai inspirasi bersama untuk berjuang atas hak yang sama supaya hak perempuan difabel dipenuhi, Mahretta mengajak untuk melihat dan belajar dari praktik baik yang bisa diadaptasi untuk kehidupan sehari-hari dari lingkungan terdekat, mengingat aksebilitas dan informasi itu penting dan menjadi bagian yang dibutuhkan perempuan difabel.

“Kita bisa melihat dari kesuksesan yang ada pada diri kita masing-masing dengan apapun yang kita kerjakan. Itu yang menjadi bukti dobrakan apa yang sudah kita lakukan, sehingga menjadi bagian dari cerita penting untuk diperhitungkan oleh semua orang.” Terang Mahretta.

Namun sayangnya kepedulian dan dukungan juga menjadi pukulan tersendiri bagi kepemimpinan perempuan difabel.

Salah satunya bentuk kepedulian akan keberadaan caregiver yang selama ini dianggap sebagai pembantu. Padahal sebagai mitra dalam perjalanan perempuan difabel meraih kemandirian, maka keberadaan caregiver sebagai bagian anggota tubuh, juga sebagai support sistem agar perempuan difabel bisa berkarya, berpartisipasi penuh dan bersuara sebagai pemimpin.

“Kita perlu dukungan emosional, dukungan psikologis dan dukungan sosial yang bisa menyuarakan hak kita, sehingga kita butuh komunitas sebagai ruang aman untuk berbagi tempat dan menguatkan, juga untuk merayakan pencapaian. Pastikan komunitas sebagai ruang aman dan kondusif supaya teman-teman berani bersuara.” Dalam paparannya Mahretta menyarankan jika mengalami kesulitan mencari pendamping atau personal asisten, maka sebagai difabel perlu mendorong dan merangkul masyarakat untuk menjadi support sistem agar kemandirian perempuan difabel bisa terbentuk. Karena pendamping atau personal asisten adalah bagian dari bentuk dukungan kemandirian. Bagian dari hak supaya perempuan difabel bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan secara lebih bermartabat.

“Dukungan harus ada dengan melibatkan keluarga, pemerintah dan sektor swasta, sehingga ketika semua unsur terlibat akan tercipta support sistem yang mendukung kemandirian difabel perempuan.” Memberi kesempatan dan panggung yang setara bagi Mahretta juga menjadi ajang bersama  mendobrak ketidak adilan.

“Kita perlu ruang untuk aksi nyata sebagai pembuktian dan diikut sertakan sebagai aktor dan tidak sebagai objek. Kita bangun kepemimpinan perempuan yang tangguh, berani, supaya tercipta lingkungan yang lebih inklusif. Apapun bentuknya kita bisa memperjuangkannya.” Tutup Mahretta diakhir materinya.[]

 

Reporter: Riyanti

Editor     : Ajiwan

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content