Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Ilustrasi Disleksia

Disleksia, Kompleksitas Permasalah dan Metode Fonik Sebagai Terapi

Solidernews.com. DISLEKSIA. Adalah gangguan dalam proses belajar. Ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Orang dengan disleksia, akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat.

 

Disleksia tergolong sebagai gangguan saraf pada bagian otak yang memproses bahasa. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak atau orang dewasa. Meski disleksia menyebabkan kesulitan dalam belajar, gangguan ini tidak memengaruhi tingkat kecerdasan.

 

Belum diketahui secara pasti penyebab disleksia. Namun kondisi ini diduga terkait dengan kelainan genetik yang memengaruhi kinerja otak, dalam membaca dan berbahasa. Sejumlah faktor diduga memicu kelainan genetik tersebut. Di antaranya: (1) riwayat disleksia gangguan belajar lain pada keluarga; (2) kelahiran prematur atau terlahir dengan berat badan rendah; serta (3) paparan nikotin, alkohol, NAPZA, atau infeksi pada masa kehamilan.

 

Kenali gejala disleksia

Disleksia dapat menimbulkan gejala yang bervariasi. Hal ini dipengaruhi usia dan tingkat keparahannya. Pada balita, gejala disleksia sulit dikenali. Tetapi setelah anak mencapai usia sekolah, gejalanya akan mulai terlihat, terutama saat anak belajar membaca.

 

Gejala yang muncul dapat terbagi dua berdasarkan waktu kemunculannya. Pertama, gejala disleksia pada anak. Antara lain: lamban dalam mempelajari nama dan bunyi abjad; perkembangan bicara lebih lamban dibandingkan anak seusianya; sering menulis terbalik (‘pit’ ditulis ‘tip’); sulit dalam membedakan huruf tertentu saat menulis (‘d’ dengan ‘b’ atau ‘p’ dengan ‘q’).

 

Selain keluhan di atas, anak dengan disleksia dapat mengalami kesulitan dalam sejumlah aktivitas berikut: 1) memproses dan memahami apa yang didengar; 2) menemukan kata yang tepat untuk menjawab suatu pertanyaan; 3) mengeja, membaca, menulis, dan berhitung, 4) mengingat huruf, angka, dan warna; 5) mengucapkan kata yang tidak umum; serta 6) memahami tata bahasa dan memberi imbuhan pada kata.

 

Kedua, disleksia pada remaja dan orang dewasa. Pada usia ini, disleksia dapat menyebabkan seringnya salah mengucapkan nama atau kata. Mereka juga kesulitan dalam membaca atau menulis.

Karenanhya, orang dengan disleksia cenderung menghindari aktivitas membaca dan menulis.

 

Disleksia juga dapat menyebabkan kesulitan dalam: 1) mengeja; 2) memahami lelucon atau ungkapan kata yang memiliki makna lain atau idiom kambing hitam, sebagai contoh; 3) menyimpulkan suatu cerita; 4) mempelajari bahasa asing; 5) mengingat sesuatu; dan 6) menghitung.

 

Menolong diri sendiri

Konsultasi kepada ahli, dokter dalam hal ini, penting untuk dilakukan. Konsultasi hendaknya segera dilakukan, ketika perkembangan kemampuan membaca dan menulis anak terlihat lambat. Atau anak memperlihatkan gejala disleksia seperti yang telah disebutkan di atas. Jika tidak segera ditangani, kesulitan membaca dapat berlangsung hingga dewasa.

 

Hal di atas mengemuka dari Roy, ayah dari remaja disleksia bernama Aqil Prabowo. Aqil yang kini berhasil menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dia melalui berbagai proses dan tahapan. Aqil mengaku bersyukur, mendapat support penuh dari kedua orang tuanya.

 

Aqil mengatakan, bahwa hingga kini dirinya masih menterapi dirinya sendiri. Kesulitan membedakan bunyi, memahami apa yang dibaca, masih menyertainya. “Sampai sekarang, saya masih terus melakukan terapi. Saya membawa buku bacaan, novel, atau buku bacaan apa saja yang saya suka. Saya harus menolong diri saya sendiri,” ujar Aqil.

 

Metode fonik

Deteksi dan penanganan dini, ujar Roy, terbukti efektif meningkatkan kemampuan membaca Aqil. “Salah satu metode yang paling efektif itu adalah metode fonik.  Yaitu membunyikan huruf-huruf, kata, juga kalimat, kami dilakukan sebelum Aqil sekolah,” ujarnya.

 

Lanjutnya, metode fonik ini berfokus meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi dan memproses suara. Beberapa hal dalam metode fonik tersebut ialah: (1) mengenalkan bunyi kata yang terdengar mirip, sebagai contoh :‘pasar’ dan ‘pagar’; (2) mengeja dan menulis, mulai dari kata sederhana hingga kalimat yang rumit; (3) memahamkan huruf dan susunan huruf yang membentuk bunyi tersebut; (4) membacakan kalimat dengan tepat dan memahami makna yang dibaca; serta (5) menyusun kalimat dan memahami kosakata baru.

 

Peran penting orangtua

Orang tua dapat menerapkan berbagai latihan, guna membantu anak-anak disleksia mengatasi permasalahannya. Latihan tersebut di antaranya:

  • Membaca dengan suara keras di hadapan anak
    Langkah ini akan lebih efektif bila dilakukan pada anak usia 6 bulan atau kurang. Jika anak sudah cukup dewasa, ajak ia membaca cerita bersama-sama.
  • Beri semangat pada anak agar berani membaca
    Hilangkan ketakutan anak untuk membaca. Dengan rutin membaca, maka kemampuan baca anak akan meningkat.
  • Bekerja sama dengan guru di sekolah
    Bicarakan kondisi anak dengan gurunya, kemudian diskusikan cara yang paling tepat untuk membantu anak agar berhasil dalam pelajaran. Rutinlah berkomunikasi dengan guru agar orangtua mengetahui perkembangan anak di sekolah.
  • Bicara dengan anak tentang kondisinya
    Beri pemahaman pada anak terkait kondisi yang dialaminya. Beri tahu juga bahwa kondisi yang dialaminya dapat diperbaiki sehingga anak semangat untuk belajar.
  • Batasi menonton televisi
    Batasi waktu anak menonton televisi dan sediakan waktu lebih banyak untuk belajar membaca.
  • Bergabung dengan support group
    Bergabunglah dengan kelompok dukungan dengan kondisi yang sama. Pengalaman orang tua lain yang anaknya mengalami disleksia dapat memberikan pelajaran berharga untuk meningkatkan kemampuan anak.

 

Pada akhir perbincangan, Roy menyampaikan berbagai kompleksitas permasalahan akan dihadapi orang dengan disleksia. Di antaranya: (1) kesulitan dalam belajar; (2) gangguan interaksi sosial; (3) gangguan perilaku dan kecemasan; (4) mudah marah dan cenderung mengasingkan diri; serta (5) kesulitan dalam mencari pekerjaan.

 

“Peran orangtua sangat penting dalam membantu anak-anak dengan disleksia, menyingkirkan hambatan. Penting juga memahamkan pada anak, kondisi disleksia yang melekat. Sehingga anak akan tumbuh kesadaran dalam mengatasi kondisi atau masalahnya,” pungkas Roy, Senin (1/7/2024)[].

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air