Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Difgandes Aplikasi Kebencanaan bagi Difabel dan Lansia

SoliderNews. Yogyakarta –DISABILITAS Siaga Bencana (Difagana). Adalah relawan kemanusiaan tanggap bencana. Organisasi relawan yang beranggotakan para difabel ini, dibentuk dan diresmikan secara langsung oleh Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinsos DIY), pada 2017.

Keberadaannya sangat penting, mengingat banyaknya potensi bencana yang terjadi di DIY.

 

Pada awal tahun 2023, Difagana meluncurkan sebuah aplikasi yang diberi nama Difgandes. Aplikasi kebencanaan bagi difabel dan lansia di Indonesia. Aplikasi Difgandes berfungsi mempermudah akses informasi bagi difabel netra dan tuli, terkait kebencanaan.

Satu aplikasi yang cukup inovatif. Di dalam aplikasi difgandes menyediakan data masyarakat rentan di suatu wilayah. Secara spesifik juga menyajikan karakteristik fisik, maupun rekam medis secara umum. Sehingga, saat di pengungsian, data sudah tersedia. Data tersebut akan memudahkan pemenuhan kebutuhan para difabel pengungsi.

Terdapat  berbagai hal penting yang diperoleh dari aplikasi difgandes. Di antaranya: (1) informasi kebencanaan untuk meningkatkan pengetahuan; (2) edukasi kebencanaan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan akan kebencanaan; (3) cara berkomunikasi yang sesuai dan tepat; serta (4) menjadi kelompok warga yang mendapatkan prioritas dalam pengelolaan penanggulangan bencana.

Di tengah proses penyempurnaan aplikasi, sosialisasi penggunaan aplikasi difgandes terus digencarkan. Harapannya, aplikasi difgandes dapat direplikasi oleh Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) serta Pemerintah Daerah (Pemda) di Kabupaten/Kota Provinsi DIY.

 

Tersebut di atas, mengemuka pada agenda Focus Group Discussion (FGD) Rencana Aksi Daerah Penyandang Disabilitas (RAD PD), yang dihelat Perhimpunan Ohana dan Sigab Indonesia. Kegiatan telah berlangsung di Hotel Keisha, Selasa dan Rabu, 7-8 November 2023.

 

Tentang difagana

Difagana, lahir sebagai bentuk Pemda DIY dalam hal ini Dinsos, mengimplementasikan amanat UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Pada pasal 109 ayat 3 berbunyi, penyandang disabilitas dapat berpartisipasi dalam penanggulangan bencana. Partisipasi penyandang disabilitas juga diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2020 pasal 22 ayat (1). Sedang pasal 21 ayat (2), berbunyi penanggulangan bencana dapat mengikutsertakan penyandang disabilitas dan pihak lainnya.

Difagana, memiliki kaitan dengan Sahabat Taruna Siaga Bencana (Tagana). Dalam praktik kebencanaan, Difagana bertugas melakukan pendataan penyandang disabilitas di lokasi bencana. Di antaranya, mendata kebutuhan alat bantu, pengelolaan shelter pengungsian, manajemen logistik, dapur umum, layanan dukungan psikososial, serta melakukan edukasi.

Para anggota dilatih untuk berkontribusi di situasi bencana dalam berbagai aspek. Di dapur umum, satu contoh. Anggota Difagana dilatih manajerialisasi logistik yang diperlukan bagi sejumlah pengungsi. Di antaranya, pengelolaan shelter pengungsian, termasuk membangun tenda bagi para pengungsi.

Sebanyak 121 anggota Difagana telah direkrut sejak 2017. Mendapat pelatihan langsung dari Tagana sebagai Pilar Sosial di bawah naungan Kementerian Sosial. “Teman-teman Difagana ini dimentori oleh Tagana. Mereka bisa mendirikan tenda selama 7 menit. Lahirnya Difagana, diharapkan dapat mengubah mindset masyarakat. Bahwa penyandang disabilitas (difabel) adalah subyek,” ujar Sigit Alifianto, Kabid Perlinsos DIY.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air