Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Difalitera; Perjalanan Mengupayakan Inklusi Karya Sastra

Solidernews.com – Misbahul Arifin, pegiat difabel di Solo, dalam catatan penulis,  pada kegiatan peluncuran difalitera.org enam tahun lalu di Balai Soedjatmoko menyatakan bahwa web sastra suara Difalitera  sangat membantunya. Kebermanfaatan yang ia ambil, karena Difalitera dalam konten-konten sastranya  berupa cerpen, puisi dan dongeng  yang berkhidmat pada nada dan intonasi pesuaranya, dapat menjadi pelipur lara. Ia biasa mendengarkan ketika dalam keadaan sendiri.

 

Tak hanya Misbahul Arifin, Hany, seorang anak TK  berusia enam tahun pun sangat menikmati tatkala ia belajar bahasa Inggris di konten English Lesson. Hany tak hanya belajar dengan mendengarkan tetapi mengulang kata-kata yang diucapkan. Ia juga sering mendengar dongeng-dongeng yang dibacakan pada Difalitera. Kesukaannya mendengar dongeng kemudian menjadi kebiasaan  juga untuk turut bercerita seperti apa yang didengarnya.

 

Konten-konten yang termuat di web Difalitera, semua berjumlah 300-an ternyata juga ramah anak. Tentu hal demikian karena proses kurasi yang cukup panjang.

 

Indah Darmastuti, founder Difalitera  di penggalan paparan dalam sebuah sarasehan yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Surakarta  mengatakan bahwa minat awalnya untuk memenuhi kebutuhan difabel netra dalam mengakses sastra. Kita semua tahu bahwa buku adalah jendela dunia. Namun buku secara teks atau fisik berbentuk kertas tentu amat sulit diakses oleh difabel netra. Kemudian lahirlah audiobook yang melewati bata-batas secara fisik, tidak butuh kertas, dan taktil bagi difabel netra. Karena ia hadir dalam bentuk sastra  suara dengan berbagai intonasi yang mengikutinya.

 

Diawali dari siaran radio bersama Solopos FM oleh Komunitas Sastra Pawon pada suatu waktu yang menghadirkan teman-teman difabel netra dan Tuli, (Pawon sastra juga pernah mengundang teman autis dan saya teman siaran tersebut). Bahwa akses teman-teman difabel terhadap sastra sangatlah minim karena jumlah bacaan braille dan buku audio yang terbatas dan teman-teman Tuli yang sulit memahami struktur Bahasa Indonesia terkait Subjek, Predikat, Objek, Keterangan waktu/tempat (SPOK).

 

Agatha Febriany, netra pegiat difabel yang juga pegiat teater netra menyatakan bahwa sastra dalam bentuk audio sangat dibutuhkan. Sedangkan Aprilian Bima, pegiat Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) mengatakan bahwa dia sering perform ‘membaca’ puisi dengan memperagakan bahasa isyarat.

 

Gayung pun bersambut karena usai siaran Indah Darmastuti yang pernah  memiliki kerja bareng dengan empat mahasiswa Universitas Sebelas Maret untuk  mengerjakan audiobook sebagai  tugas kuliah dan bersumber bacaan dari novel Indah. Kepingan CD audiobook sastra tersebut kemudian beredar di SLB untuk netra di SLB Yayasan Kesejahteraan Anak-Anak Buta (YKAB) Solo. Tak hanya bertemu secara maya namun dengan teks baca atau  suara-suara.

 

Difalitera yang awalnya adalah sebuah wadah yang berisi para pegiat sastra yang menyumbang suaranya serta para penulis sastra yang juga memberikan sebagian  karyanya secara cuma-cuma, beranak-pinak. Tak melulu berusaha menggandeng para difabel netra penikmat sastra saja, yang beberapa di antaranya juga ikut mencicipi workshop menulis cerpen dan puisi serta membaca karya sastra. Tetapi kemudian kegelisahan Indah ia wujudkan dalam membentuk perjumpaan-perjumpaan secara fisik. Selain pernah menyelenggarakan pelatihan, juga memiliki agenda rutin “kopi darat” yang lagi-lagi diisi dengan pembacaan karya sastra terutama novel sesuai dengan pesanan atau keinginan para difabel penghuni asrama YKAB. Mereka menikmati pembacaan novel Canting karya Arswendo Atmowiloto, novel horor karya Risa  Saraswati dan beberapa karya lainnya. Kemudian lahirlah  komunitas yang disebut Teras Baca

 

Tak berhenti hanya di situ. Karena keinginan teman netra sangat kuat untuk bisa mengakses fasilitas publik, maka arti  “membaca” kemudian bergeser atau lebih tepatnya meluas makna menjadi membaca situs sejarah dan budaya. Hal pertama yang dibidik adalah menjelajah tempat legendaris yakni Kampung Lodji Wetan.

 

Dalam catatan penulis kala itu. Faisal Mustofa tampak intens memainkan alat musik yang baru pertama kali ini dipegangnya. Alat musik yang bernama Guitar Q-Chord tersebut tanpa sulit ia mainkan setelah mendapat pengarahan dari Pendeta Yopi Rahmat yang sejak dari awal menyambut dengan ramah.  Beberapa lagu berhasil ia iringi di antaranya adalah Indonesia Pusaka dan Serumpun Padi di dalam Gereja Pantekosta, sebuah situs sejarah yang berada di Komplek Lodji Wetan. Selain Guitar Q-Chord, Faisal juga memainkan Akordion, alat musik mirip piano namun dimainkan dengan cara menggantungkan alat musik tersebut di badan pemain. Tangan kiri pemain memainkan tombol akord sedang tangan kanan melodi.

 

Selain Faisal, siswa program seni musik SMKN 8 Surakarta, ada Yanti, atlet difabel yang tertarik memainkan musik juga. Di ruangan yang sama, yang biasanya dipergunakan sebagai ruang peribadatan duduk pula Bayu Sadewo, Imam Ma’ruf, Wahid Noer Hidayat, Ira, Sobirin, Rizqi dan dan beberapa difabel netra lainnya yang mengikuti napak tilas sejarah dan budaya bertajuk “Difalitera Membaca Solo”. Sebagai pemandu bagi mereka adalah pegiat Soeracarta Heritage Society, Surya Hardjono.

 

Gereja Pantekosta adalah pemberhentian terakhir kegiatan di Sabtu pagi itu. Sebelumnya mereka telah menyambangi gedung-gedung tua seperti Gedung Opak, atau kantor irigasi di Zaman Belanda. Juga bersilaturahmi di rumah Eveline, seorang penghuni salah satu rumah tua di komplek Lodji Wetan tersebut yang menjamu rombongan dengan sangat baik. Di rumah Eveline, mereka diperkenalkan dengan bangunan pilar rumah khas Eropa yang biasa berada di teras rumah. Untuk mengukur betapa besar pilar itu kawan-kawan netra memeragakannya  dengan cara memeluk pilar tersebut.

 

Membaca situs sejarah dan budaya tidak hanya berhenti sekali itu saja. Kegiatan berlanjut dengan membaca candi, salah satunya Candi Sukuh. Sebanyak 14 pasang relawan anndan dan difabel netra dari Teras Baca  berangkat dari Asrama Urici, asrama khusus putra bagi difabel netra milik Yayasan Kesejahteraan Anak-anak Buta (YKAB) yang beralamat di Kampung Wonosaren, Kelurahan Jagalan. Dua armada minibus Elf dan sebuah mobil Avanza menjadi alat transportasi yang membawa kami menuju lereng Gunung Lawu.

 

Difalitera dan Teras Baca selain berkegiatan secara out door dengan mengakses fasilitas publik berupa situs sejarah  dan budaya, salah satunya yakni Jelajah Museum  Lokananta yang juga sangat dinikmati oleh para pegiat netra. Mereka tak hanya diperkenalkan dengan sebuah tempat rekaman yang melegenda dan penghasil piringan  hitam besar pada zamannya tetapi juga sebuah tempat kongkow yang sekarang menjadi fasilitas publik dan mudah diakses.

 

Difalitera juga  pernah berpiknik lebih jauh lagi yakni dengan menggunakan fasilitas kereta bandara dari Stasiun Balapan Solo hingga Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Penggunaan fasilitas publik ini tak serta merta dalam rangka berpiknik tetapi juga ada advokasi bersama. Sebab upaya-upaya yang dilakukan tidak hanya berhenti pada pemenuhan hak untuk mengakses karya sastra saja sebab akhirnya berjejaring pula dengan para pemangku kebijakan.

 

Seperti halnya belajar sejarah tentang Kota Surakarta yang jika disusur maka tak ada habisnya. Difalitera pun juga belajar sejarah bagaimana kota Surakarta terendam banjir. Ditunjukkan dengan kunjungan ke Bendung Tirtonadi yang merupakan bendungan yang memisahkan aliran kali anyar sehingga membelah ke kota Surakarta dengan lebih aman. Karena berdekatan dengan lokasi Terminal Tirtonadi maka perjalanan mengakses terminal adalah mengasyikan.

 

Ada banyak lagi perjumpaan-perjumpaan dan perjalanan-perjalanan yang ditunaikan oleh Difalitera dan para pegiat Teras Baca. Mereka juga menyusuri Taman Balekambang yang di sana ada Patung Partini, putri dari Mangkunegara yang juga bergiat di dunia sastra. Teman-teman difabel netra menuangkan tulisan dalam bentuk braille dan rekaman itu menjadi saksi sejarah atas penelusuran mereka menapak Taman Balekambang.

 

Setelah pernah mengakses Kereta Bandara dengan tujuan Yogyakarta. Mungkin bisa dikatakan  selama ini perjalanan terjauh mereka adalah perjalanan  menemukenali Omah Petroek, Yogyakarta. Setelah bersarasehan dengan Romo Sindhunata, pendiri Omah Petroek untuk beberapa saat, segenap pegiat Difabelitera dan Teras Baca juga berkenan menghaturkan hiburan berupa pembacaan puisi serta penampilan keroncong. Mereka mengakses tempat-tempat ibadah yang ada, musala yang ada patung Gus Dur, Juga tempat ibadah bagi pemeluk  Konghucu.

 

Difalitera Saat Pandemi COVID-19

Ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia dan dunia, difalitera membatasi kegiatan secara luring, hanya beberapa saja pertemuan membaca Teras Baca yang berlangsung dengan ketat sesuai aturan/prosedur, menjaga jarak, memakai masker dan hand sanitizer. Mengapa kegiatan Teras Baca masih dilakukan meski hanya dua atau tiga kali saja dalam kurun waktu itu? Sebab banyak siswa dan mahasiswa yang tinggal di asrama pulang kampung. Namun ada beberapa yang tinggal dan mereka menghendaki ada kegiatan dengan catatan seperti di atas.

 

Sebagaimana kegiatan pembacaan karya sastra yang dibatasi. Kegiatan perekaman suara pun juga sangat terbatas. Namun daripada tidak ada kegiatan sama sekali selama dua tahunan tersebut, maka beberapa kegiatan pengambilan suara tetap dilakukan apalagi saat itu Difalitera pernah lolos dalam program yang dibiayai oleh Kemendikbud yakni pengalihsuaraan bahasa Ibu Sastra Nusantara. Difalitera kemudian berfokus kepada program tersebut.

 

Terkait hak cipta karya-karya yang diaudiokan, Difalitera sudah ada perjanjian dengan pencipta karya dengan cara memberi honor karya tersebut dengan besaran harga yang ditentukan oleh kedua pihak. Biasanya hal ini terkait bila ada sponsor yang membiayai.  Namun ada pula pengarang yang memberikan secara cuma-cuma.

 

Kerja sama dengan pihak lain juga dilakukan seperti baru-baru ini  Difalitera bekerja sama dengan media maghrib.id  dengan mengalihsuarakan karya-karya cerpen yang terbit di web tersebut dengan sepengetahuan dan seizin pengarang.

 

Difalitera yang saat ini berumur enam tahun dan telah berbadan hukum setelah beberapa waktu berdiri dan berwujud sebagai perkumpulan. Perkumpulan ini juga memilih Daeng Malik, difabel netra pegiat isu difabel yang tinggal di Makassar  sebagai salah seorang pengurus.

 

Difalitera Akan Terus Berkarya

Jika di hari ini Anda bertanya, apakah  Difalitera akan terus memproduksi audio book atau sastra suara? Indah Darmastuti yang penulis temui di awal tahun 2024 saat penulis  mengisi suara pada karya novelet,  mengatakan jika Difalitera akan terus membuahkan karya-karya audio. Tak hanya itu, pihaknya yang selama ini telah menjalin beberapa kerja sama dalam produksi alih wahana suara tersebut juga tak pantang surut untuk terus mengadakan perjumpaan dan perjalanan bagi teman Teras Baca. “berkarya dengan riang gembira jalan terus, berpiknik pun akan kita usahakan ada terus, dengan catatan asal ada sponsor. Karena di dalamnya pastinya selalu ada pembelajaran-pembelajaran,” jawab Indah Darmastuti yang di luar profesinya sebagai penulis, ia sehari-hari bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan.[]

 

Reporter: Astuti

Editor     : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air