Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Dua pria duduk berhadapan di sebuah meja. Seorang pria mengenakan kaos merah, sementara pria lainnya memakai batik (Irwan Dwi Kustanto). Irwan tampak memegang tangan pria berbaju merah dengan penuh konsentrasi. Di atas meja ada gelas kecil bertutup merah muda. Foto ini diambil di dalam ruangan.

Difabel Netra Menekuni Hipnoterapis: Antara Peluang, Tantangan, dan Solusi

Views: 14

Solidernews.com – Profesi hipnoterapis mulai mendapat perhatian sebagai salah satu bidang kerja yang terbuka bagi difabel netra. Berbeda dengan banyak pekerjaan yang menjadikan penglihatan sebagai tonggak utama kelancaran kerja, hipnoterapi justru mengedepankan kekuatan komunikasi, ketenangan suara, serta kedalaman empati. Kualitas-kualitas ini dapat dimiliki oleh difabel netra, sehingga profesi hipnoterapis dapat menjadi sebuah peluang baru.

Hipnoterapi merupakan praktik terapi berbasis sugesti yang membantu seseorang masuk ke kondisi rileks atau trance untuk mengatasi masalah psikologis, perilaku, hingga gangguan kebiasaan. Profesi ini semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental. Keberadaannya tidak hanya sebatas alternatif medis, tetapi juga menjadi ruang pemulihan dan pemberdayaan individu.

Bagi difabel netra, peluang menjadi hipnoterapis cukup terbuka. Profesi ini tidak mensyaratkan penglihatan tajam, melainkan kemampuan membangun kepercayaan, mengolah intonasi suara, serta menghadirkan ketenangan bagi klien. Justru, pengalaman hidup difabel netra dalam menghadapi hambatan bisa menjadi modal empati yang kuat dalam memahami perasaan orang lain.

Secara sederhana, Hipnoterapi dapat dipahami sebagai metode terapi yang menggunakan teknik hipnosis—yakni kondisi relaksasi mendalam atau trance—untuk membantu seseorang mengakses pikiran bawah sadar. Dalam kondisi tersebut, individu lebih mudah menerima sugesti positif yang bisa membantu mengatasi berbagai masalah, seperti kecemasan, trauma, kebiasaan buruk (misalnya merokok), gangguan tidur, hingga meningkatkan kepercayaan diri.

 

Difabel Netra Jadi Hipnoterapi Bukanlah Mimpi

Hipnoterapi dianggap menjadi bagian dari psikoterapi karena seorang hipnoterapis akan mengeksplorasi pikiran, perasaan, atau ingatan menyakitkan yang dialami pasien tetapi tersembunyi di dalam alam bawah sadarnya. Melalui berbagai tahapan, metode, dan bimbingan, pasien akan dibantu untuk rileks dan mengikis keluhan yang dialami.

Solidernews terhubung dengan Irwan Dwi Kustanto, difabel netra yang menggeluti dunia hipnoterapi dengan medium kopi. Selain itu, ada Ida Bagus Surya Manuaba, yang juga merupakan seorang hipnoterapis difabel netra yang sudah mendapatkan sertivikasi dari lembaga sertivikasi profesi, LSK Hipnoterapi Indonesia yang bekerja sama dengan KEMDIKBUD, untuk melakukan uji dan sertivikasi kompetensi.

Simak juga ..  Cara Difabel Netra Jadi Konten Kreator yang Hasilkan Cuan

Sebagaimana cerita Ida Bagus, yang disampaikan kepada Solidernews, 18 Agustus 2025, “Alasan saya menggeluti profesi hipnoterapis itu disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat di daerah saya tentang kesehatan mental. Jadi, akhirnya saya ikut pelatihan dan Juli kemarin sudah mendapatkan sertivikasi resmi dari  Lembaga Sertifikasi Kompetensi Hipnoterapi Indonesia”.

Ida Bagus, mempelajari skill hipnoterapis di pelatihan profesi dan keahlian yang diadakan oleh pemerintah. Di mana memang belum semua lembaga pelatihan hipnoterapi dapat mengakomodir difabel netra. Tetapi, bila memang mau mencari dan memastikan serta mengenalkan diri dengan sejujurnya, pasti akan ada jalan.

“Saya malah ikut dari lembaga dari Banten. Namun, saat itu lembaga tersebut tengah membuka workshop dan pelatihan di Bali. Jadi, saya ikut di pelatihan tersebut, setelah terhubung dengan admin dan mentor terkait,” ungkapnya.

Sedangkan menurut Irwan Dwi, sebagaimana disampaikannya kepada Solidernews saat dijumpai di Kopi Egalita pada 20 Agustus 2025, ketertarikannya menekuni profesi hipnoterapi berawal dari keresahan terhadap kondisi rekan-rekan difabel netra yang mengalami kebutaan di usia dewasa. Banyak di antara mereka dilanda trauma dan depresi. Pada tahun 2007, ketika ia aktif di Yayasan Mitra Netra Jakarta, Irwan berupaya mencari metode terapi dan rehabilitasi yang mampu memulihkan semangat serta harapan hidup mereka. Dari proses pencarian itulah, hipnoterapi akhirnya ia temukan sebagai salah satu solusi.

“Saat itu saya mencoba dan terus mencari metode yang secepat mungkin mengembalikan mental difabel netra, sehingga mereka mudah untuk direhabilitasi. Dan akhirnya saya menemukan hipnoterapi sebagai terapi. Di mana saya lalu belajar ke beberapa ahli hipnoterapi waktu itu,” tuturnya.

 

Dari Tantangan Menuju Peluang Keahlian

Sebagaimana penjelasan dari dua narasumber di atas, kendala yang di hadapi  adalah Kebiasaan dan SOP Hipnoterapis non-difabel itu umumnya analisis visual. Misal melihat perubahan cahaya mata, raut wajah, ekspresi, dan sejenisnya. Tentu hal ini menjadi tantangan bagi difabel netra yang ingin berprofesi sebagai hipnoterapis.

Simak juga ..  Portal Webstite yang Aksesiel : Hak Dasar Bagi Difabel yang Belum Sepenuhnya Terpenuhi

Selain itu, untuk mendapatkan akses pelatihan hipnoterapis juga tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak bisa diakses sepenuhnya. Lewat kekuatan jaringan dan terus mencoba pasti ada jalannya.

“Saya dahulu sempat mendapatkan penolakan dari beberapa lembaga pelatihan hipnoterapis sebab kondisi kebutaan saya. Tapi, saya akhirnya bertemu dengan lembaga yang kini menjadi tempat belajar dan ruang suport karier saya, di mana waktu itu, saya memastikan diri bisa berkomunikasi dengan baik dan bisa memaksimalkan pendengaran, maka pembelajaran hipnoterapi dapat saya akses,” jelas Ida Bagus.

Pada hipnoterapis difabel netra, kunci dari persoalan visual tadi, diubah menjadi beberapa metode. Misalkan dengan mendengarkan pernapasan, suara bicara yang disampaikan, dan juga metode sentuh pada jari klien. Sehingga, analisis reaksi hingga memastikan bahwa pasien sudah rileks atau trance dapat dikonfirmasi oleh sang hipnoterapis.

“Saya mengubah interaksi visual menjadi sentuhan dengan seijin pasien. Jadi, untuk mengarahkan dan memulai terapi, saya akan menggunakan media jari untuk mengkonfirmasi perintah yang saya berikan. Misal gerakan jari tengah untuk iya, dan diam saja bila tidak. Sehingga saya bisa mengamati level terapi yang sedang dijalankan pasien,” jelas Irwan Dwi.

Dari berbagai modifikasi tadi, dalam satu sesi hipnoterapi difabel netra dapat mendampingi pasien secara baik. Proses terapi biasanya dimulai dengan wawancara awal (pre-talk) untuk menggali masalah klien dan membangun rasa percaya, dilanjutkan dengan induksi agar klien masuk ke kondisi rileks dan fokus, kemudian pendalaman (deepening) untuk memperkuat kondisi hipnosis. Setelah itu, terapis melakukan intervensi terapeutik berupa pemberian sugesti positif atau teknik tertentu guna membantu penyembuhan, diikuti dengan post-hypnotic suggestion agar efek terapi bertahan dalam keseharian. Sesi ditutup dengan pengakhiran (termination) untuk mengembalikan kesadaran penuh, serta refleksi singkat tentang pengalaman dan tindak lanjut bagi klien.

 

Peluang Profesi bagi Difabel Netra

Untuk menjadi seorang hipnoterapis dibutuhkan pelatihan dari lembaga berkompeten. Selain itu, dibutuhkan juga komunikasi yang baik, serta kemauan yang kuat untuk belajar. Apalagi sebagai difabel netra, tentu akan banyak modifikasi yang harus diijinkan oleh yang berkompeten, misal organisasi perkumpulan profesi hipnoterapi seperti PRAHIPTI.

Simak juga ..  Koperasi Paraikatte: Membaca Perjalanan Koperasi Difabel Netra di Makassar

“Tentu untuk belajar saya siap mendampingi, namun untuk praktik tetap dibutuhkan sertivikasi dari pihak yang berwenang,” jelas Irwan Dwi.

Sedangkan menurut Ida Bagus, penting sekali untuk ikut sertivikasi profesi, uji kompetensi, dan pengakuan secara sah dan legal. Gabung dengan organisasi profesi juga menjadi aspek penting. Untuk pemasaran, bisa memaksimalkan edukasi seperti dengan menulis buku atau membuat konten di media sosial.

“Saya tergabung di PRAHIPTI, menulis buku untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental dan hipnoterapi difabel netra, juga melakukan edukasi di media sosial,” jelas Ida Bagus.

Bagi Irwan Dwi dan Ida Bagus, difabel netra juga berpotensi menjadi hipnoterapis profesional. Mereka sudah membuktikan sendiri. Dengan kemauan, tekad, dan semangat untuk memperbaiki keadaan, hipnoterapi selain bisa untuk menerapi orang lain, di keadaan tertentu juga bisa digunakan untuk terapi diri sendiri.

“Kalau soal difabel netra ingin jadi hipnoterapis, tentunya sangat berpeluang sekali. Asal memiliki komunikasi bagus dan niat yang gigih. Karena saya sudah membuktikan, dan sudah menjadi difabel netra yang mendapatkan sertivikasi dan pengakuan kompetensi di profesi hipnoterapi dalam menjalankan praktik,” jelas ida Bagus.

“Semua dapat dipelajari, apalagi ditambah dari wawasan dari buku dan seminar. Tapi, jelas. Untuk ijin praktik, itu bisa didapatkan dari organisasi profesi dan lembaga sertivikasi, bila kedepannya ingin dijadikan peluang karier,” jelas Irwan Dwi.

Lebih jauh, Irwan Dwi, juga menegaskan bahwa skill terapi pijat bila dikolaborasikan dengan skill hipnoterapi tentunya akan menjadi peluang ekonomi yang tinggi. “Bila di kolaborasikan, tentu kita bisa memasang tarif yang lebih tinggi, dari pada hanya mengandalkan satu sekill saja”.[]

 

Reporter: Wachid Hamdan

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content