Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Difabel Kuliah di Jurusan yang Anti Mainstream; Ini Sstrateginya

Solidernews.com – Masuk dan dapat mengenyam pendidikan tinggi, sudah barang tentu hal ini menjadi harapan tiap-tiap siswa yang kini tengah menduduki bangku kelas 3 SMA. Gambaran mahasiswa, orang-orang intelek, berbicara cas, cis, cus kayak Rocky Gerung kadang menjadi impian para generasi muda. Termasuk di dalamnya adalah para siswa difabel yang terus berjuang menimba ilmu dengan segala tantangan yang setia menemani. Banyak dari mereka, di era modern kini merasa antusias untuk bisa duduk di meja kuliah, bertemu para profesor, dosen, dan kawan yang berjibaku di ranah keilmuan.

 

Pada era zaman yang sudah makin maju, kini pendidikan layak bagi difabel sudah bukan menjadi barang mustahil. Semua siswa dengan kategori ABK (Anak berkebutuhan Khusus) sudah bisa bernapas lega dengan mudahnya akses sekolah bagi mereka. Apalagi hal itu dikukuhkan dengan peraturan resmi dari pemerintah dengan UU. Pendidikan Inklusif  bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang diatur dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV Pasal 5 ayat 2, 3, dan 4 dan Pasal 32 yang menyebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan (fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial) atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif, baik pada tingkat dasar maupun menengah. UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas Pasal 10 menyebutkan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus berhak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu di semua jenis, jalur dan jenjang pendidikan.

 

Tentu meski berbagai kemudahan pendidikan bagi difabel terus diupayakan, hal tersebut tidak lepas dari kekurangan-kekurangan di berbagai sisi. Banyak sebab memang, seperti tenaga ajar yang belum memahami konsep pendidikan inklusif, para pelajar yang kurang diedukasi soal pendidikan inklusif, dan prasarana sekolah yang belum memadai bagi siswa difabel. Namun, hal itu tidak lantas menjadi pemicu putusnya pendidikan tinggi bagi difabel. Sudah banyak kampus yang memiliki kualifikasi bagus tentang isu pendidikan inklusif, seperti UIN Sunan Kalijaga dengan PLD (Pusat layanan Difabel), UGM dengan Pokja ULD dan Academic Coaching-nya, dan lain-lain.

 

“Dahulu sewaktu saya berusia 19 tahun, di tahun 2000-an, kuliah bagi saya itu ndak ada bayangan, mas. Semua itu serba sulit. Belum lagi isu difabel di kalangan kampus belum menjadi fokus yang disadari bersama oleh seluruh civitas akademik. Akhirnya, saya memutuskan berkerja dan tidak berkuliah,” tutur Hadi (44) seorang difabel netra, menceritakan kisah sekolahnya pada 10/06/2024 di kediamannya.

 

Bila para difabel berkuliah di jurusan yang memang menjadi jujukan minat mahasiswa difabel, itu sudah menjadi hal lumrah. Misal Difabel banyak yang di jurusan keguruan, konseling, sosiologi, dan sejenisnya. Namun, apa jadinya bila difabel memilih jurusan yang tidak menjadi keumuman bagi difabel lain? Bisakah difabel tersebut berkuliah dengan lancar? Berikut pengalaman saya yang berkuliah di jurusan dengan difabel yang sangat minim. Bahkan di angkatan saya dan tiga tingkat di bawah saya itu belum ada lagi difabel selain saya.

 

Berkuliah atas kehendak sendiri, bukan setiran orang lain

Berkonsultasi dengan kating difabel sudah menjadi hal lumrah, bagi difabel muda untuk mencari wangsit berkuliah. Mulai sharing, diskusi, dan arah jurusan yang prospek-nya tinggi bagi difabel biasa menjadi topik hangat pembahasan di selang waktu liburan kelulusan. Di sinilah biasanya difabel mendapatkan informasi seputar perkuliahan, teknik bertahan, dan cara belajar. Selain informasi dari kakak tingkat, mencari informasi di internet, dan mengikuti seminar dari petugas kampus juga menjadi serapan lain, terkait arah kampus bagi para difabel.

 

Saya pribadi sewaktu memilih jenjang kuliah, jujur juga melakukan hal di atas. Sebagai difabel netra saya cukup mendapatkan arah dari kakak tingkat difabel untuk berkuliah di jurusan yang di situ sudah biasa ada mahasiswa difabelnya, seperti keguruan, sosiologi, sosiologi agama, Pengembangan Masyarakat Islam, dan sejenisnya sewaktu saya bertanya terkait UIN Sunan Kalijaga.

 

Namun, akhirnya saya memilih jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga. Di mana jurusan itu sangat jarang ada difabel. Seperti di angkatan saya yang resmi berkuliah di tahun 2020, mahasiswa difabel di jurusan SKI itu hanya saya sendiri, selaku difabel netra. Memang tantangannya sangat jelas. Harus berhadapan dengan huruf kuno, arsip berbahasa belanda, dan hal-hal yang berbau masa lampau yang itu otomatis tidak dapat saya akses dengan mudah.

 

Cari Alternatif Solusi, Bukan Malah Merutuki Diri

Menyadari bila jurusan saya jarang ada difabel masuk, saya memutuskan untuk mencari solusi. Hal ini selaras dengan keputusan saya yang memilih SKI sebagai jurusan kuliah. Konsekuensi nyata yang saya rasakan di awal kuliah di tahun 2020 adalah di hadapkan dengan covid 19 yang mana semua akitivitas kuliah diadakan secara daring, saat ikut kelas luring saya menyadari gedung fakultas saya tidak akses untuk difabel netra, beberapa tenaga ajar juga kurang maksimal memberi solusi atas hambatan yang saya miliki.

 

Menyadari hal itu, saya lantas membangun strategi agar saya dapat bertahan di jurusan saya, meski tidak mudah. Ada pun strategi tersebut adalah:

 

Pertama, Membangun komunikasi efektif dengan teman

Menjadi difabel di antara mahasiswa nondifabel menuntut saya agar memiliki komunikasi efektif. Hal itu terkait saya yang harus aktif menyuarakan kebutuhan, cara berkerja sama, menjelaskan bila saya difabel netra, dan sebagainya. Karena saya tidak bisa menerapkan model pasif—berpikir bila difabel harus selalu dibantu. Komunikasikan setiap kendala, kebutuhan, dan jangan malu menjadi langkah awal untuk menyelesaikan masalah perkuliahan sebagai mahasiswa difabel netra.

 

Jadi difabel harus mengenyampingkan malu, minder, dan harus proaktif dalam menyuarakan kendala dan kebutuhan. Karena jurusan yang jarang dimasuki mahasiswa difabel, memberikan konsekuensi bahwa kita harus yang memberikan edukasi. Jangan hanya mengandalkan layanan, program inklusi, dan sejenisnya. Karena kitalah yang harus memperjuangkan diri di bangku kuliah.

 

“Kamu itu kalau kuliah jangan pernah jadi pendiem. Bawakan diri dengan baik, cari teman, dan komunikasikan selalu apapun kendala kamu ke dosen, teman, dan petugas kampus,” ujar Arya yang menasehati dan mengkonseling saya pada 2021 awal.

 

Partner tandem belajar

Karena saya menyadari kekurangan yang membersamai saya di kampus adalah tidak lagi bisa melihat, maka saya melakukan pendekatan kepada kawan untuk saya obrolkan terkait kendala yang saya alami. Di situ saya melakukan lobi, advokasi, dan menerangkan bagaimana ia bisa membantu saya. Baik berjalan saat masuk kelas, membacakan power point, dan membacakan soal ketika UAS atau UTS.

 

Di sini saya membangun pertemanan yang baik. Saya meminta ia untuk membantu kesulitan yang saya alami, maka begitu pun sebaliknya. Saya juga membantu berbagai macam tugas yang ia miliki. Jadi, kita malah menjadi teman akrab dan bisa saling mendukung untuk saling suport dan bersaing sehat di  kelas. Syukurnya hingga hari ini menjelang skripsi, saya masih berkawan baik dengan partner tandem tersebut.

 

“Oke, Wachid. Aku bakal bantu kamu semampuku, ya. Begitu pun sebaliknya, aku entar juga dibantuin memahami materi-materi dosen yang begitu berat di kepalaku,” ujar Fira, kawan tandem saya sewaktu saya melobinya untuk membantu masalah saya di kelas.

 

Jangan mudah baperan

Masalah berikutnya terkait berkuliah di jurusan yang jarang ada mahasiswa difabel, menyebabkan kondisi sosial di gedung kampus tidak begitu ramah terhadap mahasiswa difabel. Dalam kasus ini adalah saya sendiri. Waku itu saya pernah ingin masuk kelas, tapi saat saya mencoba mencari bantuan, saya justru mendapatkan respons yang kurang baik. Mulai yang berkata sedang sibuk, mau ke perpus, dan lain-lain yang intinya belum mau membantu saya. Meski kampus saya sudah ada layanan untuk difabel, nyatanya tidak semua masyarakat kampus bisa memahami cara menolong difabel.

 

Dari hal di atas, tentunya saya tidak ambil pusing. Toh, saya juga pernah belajar orientasi mobilitas dikit-dikit. Akhirnya itung-itung untuk latihan mental, berjalan menggunakan tongkat, dan sambil mengenal medan kampus. Akhirnya saya pelan-pelan berjalan dan mencari bantuan orang lain untuk menunjukkan kelas yang ingin saya tuju. Alhamdulillahnya, saya bertemu dengan dosen Sastra Inggris yang baik dan membantu saya menuju kelas.

 

“Tetap semangat belajar, mas! Saya yakin kalau sampean bisa lancar di jurusan yang sampeyan pilih,” kata dosen Sastra Inggris tersebut.

 

Harus selalu tingkatkan skill teknologi

Guna mememenuhi kebutuhan pengerjaan tugas kampus, saya akhirnya belajar komputer bicara, belajar office advance, melatih menggunakan gadget, dan sebagainya. Bahkan, saya juga berlatih menscan buku fisik untuk menjadi soft file. Karena di kampus, saya tidak mungkin mengerjakan tugas, mencari referensi, dan presentasi memakai huruf braille. Karena dosen pasti tidak bisa membacanya. Akhirnya teknologi menjadi hal wajib bagi saya dan harus selalu diupgrate.[]

 

Penulis : Wachid

Editor  : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air