en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Difabel dengan Gangguan Belajar

Solidernews.com – Disabilitas atau difabel merupakan ketidakmampuan seseorang untuk aktivitas tertentu. Menurut UU 8 tahun 2016  Difabel dibagi menjadi beberapa  jenis, yaitu :

  • Disabilitas fisik, merupakan gangguan gerak yang menyebabkan fungsi gerak. seperti, antara lain lumpuh, paraplegi, cerebral palsy.
  • Disabilitas sensorik, merupakan terganggunya salah satu fungsi dari panca Indra. Seperti gangguan pendengaran atau penglihatan.
  • Disabilitas intelektual, merupakan terganggunya fungsi pikir karena Tingkat kecerdasan di bawah rata-rata. Seperti Down Syndrome.
  • Disabilitas mental, merupakan terganggunya fungsi pikir, emosi dan perilaku. Seperti, Psikososial, misalnya skizofrenia, bipolar, depresi.

Perkembangan, yang berpengaruh pada kemampuan interasksi sosial. Misalnya, autisme, ADHD, Disleksia, Diskalkulia, Disgrafia.

  • Disabilitas ganda, merupakan disabilitas dengan dua atau lebih ragam disabilitas. Seperti, disabilitas rungu wicara dan disabilitas Netra-tuli.

Gangguan belajar termasuk dalam jenis difabel mental dengan jenis difabel perkembangan karena individu gangguan belajar biasanya sudah mengalami gangguan tersebut sejak awal kelahiran, Hal  tersebut mempengaruhi salah satu aspek kognitif dan  akan berlangsung sepanjang usianya  merupakan karakteristik dari difabel mental jenis perkembangan. Apa saja difabel dengan gangguan belajar?

  1. Disleksia

Disleksia adalah gangguan proses belajar yang ditandai kesulitan membaca, menulis dan mengeja. Individu dengan disleksia mengalami kesulitan mengidentifikasi kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. Disleksia tergolong dalam gangguan saraf bagian otak yang memproses bahasa. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. Disleksia menyebabkan kesulitan dalam belajar, namun tidak mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Penyebab disleksia dapat terjadi karena kelaian genetik yang mempengaruhi kinerja otak dalam membaca dan berbahasa. Pemicu disleksia dapat terjadi karena riwayat disleksia dari keluarga, kelahiran premature atau terlahir dengan berat badan rendah.

 

Hambatan individu dengan disleksia yaitu membaca, berbicara, menulis dan mengeja. Hal ini membuat kesulitan dalam memecah kata atau bunyi sederhana. Serta kesulitan mempelajari keterkaitan antara suara dengan abjad kata. Akibatnya akan menimbulkan kesulitan membaca dan rendahnya kemampuan memahami informasi dalam bentuk bacaan. Disleksia dikenal dengan istilah kesulitan membaca (reading difficulty), biasanya lebih banyak teridentifikasi ketika masa kanak-kanak hingga dewasa. Namun ada juga yang baru teridentifikasi setelah dewasa.

 

Masalah yang mungkin dihadapi oleh individu dengan disleksia adalah kesulitan belajar karena kemampuan membaca adalah dasar dalam proses belajar, kesulitan interaksi sosial apabila tidak diatasi, memiliki resiko menjadi hiperaktif, memori jangka pendek buruk serta kemampuan menajemen waktu buruk.

 

  1. Diskalkulia

Diskalkulia merupakan gangguan kesulitan memperoleh keterampilan aritmatika dasar, seperti berhitung dan memahami bilangan, baik itu menghafal angka (tanggal, nomor telepon atau nomor rumah). Berbeda dengan disleksia, diskalkulia berhubungan dengan angka dibandingkan dengan kata. Diskalkulia bukan gangguan mental yang bisa terjadi pada siapa saja. Umunya dialami oleh anak-anak 6-9 tahun atau bisa hingga dewasa. Diskalkulia sering ditemukan dengan anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

 

Individu dengan diskalkulia cenderung kesulitan memecahkan soal matematika dasar dan hal yang berkaitan dengan angka dan berhitung. Seringkali individu dengan diskalkulia kesulitan memahami konsep kuantitas atau konsep seperti “lebih besar” dan “lebih kecil”. Mereka juga kesulitan mengingat fakta matematika dan sulit memahami angka dan symbol matematika lainnya.

 

Kesulitan individu dengan diskalkulia adalah memiliki konsentrasi dan kemampuan memperhatikan rendah, mereka suka berpindah pindah dalam memperhatikan, sehingga sulit untuk diajak Kerjasama. Individu dengan disleksia cenderung lebih hiperaktif, memiliki emosi tidak stabil, cepat tersinggung dan mudah marah. Hal ini menjadi hambatan karena sikap hiperaktif dan gangguan emosi.

 

  1. Disgrafia

Disgrafia merupakan gangguan belajar yang ditandai kesulitan menuliskan huruf atau kata yang benar. Disgrafia terjadi karena masalah sistem syaraf yang berpengaruh pada kemampuan motoric halus bagian kemampuan menulis. Disgrafia dapat diiringi dengan disleksia atau bisa juga tidak.

Hambatan individu dengan disgrafia yaitu proses dalam belajar. Tulisan tangan mereka cenderung jelek dan tidak rapi sehingga lebih berpotensi dituduh malas dan ceroboh. Hal ini akan menyebabkan munculnya cemas dan malu.

 

Kesulitan yang sering dialami oleh individu dengan Disgrafia yaitu menulis tangan,  Menyusun kalimat, menggunakan tanda baca dan tata Bahasa, mengeluarkan ide sederhana dalam bentuk tulisan bahkan menggenggam alat tulis. Individu dengan disgrafia biasanya tidak memiliki masalah perkembangan social atau akademis. Namun cenderung merasa cemas ketika belajar jika belum mengetahui penyebab apa yang terjadi pada dirinya.[]

 

Penulis: Emsa

Editor   : Ajiwan Arief

 

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air