Views: 57
Solidernews.com – Bendera Merah Putih perlahan naik di tiang utama lapangan kabupaten Purworejo. Di bawah teriknya matahari hari Minggu 17 Agustus 2025, derap pasukan pengibar bendera berpadu dengan khidmatnya lagu kebangsaan yang dilantunkan paduan suara. Ada pemandangan berbeda dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 kali ini. Sejumlah peserta upacara adalah perwakilan difabel Purworejo, yang berdiri sejajar dengan pelajar, ASN, hingga aparat TNI-Polri.
Mereka hadir dengan cara masing-masing ada yang duduk di kursi roda di barisan, ada yang menggunakan tongkat penyangga. Semangat mereka sama: ingin merayakan kemerdekaan dengan penuh martabat.
“Kemerdekaan bagi saya ialah kebebasan untuk membuat keputusan dan bertindak tanpa campur tangan atau kontrol dari pihak lain, saya tahun ini ikut upacara di alun-alun kabupaten,” ungkap Woro perempuan difabel fisik yang mengikuti upacara pengibaran pagi tadi.
Bagi kelompok difabel, Hari Kemerdekaan tak berhenti pada seremoni tahunan. Peringatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Meski Indonesia telah merdeka delapan dekade, aksesibilitas dan pemenuhan hak-hak difabel masih sering diabaikan. Data dari Bappenas beberapa saat lalu dalam paparan menjelang Temu Inklusi 6 tahun 2025, menunjukkan banyak difabel yang kesulitan mengakses pendidikan tinggi, terbatas dalam kesempatan kerja, dan tidak mendapatkan layanan jaminan kesehatan.
“Kemerdekaan sejati berarti kesetaraan dan kesempatan, bukan sekadar belas kasih. Ini tentang menghapus hambatan baik akes, fisik maupun stigma sosial yang membatasi potensi difabel,” jelas Amat Mulyadi selaku pengurus difabel di Purworejo.
Menurutnya tantangan yang dihadapi dalam pemenuhan hak difabel, kemajuan yang sudah mulai terpenuhi yakni belum terselesaikannya Perbup (Peraturan Bupati) turunan teknis dari Perda (Peraturan Daerah). Selain itu aksesibilitas belum merata terutama di kantor desa dan fasilitas umum tertentu hal ini dikarenakan pemahaman masyarakat dan petugas layanan publik tentang kebutuhan difabel yang masih minim.
Jadi meski ada langkah maju, kemerdekaan bagi difabel di Purworejo masih dalam proses perjuangan. Bagi kelompok difabel, merdeka itu bukan hanya berdiri di lapangan upacara saja tetapi juga ketika bisa bermasyarakat tanpa diskriminasi, bekerja tanpa dibatasi stigma, dan berobat tanpa hambatan akses,” ungkap Daliyo koordinator difabel kecamatan Purwodadi.
Kehadiran difabel dalam upacara HUT RI ke-80 menjadi simbol penting, namun untuk menunjukkan bahwa bangsa ini mulai membuka ruang yang setara bagi warganya, perlu adanya langkah konkret. Kita juga tahu bahwa di siaran langsung di televisi sudah banyak menyediakan penerjemah bahasa isyarat agar semua peserta bisa menikmati jalannya upacara kemerdekaan.
Di tengah suasana khidmat, saat bendera merah putih mencapai puncak tiang harapan bahwa kemerdekaan tidak lagi dimaknai sebatas upacara, melainkan kerja nyata untuk mewujudkan inklusi dari ruang layanan publik, perkantoran, pusat pelayanan kesehatan, jalanan, sekolah dan transportasi umum.
Bagi difabel, peringatan HUT RI ke-80 adalah doa dan harapan agar bangsa ini melanjutkan janji kemerdekaan bebas dari segala bentuk penindasan, termasuk diskriminasi. Upacara hanyalah simbol, sementara kemerdekaan sejati terletak pada kesungguhan negara dan masyarakat memperjuangkan kesetaraan.[]
Reporter: Erfina
Editor : Ajiwan




