en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Difabel Berdaya Harus Sehat Jiwa

Solidernews.com – Dikutip dari star.center.org Kesasaran terhadap Kesehatan mental yang berdampak pada difabilitas sangatlah penting. Difabel menghadapi tantangan dan pemicu stres yang unik, termasuk stigma, diskriminasi, kurangnya aksesibilitas, dan kesulitan dalam melakukan tugas sehari-hari. Tantangan-tantangan ini dapat menimbulkan perasaan terisolasi, frustrasi, dan kecemasan, yang dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.

 

Selain itu, difabel  seringkali memiliki akses terbatas terhadap sumber daya dan dukungan kesehatan mental. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia/WHO, difabel  dlebih cenderung mengalami kesehatan mental yang buruk dan kecil kemungkinannya untuk menerima pengobatan. Kesenjangan dalam akses terhadap layanan kesehatan ini tidak dapat diterima dan menyoroti perlunya kesadaran dan pemahaman yang lebih baik mengenai tantangan yang dihadapi oleh para difabel.

 

Dalam mengatasi masalah ini, secara global  penting untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang tantangan yang dihadapi difabel dan dampaknya terhadap kesehatan mental mereka. Hal ini dapat dicapai melalui program pendidikan dan penjangkauan yang meningkatkan kesadaran akan tantangan spesifik yang dihadapi oleh difabel  dan pentingnya kesehatan mental. Selain itu, pembuat kebijakan dan penyedia layanan kesehatan harus berupaya meningkatkan akses terhadap sumber daya kesehatan mental dan dukungan bagi difabel.

 

Faktor penting lainnya dalam menjaga kesehatan mental yang baik bagi difabel  adalah aksesibilitas. Hal ini berarti memastikan bahwa lingkungan fisik dan virtual di mana difabel tinggal, bekerja, dan bermain dapat diakses oleh mereka. Hal ini mencakup penyediaan transportasi, bangunan, dan teknologi yang mudah diakses, serta informasi dan komunikasi yang dapat diakses.

 

Difabel  rentan mengalami gangguan mental karena beberapa kondisi yang tidak dapat ditoleransi oleh diri sendiri. Meski begitu, dalam mendeteksi gangguan mental, seorang difabel harus dapat membedakan gejala apa yang termasuk gangguan jiwa atau hanya reaksi tubuh saja.

 

Saat pandemi Covid-19 di Indonesia, kerentanan tersebut bertambah besar sebab akses komunikasi, informasi  dan edukasi (KIE) yang sangat terbatas, misalnya KIE untuk difabel netra.

 

Sementara, data lainnya menunjukkan bahwa hanya terdapat 4.400 psikolog dan psikiater di Indonesia yang jumlah populasinya lebih dari 250 juta orang. Maka dari itu, jumlah tenaga kesehatan mental di Indonesia dinilai minim.

 

Kesehatan mental tidak mengenal usia, jenis kelamin, agama, ataupun status sosial. Semua orang berhak mendapatkan akses layanan dan penanganan kesehatan mental yang tepat, termasuk difabel.

 

Satu langkah kecil dilakukan oleh komunitas Difabel Berdaya yang anggotanya meliputi Solo Raya (Surakarta, Boyolali, Sragen, Klaten, Wonogiri dan Sukoharjo). Komunitas yang dipimpin oleh Sri Hartatik ini di pengujung Desember melakukan gathering dengan menyelenggarakan talkshow yang bertema tentang kesehatan jiwa didukung oleh Lazis Jateng. Mereka ingin tahu lebih dalam tentang kesehatan jiwa dari ahlinya. Seorang psikolog, Khotimatul Na’imah menjadi narasumber sekaligus memfasilitasi sesi relaksasi.

 

Ada banyak hal yang ditanyakan oleh para peserta, dari pengertian sehat jiwa hingga bagaimana mengenali jika diri mereka mengalami masalah kejiwaan atau gangguan jiwa. Keanggotaan Komunitas Difabel Berdaya yang sebagian besar adalah difabel fisik, tidak menghalangi mereka untuk mengenal lebih dalam  tentang kesehatan mental.

 

Bagi orangtua yang memiliki anak difabel, sesi mengenal dan memahami kesehatan mental ini mereka rasakan sangat berguna ketika dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang setiap hari mereka hadapi. seperti yang diungkapkan oleh Catharina, ibunda Bintang, difabel cerebral palsy. Mengenal kesehatan jiwa membuat dirinya memiliki kesadaran untuk lebih mudah mengatur emosi, membedakan mana emosi sesaat dan gejala-gejala emosional yang tidak terkontrol kemudian mempengaruhi perilaku. Sebab dengan demikian dia jadi tahu kapan bisa mengendalikan diri dan kapan dirinya membutuhkan untuk pergi ke layanan kesehatan jiwa untuk berkonsultasi.

 

Setelah para peserta mendapatkan pemahaman tentang arti pentingnya kesadaran untuk memperhatikan. kesehatan jiwa, sesi menarik lainnya adalah mengucapkan kata-kata afirmasi kepada diri sendiri dan teman yang duduk di sebelah. Dapat diartikan bahwa di dunia ini manusia tidak bisa hidup sendiri. Ia harus berteman, bersosialisasi, bercerita ketika ada masalah, mau mendengar cerita orang lain dan bersama-sama saling mengingatkan jika ada suatu hal contohnya adalah adanya gejala masalah kesehatan jiwa atau gangguan jiwa maka harus segera mengakses layanan kesehatan jiwa.

“Alangkah baiknya jika acara semacam ini bisa juga mendatangkan para pihak terutama dari pemerintah dengan layanan kesehatannya untuk bersama-sama hadir,” ungkap Khotimatul Na’imah, Psi.  kepada Solidernews com.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air