Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Empat orang sedang berdiskusi santai di sebuah ruang pertemuan sederhana, berkumpul di sekitar meja yang dipenuhi berbagai perlengkapan minum dan alat meracik kopi.

Deaf Blind Belajar Menjadi Barista: Potret Inklusi dari Kopi Egalita Bersama SLB G-AB HKI Yogyakarta

Views: 61

Solidernews.com – Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh tanpa arah. Bagi orang tua yang memiliki anak dengan difabel ganda, seperti deaf blind, tentu memiliki harapan besar agar anak tersebut dapat tumbuh dengan baik dan memiliki kemandirian. Hal inilah yang diupayakan SLB G-AB Helen Keller Indonesia (HKI) Yogyakarta pada siswa lulusannya.

Yoga Wira, Guru HKI Yogyakarta, saat dijumpai Solidernews, pada 26 Agustus 2025, di Kopi Egalita, menyampaikan bahwa sebagai sekolah yang juga menaungi deaf blind di Yogyakarta, SLB G-AB HKI Yogyakarta berupaya memastikan siswa-siswa lulusannya memiliki bekal untuk masa depan. Hal itu ditujukan dengan pendampingan untuk mendapatkan skill yang dapat dijadikan kemandirian dan alternatif profesi. Sehingga siswa deaf blind dapat lebih optimis dalam meraih masa depan.

“Selain merupakan program dari sekolah, Kami berupaya untuk turut memastikan siswa yang sudah lulus memiliki bidang dan bekal skill yang dapat dijadikan pijakan kemandirian. Baik untuk dirinya atau juga untuk menghasilkan pemasukan. Sehingga setelah lulus tidak kebingungan untuk melanjutkan langkah,” jelas Yoga.

 

Media Kopi Jadi Solusi Profesi Deaf Blind

Melalui kolaborasi dengan Dria Manunggal Indonesia, SLB G-AB HKI Yogyakarta, memberikan pelatihan barista pada salah satu siswanya. Siswa deaf blind (Buta Tuli) yang bernama Handoko yang kini telah lulus, memutuskan untuk belajar menjadi barista bersama Kopi Egalita.

“Sebelumnya kami ada beberapa opsi untuk dijadikan pelatihan bagi Handoko. Namun, yang kami nilai terbuka dan siap mendampingi proses belajar siswa kami, justru datang dari Dria Manunggal Indonesia melalui Kopi Egalita, yang sebelumnya pernah mengadakan pelatihan bagi barista difabel netra,” jelas Yoga, yang juga merupakan guru pendamping Handoko.

Handoko sendiri semulanya tidak menyukai kopi. Sebab yang ia ketahui kopi adalah minuman yang hanya pahit. Karena memorinya tentang kopi baru sebatas kopi saset. Tapi, saat mengenal Kopi Egalita, yang mengenalkan olahan kopi murni baik robusta atau arabica, justru Handoko malah menjadi suka dan ingin memperdalam cara menyeduh kopi.

Estikarina, Ibu Handoko,  sebagaimana yang dijelaskan kepada Solidernews pada 26 Agustus 2025, menyampaikan bahwa peluang ini makin bertambah saat Handoko mengetahui olahan kopi murni. Mulai rasa asam, sensasi buah-buahan, aroma wangi, dan sejenisnya menjadi jembatan pembuka Handoko belajar kopi.

“Tentu saya sangat senang Handoko mau belajar. Apalagi di pertemuan yang ketiga ini, dirinya berhasil meracik kopi V60 dengan baik sesuai arahan instrukturnya dengan baik,” ungkap Estikarina.

 

Menjawab Tantangan Untuk Saling Berkembang

Kopi Egalita yang dipimpin oleh Irwan Dwi Kustanto sangat merasa senang menerima niat baik SLB G-AB HKI Yogyakarta yang mengirimkan siswanya belajar menjadi barista. Irwan merasa, bahwa selama masih ada komunikasi dan niat kuat, tidak ada tantangan yang tidak bisa diselesaikan.

“Saat saya dihubungi oleh pihak HKI apakah bisa melakukan training barista bagi deaf blind, saya menjawab selama bisa berkomunikasi dengan apa pun metodenya, meski tidak secepat berkomunikasi dengan difabel netra biasa, itu menjadi pintu dan celah yang bisa saya gunakan,” jelas Irwan, kepada Solidernews, 26 Agustus 2025.

Selain itu, kunjungan dari kepala sekolah, guru pendamping, dan orang tua yang hadir di Kopi Egalita, yang menjelaskan bahwa Handoko dapat berkomunikasi dengan interaksi bahasa isyarat serta dapat menulis di telapak tangan dengan huruf alfabet menjadi penguat Kopi Egalita dan Dria Manunggal Indonesia untuk terus maju merangkul semua ragam difabel.

“Sebelumnya kami pernah mengadakan pelatihan untuk beberapa difabel, salah satunya difabel netra. Sehingga atas dasar itu dan komitmen kami untuk menaungi difabel, tidak terkecuali mereka yang memiliki difabel ganda, menjadi tantangan yang kami terima,” jelas Irwan mantap.

 

Pengajaran Perlahan Tapi Pasti

Handoko yang memiliki kondisi sebagai deaf blind pada akhirnya membuat instruktur, guru pendamping, dan orang tua, mengemas pelatihan agar mudah dipahami. Mulai menyederhanakan informasi, perbanyak interaksi dengan alat-alat kopi daripada teori, dan memberikan kepercayaan penuh pada Handoko untuk berani mencoba menjadi beberapa alternatif metode pelatihan.

Meski begitu, masih perlu adanya modifikasi berbagai alat untuk memaksimalkan proses peracikan kopi yang dilakukan Handoko. Seperti alarm getar untuk mengetahui waktu penyeduhan, waktu didih air, dan sejenisnya. Selain itu, juga mencoba mengembangkan pengalaman belajar yang harus aman dan nyaman saat mulai berinteraksi dengan air panas menjadi poin penting.

“Handoko sendiri memiliki kecerdasan dan daya tangkap yang kuat. Sehingga itu juga membantu proses belajar. Memang tantangan kami adalah pengembangan alat-alat yang dapat memudahkan Handoko saat meracik kopi, yang mana ini masih menjadi hal yang kami diskusikan, tapi tidak menghambat proses belajar Handoko,” jelas Irwan.

Senada dengan Irwan, Yoga Wira menjelaskan bahwa tidak ada patokan pasti terkait kecepatan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar serapan pelatihan dapat maksimal. Jadi, pelatihan yang sudah dimulai sejak awal Agustus 2025 ini akan terus berlangsung hingga Handoko mahir membuat berbagai racikan kopi.

“Tidak ada patokan resmi sampai kapan. Yang penting Handoko nyaman dan aman dalam pelatihan. Sehingga skill yang dipelajari benar-benar dapat dimanfaatkan kemudian,” tegas Yoga Wira.

Dari Handoko sendiri juga mengungkapkan rasa senangnya bisa membuat kopi V60 secara mandiri. Ia berkeinginan kuat untuk terus belajar dan ingin memaksimalkan pengalaman dan pelatihan ini. Sehingga saat sudah mahir nanti, dirinya ingin menjadi barista yang dapat menghasilkan kemandirian ekonomi.

“ya, saya senang sekali bisa membuat kopi V60 yang merupakan gaya seduh kopi manual dari Jepang secara mandiri. Saya ingin terus belajar dan nanti ingin bisa berkerja sebagai barista atau pun memiliki usaha kopi sendiri,” jelas Handoko, sebagaimana yang diterjemahkan oleh Yoga Wira yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.[]

 

Reporter: Wachid Hamdan

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content