Views: 59
Solidernews.com, Sulawesi – Momen Idul Adha selalu mencerminkan kehangatan: penyembelihan hewan, pembagian daging kurban, dan kebersamaan. Di Indonesia, tradisi gotong-royong menjadi ciri khas ritual tahunan ini. Biasanya, kelompok qurban dibentuk terdiri dari tujuh orang—sebuah cara praktis sekaligus membangun rasa saling memiliki.
Sejak 2017, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Sulawesi Selatan (ITMI Sulsel) telah melangkah maju. Mereka mendorong difabel netrra muslim menabung untuk qurban dan membentuk kelompok. Pada Sabtu, 7 Juni 2025, teman-teman difabel netra melaksanakan penyembelihan hewan qurban di Koperasi Paraikatte. Sebuah koperasi yang juga dikelola difabel netra.
Acara itu juga dirangkaikan dengan makan coto bersama, dan hampir seluruhnya dikelola untuk dan dari difabel netra itu sendiri.
Ketika dihubungi pada 11 Juni 2025, Mustafa selaku ketua panitia qurban sekaligus anggota Dewan Syuro ITMI Sulsel bercerita bahwa kegiatan ini sudah berjalan sejak 2017—kecuali saat pandemi Covid karena segala aktivitas dibatasi, sehingga mereka tak bisa melakukannya.
“Awalnya itu unsur kepercayaan. Jadi, karena ada hubungan keluarga dengan orang yang membantu pengurusan sapinya, makanya kita juga bisa dapat sapi yang lumayan berkualitas. Meskipun sudah kita percayakan kepada si penjual, kita tetap mengecek sapinya langsung,” ungkap Mustafa.
Dalam pengelolaan daging, teman-teman difabel netra sangat berperan penting.
“Hanya pada saat pemotongan dan menguliti hewan qurban teman-teman netra tidak berperan aktif. Selebinnya teman-teman semua yang tangani. Seperti potong-potong daging, menimbang, mendistribusikan, membuat konsumsi itu sepenuhnya dikelola oleh teman-teman netra yang pastinya tetap dibantu oleh teman-teman awas,” jelas Mustafa.
Mustafa bahkan mengenang momen pertama kali qurban pada 2017, saat teman-teman netra ikut memegang sapinya.
“Bahkan itu waktu pertama kali, bahkan teman-teman netra juga ikut pegang sapinya. Tapi setelah itu, petugas yang memotong sudah bawa mi juga orang bagian yang pegang sapi, jadi teman-teman netra tidak perlu lagi pegang itu sapi,” tuturnya sambil tertawa kecil.
Lebih jauh, Mustafa memberikan pesan religius dan inspiratif:
“Saya sudah sering kali diserahi amanah untuk jadi ketua panitia qurban oleh teman-teman dan saya ambil tanggung jawab itu, bukan saya merasa orang yang paling jujur, tapi insya Allah saya akan berusaha sejujur dan semanah mungkin. Karena hal ini bukan main-main. Kita punya tanggung jawab sampai ke akhirat. Makanya, saya pesan ke teman-teman yang terlibat, jangan pernah bermain-main kalau soal qurban karena ini ibadah.”
Di akhir, pesan pamungkas Mustafa benar-benar menyentak:
“Mari kita jadikan qurban ini sebagai bentuk pembuktian, bahwa jangan karena kita tunanetra lalu kita terus mau dikasih. Kalau memang kita mampu, marilah berbagi. Jangan jadikan ketunanetraan yang kita sandang ini sebagai alasan untuk selalu diberi. Sekali-kali ayolah memberi,” pungkasnya dengan tegas.
Dari Ide Haji Naim Hingga Kenyataan di Lapangan
Pada hari yang sama, Solidernews.com menghubungi Hamzah Yamin, Ketua ITMI Sulsel. Ia menceritakan bahwa ide awal agar difabel netra ikut berqurban berasal dari almarhum Haji Muhammad Naim, mantan Ketua Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia (Yapti).
“Idenya itu dari Haji Muhammad Naim. Dulu itu beliau sering mendorong kami-kami ini yang tunanetra supaya bisa berqurban juga dengan cara menabung,” ungkap Hamzah.
Sejak gagasan itu hadir pada 2017, ITMI sebagai organisasi keislaman membuatnya jadi nyata hingga hari ini. Mengenai nilai qurban, Hamzah menjelaskan.
“Sebagai tunanetra kan biasanya kita dari kecil hingga besar itu seringnya dikasih. Jadi, dengan berqurban, kita juga bisa memberi walaupun dengan cara berqurban. Ini jadinya juga ibadah, berbagi maki juga,” ujarnya.
Selain ITMI, teman-teman dari asosiasi Musisi Jalanan Netra (AMJNET) juga bergabung.
“Di momen ini, teman-teman yang berprofesi sebagai musisi jalanan juga membuktikan bahwa mereka juga bisa ikut berpartisipasi dalam berqurban.”
Hamzah menutup dengan pesan mendalam terkait makna kurban:
“Dengan berqurban ini, teman-teman ini sebenarnya sudah naik level. Biasanya mereka yang dijadikan objektifikasi sosial yang sering diberi, sekarang mereka juga dapat memberi. Jadi, paling tidak, ini pembuktian untuk diri mereka sendiri bahwa dengan segala hal yang bagi orang lain serba terbatas, difabel netra juga membuktikan bahwa mereka dapat memberi dan mereka mengamalkan hadits yang mengatakan bahwa, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” pungkas Hamzah.
Dua hari berselang, pada 13 Juni 2025, Solidernews menyambangi Koperasi Paraikatte untuk menemui Murti, panitia bagian konsumsi sekaligus terapis. Murti mengaku bahagia karena dipercaya menjadi bagian acara besar ini:
“Ketika ditanya bagaimana perasaan saya ketika jadi panitia kemarin, tentunya pasti senang toh. Karena kita dikasih kepercayaan. Artinya kita ini dianggap mampu untuk berkontribusi bagi teman-teman difabel netra lainnya. Kita juga sebagai tunanetra, jangan mau dibantu terus, kita juga harus bisa membantu. Karena kan kita ini cuma mata yang tidak bisa melihat. Tapi kan, kita masih punya tangan dan indera lain yang bisa kita maksimalkan untuk berbuat.”
Dia terus menyemangati:
“Selama ini kan kita sebagai tunanetra sering dapat stigma kalau orang buta itu dianggap tidak bisa apa-apa tapi seiring berjalannya waktu, stigma itu juga mulai memudar.”
Menanggapi apa yang dilihat dari luar, Murti menuturkan:
“Jadi, ada itu tanggapan positif dari orang luar bilang, ternyata persatuan tunanetra itu bagus juga ya. Tunanetra ternyata bisa tonji tawwa.”
Di akhir, ia menyampaikan satu pesan yang menyentuh:
“Beri kami kesempatan. Beri kami kepercayaan untuk berbuat,” tutupnya bersemangat.
Namun tak semua hal sempurna. Salah satu difebel netra, yang biasa dipangil ‘Ai’, mengaku tidak mendapat pembagian daging qurban dari ITMI Sulsel. Padahal, berdasarkan kondisi yang dilihat Solidernews, ia sangat pantas mendapatkan.
Melalui sambungan telepon pada 12 Juni 2025, ‘Ai’ memberi tanggapan:
“Saya juga sebenarnya tidak bisa bicara banyak. Namanya juga manusia, toh. Pasti tidak ada yang sempurna, tapi kalau bisa panitia yang dipilih itu adalah panitia yang amanah dan terutama yang salat lima waktunya dijaga. Karena qurban ini kan ibadah dan bukan main-main,” ungkapnya.
Di akhir, ‘Ai’ menegaskan:
“Saya bukan sedih, bukan kecewa. Cuma saya jengkel. Karena katanya ada namaku tapi kenapa saya tidak dikabari. Semoga ke depannya panitia itu bisa lebih jeli lagi dan lebih amanah lagi,” tutupnya.
Kegiatan qurban yang dikelola ITMI Sulsel dan AMJNET adalah cerminan kematangan sebuah komunitas difabel netra. Mereka menunjukkan bahwa kemandirian bukan sekadar wacana, tapi tindakan nyata: dari menyisihkan uang, mengecek hewan kurban, hingga menangani seluruh rangkaian acara sendiri. Meski kritik muncul dari ‘Ai’, semangat gotong-royong dan kejujuran tetap diuji dan diperbaiki bersama.
Qurban ini bukan hanya tumpukan daging atau ritual tahunan. Bagi mereka, ia adalah perjalanan spiritual sekaligus pesan sosial: “sekali-kali ayolah memberi”, bukan hanya menerima.[]
Reporter: Andi Syam
Editor : Ajiwan









