Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Gambar sebuah Tangan sedang meraba dan membaca perangkat braille elektronik yang terhubung ke komputer, memungkinkan deaf blind mengakses informasi digital melalui sentuhan.

Dari Live Transcribe hingga Braille Display: Menakar Peran Teknologi bagi Deaf Blind Indonesia

Views: 30

Solidernews.com – Teknologi sudah menjadi hal yang kini sangat dekat dengan masyarakat. Utamanya bagi keseharian masyarakat difabel. Tidak berhenti di situ saja, berkat teknologi pula, kalangan difabel ganda seperti deaf blind (difabel netra dan difabel rungu) dapat memaksimalkan potensi dan partisipasi di kehidupan sehari-hari.

Pribadi deaf blind di beberapa kasus tidak 100% mengalami kehilangan penglihatan dan pendengaran. Tapi juga tidak menutup kemungkinan kedua indra pendengaran dan penglihatan hilang sepenuhnya. Hal ini menyebabkan aktivitas dasar seperti berkomunikasi dan memahami lingkungan, menjadi tantangan yang berlapis dan tidak sederhana.

Semula hal sederhana seperti komunikasi dilakukan dengan metode taktil (tactile sign language). Di mana deaf blind dapat menerima informasi dengan merasakan gerakan dan posisi tangan yang dilakukan oleh lawan bicara. Berkat kehadiran teknologi bantu, seperti alat bantu dengar, braille display, live transcribe, dan lainnya, deaf blind kini mampu bersaing dan meningkatkan partisipasi di tengah-tengah masyarakat.

Alice, salah satu aktivis dan anggota Pelita Indonesia (Organisasi yang menaungi deaf blind di Indonesia), saat dihubungi Solidernews pada 16 Agustus 2025, menjelaskan bahwa teknologi sangat meningkatkan kualitas hidup deaf blind. “Keberadaan teknologi banyak membantu mengurangi hambatan kami dalam berkomunikasi dan mengakses informasi. Kami di Pelita Indonesia banyak bergantung dengan teknologi.”

 

HATEKNAS 10 Agustus Bagi Deaf Blind

Tepat pada 10 Agustus 2025 kemarin, Indonesia merayakan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang ke-30. Di mana salah satu refleksi dari momen itu adalah dampak lebih jauh pada teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tidak terkecuali difabel. Tidak pelak, sisi teknologi aksesibilitas dan asistif juga perlu menjadi sorotan dan dijadikan refleksi di momen ini.

Alice dari Pelita Indonesia menyampaikan bahwa Hari Kebangkitan Teknologi Nasional menjadi momen perenungan dan refleksi mengenai teknologi sudah seberapa jauh dapat diakses masyarakat, utamanya difabel. Ia juga merespons kemajuan teknologi pembayaran QRIS yang dikembangkan oleh anak bangsa dan bisa menyaingi teknologi pembayaran dari luar negeri. Ia menekankan kedepannya riset anak bangsa harusnya terus di dukung, utamanya riset terkait teknologi asistif yang dapat membantu kehidupan difabel.

Simak juga ..  Cara Difabel Netra Jadi Konten Kreator yang Hasilkan Cuan

“Supaya perkembangan teknologi di Indonesia semakin maju, dukungan anggaran untuk riset dan inovasi menjadi sangat penting. Saya berharap anggarannya tidak dipotong, bahkan dilebihkan, agar muncul inovasi-inovasi baru yang jarang dipikirkan seperti teknologi asistif untuk difabel yang makin berdaya,” jelasnya.

 

Suara dari Pelita Indonesia: Teknologi Membantu, Meski Belum Sempurna

Alice menegaskan bahwa teknologi telah meningkatkan kualitas hidup deaf blind. “Keberadaan teknologi banyak membantu mengurangi hambatan kami dalam berkomunikasi dan mengakses informasi. Contohnya aplikasi live transcribe buatan Google. Aplikasi ini mampu mengubah suara menjadi teks yang bisa diperbesar agar nyaman dibaca,” tuturnya.

Selain live transcribe, Alice juga menyoroti aplikasi magnifier yang menjadi pembantu. Jika perangkat video magnifier sulit didapat dan berharga mahal, maka aplikasi sederhana di ponsel bisa menjadi kaca pembesar digital gratis. “Bagi yang masih memiliki sisa penglihatan atau pendengaran, kami terbantu dengan aplikasi pembaca layar dan aplikasi pembesar objek. Untuk tuli-buta total, ada braille display yang mengubah teks di gawai menjadi braille. Sehingga Ponsel kini menjadi perangkat vital bagi kami,” tambahnya.

Ketua Pelita Indonesia, Chandra Gunawan, menjelaskan bahwa adanya teknologi asistif sangat membantu dirinya dalam berpartisipasi di lingkungan, utamanya saat mengikuti sebuah seminar. Teknologi yang ia gunakan salah satunya adalah braille display. Dengan teknologi tersebut, Chandra dapat menyimak jalannya seminar. Ia bisa memahami obrolan, memberikan pertanyaan, dan memberikan respons pada seminar yang sedang berlangsung.

Perangkat braille display berbentuk mirip papan kecil seukuran keyboard laptop. Di bagian atasnya terdapat deretan sel braille, yaitu titik-titik kecil yang bisa naik turun secara otomatis untuk membentuk huruf braille. Perangkat ini bisa dihubungkan ke ponsel, tablet, atau laptop melalui kabel USB maupun Bluetooth. Cara kerjanya adalah dengan menerjemahkan tulisan yang ada di layar gadget menjadi braille digital. Jadi, setiap kali ada pesan masuk atau teks terbuka di layar, braille display langsung menampilkannya dalam bentuk titik-titik braille yang bisa diraba dengan jari.

Simak juga ..  Film dan Partisipasi Publik: Upaya Membangun Inklusivitas dan Aksesibilitas

“Jika di HP ada aplikasi transkripsi  yang mengubah suara menjadi tulisan di layar HP, maka braille display menterjemahkannya menjadi braille juga, dengan demikian saya tahu orang  sedang bicara apa. Sehingga saya dapat lebih aktif untuk memberi respons dan menjawab sebuah pertanyaan,” jelas Chandra, saat dihubungi Solidernews, 18 Agustus 2025.

Meski demikian, teman-teman Pelita Indonesia menilai banyak teknologi asistif masih jauh dari sempurna. Aplikasi transkrip real-time misalnya, sering tidak akurat dalam bahasa Indonesia, sulit digunakan di suasana berisik, dan belum mampu mengenali siapa yang sedang berbicara. Kondisi ini membuat deaf blind masih bergantung pada Juru Bahasa Tulisan (JBT), yang biayanya sering harus ditanggung sendiri.

“Kalau aplikasi transkrip bisa lebih maju dan terjangkau, beban finansial kami akan berkurang. Kami bisa lebih mudah bekerja, ikut rapat, atau berpartisipasi dalam acara publik,” ungkap Alice.

 

Dari Persoalan Menuju Harapan

Kisah Alice dan Chandra menggambarkan dua sisi wajah perkembangan teknologi bagi difabel deaf blind di Indonesia. Di satu sisi, perangkat seperti live transcribe, magnifier, dan braille display membuka ruang komunikasi, informasi, dan partisipasi yang sebelumnya hampir mustahil dilakukan. Namun di sisi lain, teknologi tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pengguna. Keterbatasan fitur, mahalnya harga perangkat, hingga minimnya subsidi dari pemerintah masih menjadi tantangan utama yang membuat aksesibilitas belum merata.

“Sayangnya braille display banyak dikembangkan di luar negeri, harganya pun mahal. Nah, Kalau deaf blind di Amerika bisa dapat gratis, kalau di Singapura dapat subsidi dari pemerintah, kalau di Indonesia harus bayar sendiri dan harganya sangat tinggi,” jelas Chandra Gunawan.

Simak juga ..  Sensasi Naik BRT Trans Jateng Solo-Wonogiri; Petunjuk Bagi Difabel untuk Mengaksesnya

Persoalan mendasar lain adalah ketergantungan pada Juru Bahasa Tulisan (JBT). Selama teknologi transkrip real-time belum mampu menghadirkan akurasi dan fleksibilitas yang baik, deaf blind masih harus menanggung biaya tambahan untuk bisa sekadar mengikuti rapat atau seminar. Padahal, akses terhadap informasi seharusnya menjadi hak dasar, bukan fasilitas yang diperoleh dengan pengorbanan finansial pribadi difabel, yang secara pengeluaran berkali lipat dari masyarakat non-difabel.

Alice menegaskan bahwa, “Untuk bisa mengakses pekerjaan dan mendongkrak peluang karir, tentunya perkembangan teknologi sangat kami butuhkan seperti penyempurnaan aplikasi transkrip tadi, teknologi yang mampu mendeskripsikan segala sesuatu melalui kamera, dan pengembang aplikasi mulai memperhatikan aksesibilitas supaya aplikasi yang dibuatmakin ramah bagi kami”.

Dari hal di atas, dapat dipahami konteks hak konsesi yang di amanahkan oleh UU. No. 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas, menjadi krusial untuk segera dilaksanakan. Sebab banyak difabel yang memerlukan konsesi dan bantuan langsung dari program pemerintah. Di mana, inklusif dan Indonesia emas 2045 harusnya juga diwarnai dengan partisipasi penuh oleh difabel. Bukan eranya lagi, difabel tidak terlibat pada konteks pembangunnan bangsa. Karena pada akhirnya, Dengan teknologi deaf blind mampu berdikari dan memberikan kontribusi.[]

 

Reporter: Wachid Hamdan

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content