Views: 5
Solidernews.com – Sri Mulatsih, difabel low vision tampak menata rapi di atas piring, masakan yang telah ia siapkan dari rumah, kroket kentang. Ia satu kelompok bersama Kadar dan Tukiman. Bertiga mereka berasal dari Pertuni Surakarta menjadi salah satu dari 14 komunitas peserta kompetisi kreasi kuliner yang dihelat oleh Tim Advokasi Difabel (TAD dalam rangkaian Hari Difabel Internasional di Rumah Dinas Wakil Walikota, 7 Desember 2024. Begitu juga pemandangan group peserta lainnya dari Forum Buah Hati Berseri yang seru pula dengan persiapan yang sama dari kelompok Dapur Tuli (Gerkatin) yang lebih senyap namun riang dengan aktivitas serta ekspresi mimik ketiga peserta.
Di sudut lain, tiga orang peserta mewakili Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Surakarta menghias masakan potato schotel panggang. Ada empat belas kelompok peserta mengikuti kompetisi kuliner tersebut dan di pagi itu, panitia mendapatkan lima kelompok untuk mengikuti final di hari yang lain.
Solidernews.com menemui Hernawaty, Kabid Rehabsos Dinsos yang datang di sela-sela acara kompetisi kuliner dan mengatakan bahwa momen hari disabilitas adalah kegembiraan. Menurutnya, apa yang bisa menjadi potensi mereka maka pihaknya mendukung.
Di pemerintah kota Surakarta, persoalan pemenuhan hak difabel tidak hanya menjadi kewajiban dinas sosial. Tergantung kebutuhan dari kepentingan yang sesuai misalnya bidang pendidikan, DPU PR, kebencanaan, juga perhubungan. Dinas sosial lebih menjangkau kepada difabel yang kurang mampu dan difabel yang terlantar utamanya di bidang rehabilitasi sosial. Dukungan dalam bentuk anggaran terkait dengan keterlantaran ada datanya karena difabel yang kurang mampu dan terlantar masuk sebagai kategori warga miskin di kota Surakarta. Bidang itu ada di perlindungan sosial dan jaminan sosial.
Di tahun ini dinas sosial menggunakan data perlindungan jaminan sosial kota Surakarta yang SK-nya rentan sosial atau SK Gakin dan melakukan kegiatan asesmen terintegrasi. Hanya saja baru menyasar kepada difabel fisik yang didukung dengan anggaran. Jadi data penduduk miskin di Kota Surakarta diklasifikasikan berdasarkan kedisabilitasannya dan untuk disabilitas fisik dilakukan asesmen terintegrasi.
Jadi peran petugas dari dinas sosial adalah datang ke rumah-rumah warga untuk memastikan kebutuhan masyarakat rentan ini seperti apa, terutama untuk masuk kategori prioritas satu hingga enam. Hernawaty mengaku tidak bisa mendukung seluruh tapi sedikit-sedikit. Harapannya, lainnya akan didukung dengan dukungan CSR.
Pembagian 104 Alat Bantu, 40 antaranya adalah Alat Bantu Dengar
Data difabel di Kota Surakarta yakni : 1.800-an dan itu angka seluruhnya. Sedangkan difabel fisik ada di angka 800-an yang ber-KTP Surakarta dan masuk kategori rentan satu sampai enam.
Pada 13 Desember diselenggarakan penyerahan 104 alat bantu, 40 di antaranya adalah alat bantu dengar. Ini adalah kebijakan kota Surakarta yang didukung oleh pemerintah pusat karena menggunakan dana fiskal. Dana fiskal adalah dana dari pemerintah pusat yang digunakan untuk penanggulangan kemiskinan. Jadi harapannya, nanti dengan dukungan alat bantu setidaknya mensetarakan agar difabel beraktivitas layaknya warga yang lain.
Bantuan berupa alat bantu dengar kebetulan untuk teman Tuli dengan kategori berat.
Untuk data penerima yang masuk adalah mereka di usia produktif. Dipastikan jika gangguan dengar yang terjadi pada usia di atas 60 tahun, faktornya bukan karena dia Tuli tetapi karena lanjut usia. Jadi perbedaannya pada biaya alias harga yang dikeluarkan pun juga berbeda.
Bidang rehabilitasi sosial sudah berkoordinasi dengan pihak penyedia dan meminta dibuat secara tertulis apa yang harus dilakukan si penerima
untuk mencegah kerusakan. Setelah barang dikirim mereka menyampaikan beberapa hal misalnya cara merawat. “Saya takutnya teman-teman kami ini kalau memakai, dia tidak paham. Dipikirnya barang murah padahal mahal. Lalu dibuatlah, apa yang harus dilakukan termasuk di warning soal batu batere-nya dan ketika ada kerusakan bisa menghubungi pihak yang ditunjuk, ” pungkas Hernawaty.[]
Reporter: Astuti
Editor : Ajiwan