en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Citra dan Representasi Perempuan difabel dalam Media, Meninjau Standar Kecantikan

Solidernews.com – Iklan dan media sering kali menampilkan citra tubuh yang dianggap sebagai standar kecantikan yang ideal oleh banyak orang, Seperti tubuh kurus, tinggi, berkaki panjang, berambut lurus, dan berkulit putih. Namun, dalam konteks citra diri perempuan dengan difabel, pertanyaannya menjadi lebih kompleks. Apakah standar kecantikan yang dihadirkan oleh media justru melemahkan citra diri mereka?

 

Mariadeliz Santiago (27), seorang influencer kecantikan di TikTok, adalah contoh nyata bagaimana perempuan dengan beragam latar belakang dapat meraih kepercayaan diri melalui seni riasan. Meskipun terlahir dengan sindrom Schinzel atau sindrom ulnar-mammary, Santiago menemukan bahwa make up bukan hanya alat kosmetik biasa baginya, tapi juga merupakan cara untuk merasa cantik dan percaya diri. Namun, dalam kenyataannya, tren media yang masih menekankan standar kecantikan yang sempit seringkali menjadi tantangan bagi perempuan seperti Santiago yang berusaha untuk merayakan keberagaman.

 

Konsep diri merujuk pada pandangan dan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri. Seiring perjalanan hidupnya, individu dapat membentuk konsep diri yang positif atau negatif.

 

Dalam konteks yang sama, iklan dan media sering kali mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis dan membatasi, serta menempatkan tekanan pada individu untuk memenuhi ekspektasi tersebut, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain. Hal ini menciptakan persepsi yang menuntut bahwa wanita harus berupaya untuk mencapai tubuh yang dianggap sebagai citra ideal, menyebabkan banyak individu, terutama perempuan, merasa tertekan dan tidak puas dengan penampilan mereka sendiri.

 

Sejak zaman dahulu, standar kecantikan cenderung menekankan pada citra tubuh yang sehat dan sering kali mengabaikan individu dengan difabel.

 

Bagaimana pengecualian ini dapat memperkuat proses marginalisasi dan stigmatisasi terhadap individu difabel perempuan. Mereka sering dianggap tidak memenuhi standar kecantikan yang sempit yang ditetapkan oleh masyarakat dan media, sehingga menimbulkan ketidaksesuaian dan penilaian negatif terhadap penampilan mereka. Hal ini menegaskan perlunya perubahan dalam paradigma kecantikan yang lebih inklusif dan menerima keberagaman dalam konteks media.

 

Media Membentuk Representasi Perempuan Difabel, Inklusi Perempuan Difabel dalam Industri Kecantikan

Media memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk persepsi dan norma-norma sosial kita. Menyajikan gambaran yang inklusif dan mewakili keberagaman populasi merupakan langkah krusial dalam menciptakan lingkungan yang lebih menerima dan mendukung bagi semua individu. Salah satu kelompok yang sering kali terabaikan dalam representasi media adalah teman-teman difabel, kususnya perempuan difabel.

 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2023, sekitar 16 persen dari total populasi dunia, atau sekitar 1,3 miliar orang, adalah teman-teman difabel. Sementara berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2018, diperkirakan ada 14,2 persen penduduk Indonesia yang difabel – atau sekitar 30,38 juta jiwa. Angka yang signifikan ini menunjukkan bahwa difabel bukanlah minoritas yang bisa diabaikan, melainkan merupakan bagian integral dari masyarakat global. Dengan memiliki kebutuhan dan preferensi yang unik, termasuk dalam hal produk dan layanan kecantikan, mereka merupakan pasar yang berpotensi besar bagi industri kecantikan dan media.

 

Dengan memasukkan representasi difabel dalam iklan kecantikan dan media, perusahaan dapat memperluas jangkauan pasar mereka dan meraih audiens yang sebelumnya belum tersentuh. Lebih dari sekadar tindakan bisnis yang cerdas, langkah ini juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial dan etis. Dengan memahami dan mengakomodasi kebutuhan konsumen yang beragam, perusahaan tidak hanya menciptakan peluang bisnis baru, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan masyarakat yang lebih inklusif dan menerima.

 

Dalam era di mana kesadaran akan pentingnya inklusi semakin meningkat, langkah-langkah untuk meningkatkan representasi difabel dalam media, termasuk dalam iklan kecantikan, bukan hanya menjadi keharusan bisnis, tetapi juga langkah yang menginspirasi dan berdampak positif pada masyarakat secara luas. Dengan bekerja sama untuk menghapus stigma dan memperjuangkan keberagaman, kita dapat membangun dunia yang lebih ramah dan inklusif bagi semua individu, tanpa memandang latar belakang atau kondisi fisik mereka.

 

Pentingnya Representasi Media Untuk Perempuan Difabel

Representasi difabel dalam campaign kecantikan bukan hanya sekadar tentang menciptakan gambaran yang lebih inklusif, tetapi juga merupakan bentuk pemberdayaan bagi  difabel dan komunitas yang lebih luas. Ini menegasikan bahwa pandangan, pengalaman, dan suara mereka dianggap berharga sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat.

 

Contoh konkret dari upaya ini dapat ditemukan di Indonesia, melalui campaign Wardah #BeautyMovesYou yang berkolaborasi dengan Nicky Clara, seorang Disability Womenpreneur. Dalam kampanye ini, Nicky Clara membagikan perjalanan hidupnya dan tujuan besar untuk memberikan dampak positif dalam masyarakat, sejalan dengan misi dari campaign tersebut. Salah satu tujuannya adalah agar perempuan Indonesia dapat berkontribusi secara lebih signifikan dalam memberikan manfaat bagi sesama.

 

Melalui platform seperti Tenoon.id dan @kamu_wearia yang dipimpin oleh Nicky Clara, lebih dari 20.000 teman-teman difabel telah diberdayakan untuk memperoleh akses pekerjaan dan pendidikan. Inisiatif ini membuktikan bahwa dengan inklusi dan kesempatan yang setara, teman-teman difabel dapat mencapai potensi penuh mereka dan berkontribusi secara positif dalam masyarakat.

 

Dengan demikian, representasi difabel dalam industri kecantikan dan image media tidak hanya menjadi isu sosial atau komersial semata, tetapi juga menjadi alat untuk mengubah paradigma dan memberdayakan individu serta komunitas yang sering kali terpinggirkan. Dengan terus mendorong inklusi dan kesetaraan, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih beragam, inklusif, dan adil bagi semua.

 

Representasi Media Perempuan Difabel Bisa Ubah Paradigma

Media memiliki kekuatan yang besar dalam membentuk persepsi masyarakat tentang citra diri, termasuk citra diri   perempuan difabel. Dalam era di mana inklusi dan representasi yang lebih beragam semakin dihargai, penting bagi kita untuk mengakui bahwa tidak ada batasan bagi perempuan difabel untuk berperan dalam industri kreatif, termasuk dalam industri kecantikan dan media. Representasi yang kuat dari perempuan difabel dalam media adalah langkah penting dalam menghapus stigma dan memperjuangkan kesetaraan.

 

Di Indonesia, Namira Zania telah membuktikan bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin bagi perempuan dengan down syndrome untuk meraih impian mereka. Sebagai seorang model, Namira telah serius menjalani karirnya sejak tahun 2015, dan bahkan tampil di ajang Jakarta Fashion Week pada tahun 2018, membuktikan bahwa kecantikan tidak mengenal batasan.

 

Sofia Jirau adalah contoh lain dari perempuan dengan down syndrome yang telah mengukir prestasi gemilang dalam dunia modeling. Terpilih sebagai model untuk Victoria’s Secret, Sofia telah membuka jalan bagi perempuan difabel di industri kecantikan dengan menunjukkan bahwa kecantikan sejati tidak terbatas pada kondisi fisik.

 

Tidak hanya di Indonesia dan Amerika, Australia juga memiliki representasi yang luar biasa dalam bentuk Madeline Stuart. Sebagai model profesional pertama dengan down syndrome, Madeline telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan keberaniannya dan dedikasinya untuk mengubah pandangan masyarakat tentang kecantikan.

 

Di Inggris, Ellie Goldstein telah menempuh perjalanan yang mengesankan dalam dunia modeling. Dalam waktu singkat sejak memulai karirnya pada tahun 2019, Ellie telah menjadi model untuk majalah Vogue dan bekerja dengan berbagai merek ternama seperti Nike, Adidas, dan banyak lagi, membuktikan bahwa ketangguhan dan bakat tidak mengenal batasan.

 

Keberhasilan dan kontribusi para perempuan ini dalam industri kecantikan membuktikan bahwa kecantikan sejati tidak terbatas pada norma-norma sempit yang ditetapkan oleh masyarakat. Dengan memperjuangkan representasi yang lebih inklusif dan menerima keberagaman, kita dapat menciptakan dunia yang lebih ramah dan adil bagi semua individu, tanpa memandang latar belakang atau kondisi fisik mereka. Dengan terus mendukung perempuan difabel dalam industri kecantikan, kita dapat melangkah menuju masyarakat yang lebih inklusif dan menghormati semua individu.

 

 

Dalam meninjau representasi perempuan difabel dari aspek kecantikan, kita menyadari peran besar media dan iklan dalam membentuk pandangan kita tentang kecantikan.

Berharap agar industri kecantikan dan media terus bergerak menuju inklusi yang lebih luas. Semoga ada cerita lain dari perempuan-perempuan difabel seperti Nicky Clara, Namira Zania, Sofia Jirau, Madeline Stuart, dan Ellie Goldstein terus mengubah pandangan masyarakat tentang kecantikan.

 

Dengan kesadaran dan kerjasama, kita dapat menciptakan dunia yang lebih ramah bagi semua individu. Semangat harus selalu hadir untuk memperjuangkan kesetaraan dan inklusi dalam media dan kecantikan. Bersama, kita bisa membuat perbedaan yang nyata.[]

 

Penulis: Hasan Basri

Editor      : Ajiwan

 

 

Sumber:

 

  1. Syahallah Chinta W., Afina Ghassani D.H., Maria Lidwina A. (2023). “Dampak Standar Kecantikan Bagi Perempuan di Indonesia.” Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya.

 

  1. Keyla, Fla. “Seberapa Penting Representasi Disabilitas dalam Industri Kecantikan.” Kumparan. https://kumparan.com/fla-keyla/seberapa-penting-representasi-disabilitas-dalam-industri-kecantikan-20dNiUur72o

 

  1. Liputan6. “Dunia Kecantikan Dianggap Kurang Inklusif bagi Penyandang Disabilitas, Alasannya Susah untuk Digunakan.” Liputan6. https://www.liputan6.com/disabilitas/read/5272119/dunia-kecantikan-dianggap-kurang-inklusif-bagi-penyandang-disabilitas-alasannya-susah-untuk-digunakan

 

  1. Fimela. “6 Model Difabel Ajak Perempuan Tampil Pede dan Temukan Style Terbaiknya.” Fimela. https://www.fimela.com/fashion/read/4449269/6-model-difabel-ajak-perempuan-tampil-pede-dan-temukan-style-terbaiknya

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air