en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Foto Citam Wiyono

Citam Wiyono dan Program Dignity

Solidernews.com – Pagi itu di pengujung 2023 bertempat  pendapa kantor Bupati Wonogiri tengah diselenggarakan Hari Disabilitas dan peluncuran  aplikasi penyediaan informasi kerja bagi difabel, seorang peserta menyita perhatian saya. Citam Wiyono namanya. Ia seorang petugas lapangan atau commitee organizer  di program Dignity, Disabilitas Inklusi. Program ini semacam penguatan kebijakan inklusi disabilitas dari daerah sampai lokal serta mengadvokasi akses layanan bagi difabel, utamanya Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP).

 

Lebih jelasnya, Citam Wiyono kemudian menjelaskan bahwa Dignity adalah  bagian dari program INKLUSI yang merupakan program kemitraan Australia-Indonesia menuju masyarakat inklusif.  Program ini berkontribusi terhadap pembangunan yang lebih luas yaitu tidak ada satupun yang tertinggal dan akan lebih banyak kelompok marjinal berpartisipasi  dan mendapat manfaat dari  pembangunan di bidang sosial budaya,  ekonomi, dan politik di Indonesia.

 

Perlu diketahui bahwa 11 mitra Dignity adalah Aisiyah, Bakti, Kapal Perempuan, Kemitraan, Migrant Care, Pekka, PKBI, Sigab, Lakspesdam, Pesada, dan Pusat Rehabilitasi YAKKUM.

 

Untuk menjalankan program, Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY) bekerjasama dengan 8 mitra pelaksana yang akan bekerja di 7 Provinsi (Sumatera Utara, Banten, Jawa Tengah, NTT, NTB, Sulawesi Barat, Papua Barat Daya).  Mitra pelaksana tersebut adalah: CDRM & CDS, Yayasan Difabel Mandiri Indonesia, PPRBM, Sehati, Yayasan Harapan Sumba, LIDI Foundation  dan GEMA Difabel, Papua Barat Daya – sedang dalam tahap penjajakan

 

Program kemitraan antara PRY dan mitra pelaksana bernama DIGNITY (Disability Inclusion Through Strengthening Local to National Policy and Capacity) yaitu inklusi disabilitas melalui penguatan kapasitas dan kebijakan di tingkat lokal hingga nasional.

 

Fokus Dignity  Inklusi  memastikan pemenuhan hak dan layanan dasar bagi difabel  psikososial baik yang berada di masyarakat dan di balai rehabilitasi, terbukanya partisipasi difabel psikososial dalam pembangunan, adanya perlindungan dari kekerasan serta memastikan keluarga dan masyarakat untuk memiliki kapasitas dalam melakukan rehabilitasi sosial berbasis masyarakat. Program ini juga mendorong penyedia kerja, Balai Latiihan Kerja  (BLK) serta penyedia program pemberdayaan livelihood untuk membukakan akses ketenagakerjaan inklusif dan kewirausahaan inklusif termasuk akses kredit lunak untuk penguatan difabel pelaku UMKM, mengoptimalkan forum-forum dalam koalisi untuk menciptakan dukungan perubahan yang berkelanjutan untuk pemenuhan hak difabel.

 

Pendekatan yang dilakukan dalam Dignity Inklusi adalah; layanan dasar berbasis hak (CRPD dan UU 8/2016), Rehabilitasi Berbasis Masyarakat  (RBM) serta Layanan Berbasis Institusi  dengan pendekatan hak asasi manusia serta advokasi pada perubahan kebijakan yang berpihak pada difabel dan memperkuat koalisi gerakan isu difabel.

 

Citam Wiyono dan Tantangan yang Dihadapinya

Citam mengemukakan tidak mudah untuk menjalankan program tetapi ia memiliki hasrat dan semangat serta cita-cita terutama pada desa yang didampinginya yakni kelompok difabel Desa Kedungjambal. Menurutnya saat ini di masyarakat masih ada stigma yang datangnya justru dari masyarakat itu sendiri.

 

Maka ia kemudian memiliki jurus yang jitu dengan melibatkan caregiver (yang merawat) secara aktif sehingga satu persoalan selesai sebab ketika caregiver sudah memiliki perspektif yang baik maka bereslah dengan ODDP yang didampinginya, tinggal kemudian ia melakukan pendekatan kepada  masyarakat.

 

Saat caregiver dilibatkan dalam berbagai hal misalnya pelatihan maka menjadikan ODDP yang didampinginya pun tertarik. Lama-lama mereka juga ikut kegiatan. Mereka kian berani bertanya apakah ada akses pekerjaan. yang dapat mereka  peroleh. Kebanyakan para ODDP dalam keadaan belum siap karena belum stabil atau belum pulih benar. Ada beberapa ODDP sudah bekerja di sektor formal dan keluarga memiliki problem tidak bisa mengkomunikasikan terkait akomodasi.

 

Ditanya tentang apa program terdekat, bapak dua anak ini menjawab jika saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan ODDP sejumlah 200 orang dan 100 orang caregiver di Sukoharjo dan Wonogiri hingga Juni 2024.

 

Dukungan Sehati pada Pada Citam Wiyono dan Kelompoknya

Dukungan dari Paguyuban Sehati terhadap Citam yang duduk sebagai wakil kelompok di komunitas difabel Desa Kedungjambal adalah dengan merevitalisasi kelompok yang bernama Difa Jaya ini. Pada Kelompok Difa Jaya ini pula diketahui juga memiliki UMKM produk makanan ringan berupa keripik dari berbagai bahan rumahan dengan nama Difa Jiwa yang dijalankan oleh Dwi Lestari, ketua kelompok.

 

Citam Wiyono yang bergelar sarjana kedokteran dari Universitas Sebelas Maret ini berharap agar dirinya semakin aktif bekerja di isu difabilitas  dan selalu stabil kondisi skizofrenianya. Ia juga aktif di komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya sejak tahun 2016 dan sering hadir di acara-acara yang diselenggarakan oleh komunitas seperti gathering, pelatihan dan sesi sharing.[]

 

Reporter: Astuti

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air