Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Cerita Bayu Aji Firmansyah Dfabel Netra Sarjana Ilmu Komunikasi Pertama Universitas Negeri Yogyakarta dengan Predikat Cumlaude

Solidernews.com – Di tengan isu kampus inkluif dan kenaikan Uang Kuliah Tuggal yang akhir-akir ini menyeruak, Universitas Negeeri Yogyakarta baru saja meluluskan sarjana ilmu komunikasi difabel netra dengan predikat cumlaude.  Bayu Aji Firmansyah seorang difabel netra yang mengambil program studi Ilmu Komunikasi, baru saja lulus dan memperoleh gelar S1. Selama menempuh masa studi, ia merupakan mahasiswa pertama di prodi Ilmu Komunikasi tersebut.

“mengambil Ilmu Komunikasi karena saya gak mau jadi guru sih, terus saya eksplor jurusan yang bisa dimasuki oleh tunanetra, ternyata saya nemu Ilmu Komunikasi dan manajemen. Kebetulan saya juga minat dibidang kreatif periklanan.” Tutur Bayu.

“kalau prodi ilmu komunikasi  (ILKOM) saya sudah minat sejak akhir kelas 11, terus saya cari lagi buat pilihan kedua. Kemudian semester 2 awal kelas 12 nemu manajemen untuk dijadikan opsi.”

 

lebih lanjut Bayu bercerita setelah menemukan kedua pilihan tersebut Bayu lalu mendaftar kuliah lewat jalur test.” Saya mendaftar melalui jalur test SBMPTN yang sekarang berubah nama menjadi SNBT, dan alhamdulillah keterima di ILKOM.” UcapBayu.

 

Menjalani kuliah dan aktif di organisasi

Dalam kesehariannya, Bayu mengikuti perkuliahan dengan mendengarkan penjelasan dosen apabila mencatat dan mengerjakan tugas ia menggunakan laptop yang terinstal pembaca layar. Bayu sangat aktif bertanya kepada dosen sewaktu perkuliahan berlangsung. Pada saat padatnya jadwal kuliah, pria kelahiran 25 Juli 2002 ini juga mengikuti Unit kegiatan mahasiswa (UKM) Skrin tingkat fakultas dan Magenta tingkat Universitas. Pada tahun 2022 semasa ia semester 4. Pria yang akbab dipanggil Bayu memiliki manajemen waktu dengan baik, terbukti ia mampu lulus dengan predikat cumlaude dan lulusan Ilmu Komunikasi difabel netra pertama di UNY, selain itu Bayu menempuh studi dengan waktu yang relatif singkat yakni 3 tahun 5 bulan.

“gak nyangka saja sih saya bisa menyelesaikan studi selama 3 tahun 5 bulan, padahal sempat kebingungan prosedur administrasi skripsi begitu, dan alhamdulillah berkat do’a dari teman-teman dan keluarga khususnya orang tua, kakak sampai adik, dan usaha dari diri sendiri tentunya mampu menyelesaikan skripsi dengan lancar bahkan bisa menyandang predikat cumlaude.” Tutur Bayu.

 

Tidak mengikuti KKN

Awalnya pria kelahiran Bambanglipuro Bantul ini mengikuti Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSI) angkatan 4 pada program kampus merdeka. Ia menjadi peserta difabel netra pertama pada magang tersebut. Magang dilaksanakan secara daring di salah satu start up, kemudian berbekal sertifikat magangnya, Bayu mencoba mengkonversi  KKN dengan konsultasi ke pihak prodi. Alhamdulillahnya dari pihak prodi membolehkan Bayu untuk tidak mengikuti KKN hasil dari magang yang telah diikutinya. Hal ini menjadi kabar bahagia bagi Bayu, karena ia berkeinginan untuk tidak mengikuti KKN ini. “senang sekali rasanya, karena sejujurnya saya mengikuti magang ini untuk menghindari KKN.” Tegas Bayu.

 

Berprestasi

Semasa kuliah Bayu menjadi mahasiswa berprestasi, terbukti ia menjadi mahasiswa pilihan untuk membantu penelitian dosen dalam penyusunan desertasi, selain itu menjuarai perlombaan tingkat nasional dibidang penalaran juara III Essai Writing Contest FOMUNY yang di ikuti 29 peserta dari 14 perguruan tinggi yang terdiri dari satu negara. Kejuaraan ini diselenggarakan oleh Family Of Mahadiksi Universitas Negeri Yogyakarta (FOMUNY). Pada essainya Bayu menceritakan cara menjaga kehormatan perempuan melalui tradisi kebudayaan jawa.

 

Meraih beasiswa

Selama menempuh perkuliahan, Bayu tidak mengeluarkan uang sama sekali, itu karena ia mendapatkan beasiswa  dari KEMENDIKBUD.

Terakhir Bayu berharap untuk diri sendiri, semoga ada lowongan sesuai prodinya. “semoga saja ada lowongan untuk saya yang sesuai prodi saya tentunya, agar saya segera bekerja, saya ingin bekerja di marketing atau humas.” Ujar Bayu.

 

Bayu juga berpesan bagi sesama difabel agar tidak malu mengakui keadaannya, dan jangan dijadikan alasan dengan kedifabelannya.

“jangan pernah malu dengan keadaan disabilitasmu dan jangan dijadikan alasan bahwa kita disabilitas terus tidak mau berkarya karena kedisabilitasannya.”

 

Kemudian buat yang non disabilitas Bayu berpesan untuk tidak mengkasihi melainkan memberikan kesempatan. “jangan pernah mengkasihi disabilitas, namun berilah mereka peluang karena sejatinya kita hidup sama derajatnya, yang membedakan disabilitas dan non disabilitas saja.”[]

 

Penulis : Muhammad Rifki Yanuardi

Editor      : Ajiwan  

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air