Views: 47
Solidernews.com – Di balik riuhnya blantika musik Bali, sekelompok anak muda difabel netra perlahan menorehkan nama mereka. Bukan dengan belas kasihan, melainkan lewat nada, lirik, dan semangat yang tak pernah padam. Mereka adalah Can Band.
Kelompok musik ini kembali mencuri perhatian publik Bali usai menjuarai Lomba Cipta Lagu Berbahasa Bali yang digelar oleh Pramusti Bali dalam rangka HUT ke-21 pada 5 Juli 2025 silam. Lagu mereka berjudul “Mambal Kintamani” berhasil mengungguli puluhan peserta lainnya, termasuk dari kalangan nondifabel. Kini, Can Band tengah bersiap merilis lagu tersebut secara resmi di YouTube, Spotify, dan TikTok pada akhir Juli ini.
Can Band bukan pendatang baru. Kelompok music ini terbentuk pada 2021, mereka lahir dari pertemanan di sebuah sekolah luar biasa, berawal dari kecintaan yang sama terhadap dunia musik. Rifan, gitaris sekaligus vokalis, menjadi penggagas awal terbentuknya band ini, yang kini diperkuat oleh Mahesa (gitar ritme), Yuki (vokal), Juliawan (bass), dan Mangde (drum). Meski berasal dari berbagai kabupaten/kota di Bali, mereka kini menempuh kuliah di tempat yang sama sehingga memudahkan mereka untuk bertemu dan berkarya.
Latihan bukan perkara mudah. Hambatan jarak dan penglihatan bukan penghalang bagi mereka untuk terus solid. Mereka menyiasati segalanya dengan teknologi. Mereka menggunakan aplikasi Android untuk koordinasi, memesan ojek online, atau naik bus trans kota milik Pemerintah Provinsi Bali demi menekan biaya.
Di sela kesibukan kuliah dan pekerjaan, mereka masih menyempatkan latihan. Kadang di tempat kostan, kadang di ruang terbuka kampus. “Yang penting bisa tetap main bareng, bisa ketawa bareng,” kata Juliawan sambil tertawa kecil. Musik, bagi mereka, bukan sekadar hobi, tetapi ruang untuk bernafas dan menyuarakan diri.
Lagu “Mambal Kintamani” yang membuat mereka juara bukanlah lagu cinta biasa. Di balik kisah dua sejoli—seorang pria dari sebuah daerah bernama Mambal dan perempuan dari daerah Kintamani—tersimpan pesan tentang keberanian mencintai dalam keterbatasan, tentang tekad untuk mempertahankan sesuatu yang diyakini meski tak direstui. Lagu ini menjadi simbol dari semangat juang, keberanian melawan arus, dan keyakinan bahwa cinta, dalam bentuk apa pun, layak diperjuangkan. Kisah itu mereka bungkus dalam irama dan lirik khas Bali yang kuat, manis, dan menyentuh.
“Kami ingin membuktikan bahwa tunanetra juga bisa berkarya dan bersaing di dunia musik Bali. Kemenangan ini bukan soal juara, tapi tentang pengakuan atas kerja keras kami,” ujar Rifan dengan penuh keyakinan.
Bagi para sahabat dan keluarga, keberhasilan ini adalah buah dari dedikasi panjang. “Kami sangat bangga dengan mereka. Bukan hanya karena mereka penyandang disabilitas, tetapi karena mereka mampu menghadirkan musik yang kreatif dan inspiratif. Walaupun kini ada yang sudah bekerja, mereka tetap menjaga semangat bermusik bersama,” ujar salah satu keluarga personel.
Sebelum merilis lagu terbarunya, Can Band telah melahirkan karya seperti “Bali Pidan Keh Mewali” dan “Berubah” yang mendapat sambutan hangat dari penikmat musik Bali. Kini, dengan lagu baru dan semangat yang tak pernah surut, mereka siap memperluas jangkauan karya.
Can Band bukan hanya soal musik. Mereka adalah suara yang menggema dari ruang-ruang yang selama ini sunyi. Mereka adalah pengingat bahwa kondisi dan kemampuan berbeda tidak pernah menjadi batas untuk bermimpi—selama ada ruang untuk percaya, dan kesempatan untuk mencoba.[]
Reporter : Harisandy
Editor : Ajiwan









