Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Salah satu mesin cetak braille di kantor SIGAB Indonesia, di bawahnya ada tumpukan kertas hasil cetak braille.
Salah satu mesin cetak braille di kantor SIGAB Indonesia, di bawahnya ada tumpukan kertas hasil cetak braille. Foto diambil pada 7 Januari 2026. (Dok. Solidernews/Robandi)

Braille di Persimpangan Zaman: Masih Relevan atau Mulai Ditinggalkan?

Views: 19

Solidernews,- Makassar. Sejak 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 4 Januari sebagai Hari Braille Sedunia dan mulai diperingati secara global pada 2019. Penetapan ini menjadi pengakuan internasional atas peran Braille dalam menjamin hak atas informasi, pendidikan, dan partisipasi sosial bagi penyandang disabilitas penglihatan.

Bagi difabel Netra, braille menjadi sistem untuk membaca dan menulis. Serangkaian titik kecil dengan pola tertentu dapat menjadi teks yang dapat dipahami. Di tengah laju teknologi digital, mulai dari pembaca layar, perintah suara, hingga kecerdasan buatan, relevansi braille kerap dipertanyakan.

Apakah sistem huruf timbul ini masih diperlukan, ataukah posisinya perlahan tergeser oleh teknologi yang semakin adaptif?

Sujono Said, difabel Netra yang saat ini berprofesi menjadi seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kusuma Bangsa Kendari mengatakan braille masih memiliki fungsi penting yang tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi digital, terutama dalam konteks pembelajaran dasar dan praktik keagamaan seperti mengaji. Selain fungsi praktis, Braille juga berperan sebagai penanda identitas difabel netra.

Namun, Jono mendapati adanya penurunan kemampuan Braille di kalangan generasi muda difabel netra. Ia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi tidak seharusnya menghilangkan keterampilan dasar yang selama ini menjadi fondasi literasi difabel netra. “Teman-teman Gen Z, jangan melupakan identitas sebagai tunanetra, yakni Braille,” ujarnya, kepada Solider pada 4 Januari 2026.

Muhammad Ilham, aktivis difabel netra, menceritakan pengalaman pertamanya bersentuhan dengan huruf Braille saat bersekolah di SLB A Yapti pada 2011. Saat itu, buku-buku tebal bertitik timbul menjadi pintu awal perkenalannya dengan dunia baca dan tulis. Mulanya, ia merasa ragu, bagaimana seseorang bisa membaca dan menulis hanya dari meraba titik-titik timbul dan menulis.

Simak juga ..  Merayakan Nataru dalam Gelap

“Saya tidak berhenti bertanya, ‘Apakah ini betul bisa dibaca? Kenapa bentuknya titik timbul, dan bagaimana cara menulisnya?” ujar mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar itu, melalui pesan WhatsApp pada 6 Januari 2026.

Ilham menjelaskan selama enam bulan dan membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk membaca dengan lancar. Selama menempuh pendidikan di SLB, ia gunakan braille sebagai medium utama untuk mencatat pelajaran, mengerjakan tugas, hingga mengaji. Selain karena kebutuhan kurikulum sekolah. “Menulis, membaca, dan mengaji dengan huruf ini (red; braille),” katanya.

Menurut Ilham, situasi perkembangan teknologi yang ada telah menggeser pola penggunaan braille, utamanya saat dia masuk ke jenjang perguruan tinggi. Keterbatasan lingkungan yang tidak akomodatif membuat Braille semakin jarang digunakan dalam aktivitas akademik sehari-hari. Meski begitu, menurutnya, berkurangnya penggunaan braille tidak berarti braille akan hilang dari peredaran.

Ilham mencontohkan bahwa penggunaan braille sama halnya dengan Bahasa isyarat bagi teman-teman Tuli. Braille dan Bahasa isyarat merupakan medium berupa sistem yang membantu penggunanya untuk memahami sesuatu. Braille adalah identitas kuat bersama tongkat putih. “Akan selalu menjadi identitas kuat kita sebagai Netra,” imbuhnya.

Ilham menekankan, tantangan utama bukan terletak pada relevansi Braille, melainkan pada bagaimana ekosistem pendidikan dan teknologi mampu mengintegrasikan Braille secara inklusif. Digitalisasi font braille, aplikasi pembelajaran Braille, serta pengembangan teknologi bantu berbasis taktil menunjukkan bahwa teknologi dapat berperan sebagai penguat, bukan penghapus, identitas literasi difabel netra.[]

 

Reporter: Andi Syam

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content