Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

BPS umumkan 10 juta Gen Z adalah pengangguran, ini yang harus dilakukan difabel muda!

Solidernews.com – Berbagai permasalahan sosial di era kekinian terus berdatangan. Arusnya deras dan terus berganti-ganti dalam waktu singkat. Mulai dari permasalahan kesenjangan sosial, sosial toxsick  baik di lingkungan sekitar serta media sosial, dan kasus kriminal lainnya. Semua informasi bergulir deras memenuhi hari-hari. Apalagi, dalam sebuah riset yang dirilis oleh dataindonesia.id mengungkapkan Generasi Z masuk dalam kategori pengguna gadget akut. Sehari dilaporkan lebih dari 7 jam penggunaan.

 

Selain itu, dari hasil riset yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik) baru-baru ini menyatakan sebanyak 10 juta pemuda Generasi Z mengalami pengangguran. Tentu hal itu juga mendapatkan respons dari Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah, yang menyatakan memang Gen Z sedang proses pencarian kerja. Selain itu, dominasi pengangguran ini banyak disebabkan lulusan SMK yang belum mendapat alokasi kerja, karena ketersediaan lapangan kerja yang tidak mencukupi permintaan masyarakat. Lantas bagaimana nasib difabel yang sedang mencari kerja?

 

Memang pemerintah dalam peraturannya sudah mengalokasikan kuota untuk difabel yang ingin berkerja di institusi pemerintah ataupun swasta. Tetapi itu harus di ingat hanya sebatas regulasi. Karena fakta lapangan kadang berbanding terbalik dengan regulasi yang ada. Maka, sebagai difabel muda, sudah selayaknya memiliki jiwa ingin tahu yang besar agar bisa menyesuaikan pada kondisi zaman.

 

Fakta BPS Tentang Gen Z Harus Menjadi Perhatian Khusus

Sebelum ada isyu Gen Z yang mengalami pengangguran skala besar, masalah utama para difabel adalah susahnya lapangan kerja yang bisa menerima dengan terbuka. Dengan fakta Gen Z yang menganggur 10 juta, karena permintaan tenaga kerja yang semakin kecil tergerus oleh kecerdasan buatan (Ai). Lantas kita sebagai difabel apakah akan acuh begitu saja?

 

Selain minimnya lapangan kerja, sebab lain dari pengangguran di Gen Z, ialah mereka yang gemar rebahan, malas bersosialisasi, dan program pemerintah yang suka membingungkan. Contohnya kurikulum pendidikan yang sering gonta-ganti. Bagaimana generasi muda mau berkembang, kalau kurikulum pendidikan terus mengalami perubahan yang membingungkan? Belum lagi pendidikan inklusi yang memberdayakan difabel harus di hantam perubahan-perubahan kurikulum pendidikan tersebut.

 

Tidak hanya persoalan tantangan aksesibilitas, pembelaan hak, dan peningkatan kesejahteraan, kita sebagai difabel muda harus memulai dan membiasakan diri untuk adaptif pada kondisi zaman. Jangan semua hanya bertumpu pada pola pikir klasikal. Semua yang berbau modern bila bisa, harus kita pahami guna membantu kemandirian. Contohnya: mempelajari teknologi digital. Bisa soal komputer, teknik marketing digital, Content Writing, kepenulisan digital, konten kreator , dan sebagainya.

 

Mindset   Harus Fokus, Jangan Mudah Terdistraksi Lingkungan

Salah satu hal yang saya amati, Gen Z itu mudah sekali terdistraksi oleh lingkungan sosialnya. Mereka mudah terbawa arus sosial yang sedang trend. Contohnya: misal di Tiktok lagi ramai konten mandi lumpur, maka dalam sekejap lini masa tiktok akan dibanjiri konten anak muda yang berkreasi dengan mandi lumpur. Tidak terkecuali para difabel, hanya saja trend-nya berbeda dengan orang nondifabel.

 

Maka di sini penting adanya, difabel muda memiliki prinsip dan mindset   yang kuat. Bangun mindset  yang mengarahkan diri kalian ke arah positif. Contoh: Saya ingin jadi novelis, maka dari sekarang saya harus mempelajari semua yang terkait dengan profesi novelis. Teknik menulis, gaya bahasa, pembangunan emosional, dan lain-lain.  Karena Hal tersebut menjadi jembatan untuk arah karier saya kedepannya. Sebap Gen Z itu kental sekali dengan budaya hasil instan. Sedangkan di dunia ini yang instan pasti hancurnya juga instan. Maka, perlu adanya dari sekarang kita punya mindset  kuat, fokus tujuan, dan keahlian apa yang ingin kita kuasai harus dipahami mulai hari ini.

 

Menguasai Teknologi, Bukan Kita yang Dikuasai Teknologi

Sudah Menjadi barang umum, bila seseorang memiliki gadget. Bahkan ada juga yang memiliki gadget lebih dari tiga device. Namun persoalannya bisakah kita memaksimalkan gadget tersebut? Karena yang banyak kasusnya malah kita yang dikuasai teknologi modern itu. Kecanduan game, sosmed, dan sebagainnya bisa menjadi contoh kasus dari dikuasainya kita oleh gedget.

Bila berbicara difabel muda, pemahaman dan skill di teknologi digital seharusnya menjadi kompetensi yang harus dimiliki. Sebab bila teknologi digital diabaikan oleh difabel muda, maka risiko tertinggal informasi dan peluang kerja akan semakin sempit. Hal ini karena semua jaringan kerja, kini sudah semua hampir menggunakan sentuhan teknologi modern.

 

Bagi saya, justru para difabel wajib mempelajari teknologi digital, khususnya gadget. Yang mana dengan alat tersebut justru bisa makin mempermudah kemandirian difabel. Bukan menggunakan gadget sebagai bahan hiburan saja. Melainkan  dijadikan partner untuk berkembang. Contoh: difabel netra yang menggunakan screen reader di laptop untuk mengerjakan tugas sekolah atau berkerja. Selain itu, kita jadi lebih bisa dekat dengan peramban informasi seperti Google dan lain-lain. Tentunya semua itu berdasarkan pada akses informasi positif yang mengembangkan pribadi, bukan sebaliknya.

 

Prospek Kerja Digital Bagi Difabel

Menghadapi fakta BPS yang mencengangkan, saya memiliki beberapa informasi untuk difabel yang tengah mencoba peruntungan berkerja di lingkup profesional. Jadi, dengan beberapa hal di atas yang saya sampaikan, difabel bisa memiliki peluang berkerja lebih besar di teknologi digital.

 

Digital Content Writing

Sebagai difabel, tentunya peluang menulis seputar konten periklanan yang berbasis digital bisa dilakukan. Akses dasarnya adalah kemampuan komputer, kepenulisan, dan pemahaman di bidang artikel SEO (Search Engine Optimattion). Hal ini bisa dilakukan berbagai ragam difabel. Karena yang dibutuhkan dalam perkerjaan ini adalah hasil karya tulis. Bukan hasil kerja fisik.

 

Juwita (difabel netra yang berkerja sebagai free lancer digital content writing), membagikan pengalamannya kalau di segment digital conten writing, difabel netra itu bisa mengerjakan dengan baik. Maka, ini bisa menjadi peluang baru selain perkerjaan konvesional yang ada.

 

Programer

Selain digital content writing, difabel juga berpeluang menjadi programer di sebuah perusahaan. Karena saat ini sudah ada kursusnya di Mitra Netra Jakarta. Jadi, dengan keahlian pemograman seorang difabel  tetap memiliki peluang besar untuk menjadi progamer di sebuah perusahaan. Karena Mitra Netra memiliki peserta kursus difabel netra yang ikut kelas progaming yang lolos berkerja di BAZNAZ sebagai tim programer di perusahaan tersebut.

 

Penulis media masadigital

Selain dua hal di atas, seorang difabel juga bisa mendalami skill kepenulisan. Karena bila diasah, keahlian ini bisa menghasilkan pemasukan, dengan karya-karya yang dibuat. Contoh: membuat cerpen, puisi, esai, opini, dan berbagai macam rubrik digital lainnya. Karena saya sendiri sudah membuktikannya. Menerbitkan artikel di platform digital itu lumayan untuk tambah-tambah tabungan.[]

 

Penulis: Wachid

Editor    : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air