Views: 7
Solidernews.com – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya komunikasi yang setara, hadirnya kelas bahasa isyarat dalam Pekan Inklusi Difabel 2025, menjadi ruang belajar untuk memahami bentuk komunitas Tuli, yang menjadi langkah nyata untuk membangun Yogyakarta makin inklusif.
Hal tersebut direalisasikan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia bersama syhmporia pada 7–8 Desember 2025 di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta.
Salah satu rangkaian kegiatannya adalah “Kelas Bahasa Isyarat” yang diselenggarakan pada 7 Desember 2025. Kelas ini dihadiri oleh beragam peserta, mulai dari mahasiswa, aktivis difabel, tenaga pelayanan publik, hingga masyarakat umum yang ingin memahami lebih jauh tentang komunikasi inklusif bagi komunitas Tuli.
Muhammad Mega, selaku Ketua Penyelenggara Acara mengungkapkan bahwa workshop (red_lokakarya) bahasa isyarat ini penting diadakan karena bentuk interaksi difabel itu ada banyak dan mungkin hal-hal yang sulit untuk teman-teman lakukan adalah berkomunikasi dengan teman Tuli.
“Jadi setidaknya dengan diselenggarakannya workshop ini kita bisa memberikan bekal dasar kepada teman dengar agar bisa berkomunikasi dengan teman Tuli. Karena sebenarnya banyak teman dengar yang ingin komunikasi dengan teman Tuli tapi mereka takut dan tidak tahu bagaimana caranya,” tuturnya.
Ia juga menambahkan tujuan workshop ini adalah untuk menghapus ketakutan itu dan mengubah cara pandang teman dengar bahwa sebenarnya berkomunikasi dengan teman Tuli itu tidak sulit. Selain itu juga memberikan pengetahuan kepada teman-teman pelayanan publik terkait bagaimana cara berkomunikasi dengan teman Tuli.
Acara ini diawali dengan penyampaian materi yang dilakukan oleh Alim, selaku Koordinator PUSBISINDO Cabang DIY yang hadir sebagai narasumber utama. Ia menekankan bahwa bahasa isyarat adalah identitas budaya Tuli. Oleh sebab itu, pembelajarannya tetap harus berpusat pada komunitas Tuli. Teman dengar boleh belajar bahasa isyarat kepada teman Tuli, namun tidak diperkenankan mengajarkannya kepada sesama teman dengar, kecuali apabila ingin mengajarkan kepada anak-anak Tuli atau hanya sekedar untuk mengobrol itu diperbolehkan.
“Karena khawatirnya apabila teman dengar yang mengajarkan itu berbeda konteks dengan yang teman Tuli ajarkan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Alim menyampaikan materi mengenai BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Alim menjelaskan bahwa BISINDO adalah bahasa alami komunitas Tuli yang menggunakan visual sebagai dasar komunikasi.
“Bahasa ini mengandalkan gerakan dua tangan, mimik wajah, dan gestur tubuh, serta memiliki struktur berbeda dari bahasa Indonesia. Karena itu, kemampuan teman Tuli dalam bahasa Indonesia pun sangat beragam tergantung latar belakang pendidikan, keluarga atau didikan orang tua, lingkungan bahasa isyarat, serta lingkungan pertemanan,” ungkap Alim.
BISINDO ini memiliki peran penting dalam menciptakan komunikasi yang inklusif, terutama bagi teman tuli dengan masyarakat. Selain itu, BISINDO juga berfungsi sebagai identitas budaya bagi masyarakat Tuli, melalui bahasa isyarat ini mereka dapat mengekspresikan diri, mempertahankan tradisi, dan memperkuat solidaritas dalam komunitas.
Namun, salah satu tantangan dalam penggunaan BISINDO adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat umum terhadap BISINDO. Hal ini seringkali menyebabkan kesulitan dalam komunikasi antara individu Tuli dan masyarakat non-Tuli.
“Minimnya pemahaman inilah yang sering menimbulkan hambatan komunikasi di ruang publik,” ucapnya.
Setelah sesi materi selesai, para peserta diajak untuk praktik bahasa isyarat. Peserta tidak hanya diajak untuk belajar kosakata BISINDO, tetapi juga berkomunikasi dengan teman lainnya menggunakan bahasa isyarat.
Aira, mahasiswa UII sekaligus salah satu peserta workshop mengaku bahwa kegiatan paling menyenangkan dalam kelas bahasa isyarat ini adalah ketika praktik.
“Karena kita bisa secara langsung praktik bahasa isyarat dipandu langsung dengan teman Tuli. Saya juga jadi mengetahui cara komunikasi dengan teman Tuli, sehingga nanti apabila bertemu dengan teman Tuli bisa berkomunikasi sama mereka,” tuturnya.
Reni, selaku perwakilan dari Badan Pengelola Keuangan dan Pendapatan Daerah juga mengungkapkan bahwa sebelumnya ia kesulitan berkomunikasi dengan teman Tuli. Namun, setelah mengikuti workshop ini paling tidak menjadi tahu bahasa isyarat dasarnya. Menurutnya, sebaiknya semua orang tahu mengenai bahasa isyarat.
“Harapan kedepannya, saya ingin semua orang bisa mengenal bahasa isyarat, sehingga bisa mewujudkan lingkungan yang inklusif,” ujar Reni.[]
Reporter: Ajeng
Editor : Ajiwan







