Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Bahasa Isyarat dalam Kurikulum Pendidikan Menjawab Tantangan Tuli

Solidernews.com. Yogyakarta. BAHASA Isyarat. Adalah salah satu alat komunikasi bagi Tuli. Melalui gerakan tangan, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh, Bahasa Isyarat membantu dalam berkomunikasi dan mengekspresikan pikiran serta perasaan.

Namun, tantangan dihadapi Tuli. Tak terpenuhi hak bahasa isyarat. Sebab, sangat sedikit, orang yang bisa berbahasa isyarat. Kondisi ini sangat berdampak pada hidup dan kehidupan tuli. Mereka mengalami keterbatasan dalam mengakses pengetahuan dan informasi. Mereka terbatas dalam berkomunikasi atau berekspresi, mengakses informasi dan pelayanan publik. Apakah bidang kesehatan, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, hingga mengakses hukum dan keadilan.

Bahkan, hak yang bersifat pribadi sekalipun, seringkali tak terpenuhi. Sebagai contoh, hak atas ketubuhan, kesehatan reproduksi dan seksual. Ketika berbicara tentang Pancasila, sila kelima dalam hal ini. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tak sampai para tuli, pengguna bahasa isyarat.

 

Bahasa universal

Menghadirkan dunia inklusif bagi tuli, memang tak mudah. Dibutuhkan kerja bersama dan kesadaran para pihak. Tak hanya mereka pemberi layanan publik. Namun juga mereka yang berada di lingkungan kehidupan tuli. Keluarga dalam hal ini.

 

Bagaimana pun, bahasa isyarat tak sekedar identitas bagi tuli. Namun juga bahasa yang semestinya universal. Alat berkomunikasi, sebagaimana bahasa nasional bahasa Indonesia, atau bahasa internasional bahasa Inggris.

Semakin banyak orang yang dapat atau paham bahasa Isyarat, lingkungan inklusif akan hadir bagi tuli. Dengan demikian, tuli menjadi mungkin berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan.

 

Berbincang dengan tuli dilakukan solidernews.com, pada Selasa (18/6/2024). Pengurus Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Kota Yogyakarta, Lakmayshita, menyampaikan beberpa hal. Menurut dia, bahasa isyarat sangat beragam. Tidak sama, antara satu daerah dengan daerah lain. Namun demikian, lanjut dia, tak sepenuhnya berbeda.

 

Untuk itu, dibutuhkan satu bahasa isyarat sebagai bahasa bersama antara daerah. “Karena bahasa isyarat itu beda-beda, perlu adanya satu bahasa sebagai bahasa pemersatu. Apa pun itu, bahasa isyaratnya. Sebagaimana bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa pemersatu,” ujar Laksmayshita.

Kurikulum pendidikan

Shita, demikian nama panggilan Laksmayshita. Pada kesempatan itu menceritakan langkah kecil yang telah dilakukannya, untuk mengenalkan bahasa isyarat di lingkungannya sekolahnya. Shita yang mengenyam pendidikan umum, di tingkat sekolah menengah atas dan universitas itu, mengenalkan bahasa yang digunakannya, kepada teman-teman sekolahnya.

Meski tak semua kawannya mau belajar bahasa yang digunakannnya. Apa yang telah dilakukan, meski tidak signifikan telah memberi dampak bagi dirinya. Paling tidak, tidak membuatnya merasa terasing. Beberapa akses informasi diperolehnya. Pun demikian dengan pengetahuan di sekolahnya.

“Tak banyak sih yang ingin belajar, tapi saya senang. Karena masih ada teman yang ingin berkomunikasi dengan saya. Pelan-pelan, komunikasi dan akses informasi bisa saya dapat dari beberapa teman. Baik itu saat saya sekolah di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa), maupun saat kuliah di UST (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa) Yogyakarta,” terang Shita.

Hadirkan dunia inklusif

Kepada solidernews.com, Shita juga menceritakan, bahwa saat lulus SMSR, dia meninggalkan kenang-kenangan untuk sekolah. Harapannya, tak hanya kawan-kawannya yang mau belajar bahasa isyarat. Tapi juga para guru dan karyawan SMSR. Kenang-kenangan itu berupa abjad bahasa isyarat indonesia (BISINDO), yang dicetak dalam ukuran besar dan dipigura.

Menurut Shita, akan lebih baik ketika bahasa isyarat bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Sehingga semua siswa bisa belajar bahasa tuli, yaitu bahasa isyarat. Dengan begitu, hak-hak bagi tuli, bisa terpenuhi. Karena pada akhirnya, semua orang mengenal atau mampu berbahasa isyarat.

“Jika saja, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan mau merespon kebutuhan bahasa isyarat sebagai bahasa universal. Maka memasukkan bahasa isyarat dalam kurikulum pendidikan, adalah tindakan masuk akal. Sehingga, perubahan terjadi. Hak atas hidup dan kehidupan dapat hadir bagi warga masyarakat tuli. Dunia inklusif dapat diwujud nyatakan,” pungkas ibu satu orang anak itu.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor       : Ajiwan

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air