en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Aktualisasi Diri Perempuan Difabel Masa Kini

Solidernews.com – Stella Rosita Anggraini atau yang biasa disapa Stella, berasal dari kota Jombang. Perempuan berwajah ayu ini sangat aktif di dunia penulisan dan kegiatan sosial. Ia telah menghasilkan karya dalam bentuk tulisan puisi, novel dan tulisan lainnya. Perempuan dengan difabel fisik yang saya kenal sejak 2019 di sekolah Gradiasi (Gerakan Advokasi Masyarakat Inklusi) ini memiliki semangat tinggi dalam menggapai impiannya. Kini ia menjadi mahasiswa jurusan Psikologi di salah satu universitas di Jombang dan sebentar lagi akan menyelesaikan tugas akhirnya.

 

Sebagai kawan sekamar selama 10 hari lamanya di sekolah Gradiasi, saya masih mengingat bentuk skateboard dan kursi roda yang ia gunakan untuk menunjang aktivitasnya. Bahkan pada suatu malam, kami harus terbangun ke kamar mandi, saya dan Stella saling bergantian menunggu untuk saling berjaga di depan pintu. Saya berjalan di belakang Stella melesat cepat dengan skateboard itu, hal ini yang membuat batin saya berucap, “wah, gesit sekali anak ini”.

 

“Gak kuliah tah, Stella?”, jawab saya mengawali perbincangan.

“Nggak mbak, ini pas libur kok”, jawab Stella dengan tenang.

 

Saya masih menyimpan memori bersama Stella dengan baik, walau kami sudah 4 tahun tidak berjumpa. Sosok anak muda nan semangat dan tidak pernah putus asa saya lihat pada dirinya. Terbukti sepulang dari Gradiasi 2019, ia langsung mendirikan KVDJ (Kelompok Volunteer Difabel Jombang) bersama teman-temannya. Dalam masa puasa Ramadhan 2024 ini, KVDJ bersinergi dengan komunitas penggiat lingkungan untuk mengadakan diskusi seputar lingkungan. Selama 2019-2024 banyak kegiatan KVDJ yang dilakukan berjejaring dengan berbagai komunitas di dalam dan luar Jombang.

 

“Saya berharap anak muda untuk bergerak di isu difabel, berbasis kerelawanan”, jelas Stella menyampaikan awal mula terbentuknya KVDJ.

 

Stella menceritakan KVDJ hadir agar bisa menciptakan masyarakat inklusi di wilayah Jombang. Selama ini kegiatan KVDJ berjejaring dengan komunitas untuk mengadakan kegiatan yang bermanfaat bagi KVDJ dan masyarakat luas. Sebagai komunitas baru, KVDJ masih harus berbenah untuk bisa menjalankan aksi dan kolaborasi untuk bisa berkegiatan dengan pemerintah.

“Kami tidak menutup diri jika dilibatkan dengan kegiatan pemerintahan”, jelas Stella.

 

Sampai sejauh ini KVDJ pernah membantu difabel yang mengalami kekerasan seksual namun KVDJ hanya sebatas menjadi pendengar dan konseling. Untuk menuju proses peradilan diakui masih ada kendala karena kurangnya bukti. Melalui dukungan relawan yang ada di KVDJ inilah menjadi penghubung untuk meneruskan kepada pihak yang memiliki kompetensi di ranah hukum.

 

Stella menyampaikan bahwa dorongan untuk KVDJ memperjuangkan kesetaraan  bagi difabel atas dasar kemanusiaan. Di desa-desa masih banyak ditemukannya difabel belum bisa menerima layanan dari pemerintah. Jumlah relawan sosial yang terbatas di desa, maka KVDJ dapat hadir memberikan dampak bagi mereka. Sosoknya sebagai difabel perempuan yang aktif di kampus dan komunitas, ia merasa di wilayahnya situasi keberpihakan pada perempuan masih belum benar-benar nyata. Memang perempuan difabel mengalami hambatan pendidikan, latar belakang, minim power, namun adanya budaya patriarki menjadi hambatan bagi mereka. Dominasi aktor laki-laki yang selama ini banyak ditemui mengakibatkan tidak adanya peranan perempuan difabel dalam berbagai kegiatan.

 

“Pendekatan yang humanis menurut saya menjadi cara kami untuk bicara inklusi, yang paling penting melalui media massa untuk mendekatkan anak-anak muda di luar jangkauan kita untuk tumbuh rasa peka kepada kelompok kita”, terang Stella.

 

Saya menanyakan bagaimana keterlibatan Stella di desa dan ternyata ia tidak pernah dilibatkan dalam musrenbangdes. Hal ini juga masih menjadi kendala bagi dirinya untuk bisa aktif berpartisipasi dalam pembangunan desa. Padahal dalam kebijakan dana desa, kelompok rentan seperti Stella berhak mengakses dana desa bersama dengan anggota difabel lainnya.

 

Sebagai pemakai kursi roda, Stella masih sangat kesulitan untuk mobilisasi jika berada di daerah yang cukup tinggi dan tidak rata. Skateboard yang ia gunakan dibuat khusus oleh ayahandanya, sementara  kursi roda yang ia gunakan selama ini didapatkan secara mandiri saat ia di Jakarta. Bantuan kursi roda tidak pernah ia dapatkan karena memang untuk kursi roda yang ia perlukan harus dengan desain khusus menyesuaikan kebutuhannya.

 

“Lho mbak, aku masih merasa kurang untuk aksesibilitas di desa bahkan di kampusku itu, sehingga mau tidak mau aku harus minta bantuan orang lain”, ungkap Stella dengan nada meninggi.

 

Dari nada bicaranya yang teratur, saya mendeskripsikan ‘adik kecil’ saya ini sosok yang pandai dan kritis. Ia mampu menyuarakan pendapat-pendapatnya tanpa ragu, bahkan selama saya mengobrol dengan Stella hampir satu jam lamanya, tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Kami berdiskusi banyak tentang inovasi dan strategi yang KVDJ perlu kembangkan untuk menjawab tantangan di masa depan. Diakuinya, KVDJ agar tetap eksis butuh pengorbanan karena masalah besar yang pernah terjadi justru masalah internal.

 

“Memang namanya kerelawanan itu kompleks, rela pas ada maunya, tak rela kalau ada kendala haha”, jelas saya berseloroh pada Stella.

 

Perjuangan Stella selama ini menjadi penggiat isu difabel juga tak luput dari diskriminasi dari orang lain. Baginya, perempuan dukung perempuan harus ada, jangan sampai perempuan justru melemahkan perempuan. Dalam rangka Hari Perempuan Internasional, Stella berharap agar sesama perempuan dapat bersatu saling menguatkan.

 

Stella menambahkan bahwa stigma tentang KVDJ yang belum bisa terlibat aktif di kotanya karena dianggap organisasi kerelawanan biasa. Baginya komunitas apapun berhak dan bisa dilibatkan dalam melakukan aksi-aksi nyata untuk menggaungkan isu inklusi. Ia juga berpendapat dalam situasi saat ini pentingnya pemikiran GEDSI untuk bisa merubah pola pikir sehingga terciptanya situasi inklusi. Pelibatan aktif bagi difabel seharusnya ditingkatkan agar peran-peran difabel juga bisa melalui tahapan demi tahapan selama proses menuju inklusi.

 

Pada ujung pembicaraan kami berdua, Stella menceritakan akan terus menghasilkan karya dalam bentuk buku di luar kegiatan sosialnya. Saat ini dirinya aktif di dalam Forum Lingkar Pena (FLP) Jombang sehingga dalam kurun waktu ke depann ia masih tetap setia menulis di sela-sela kesibukan.

 

Dulu saat kami berjalan bersama di lapangan desa Lendah, di mana kami selalu “deep talk” selama sesi istirahat di sekolah Gradiasi, Stella menyampaikan keinginannya untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Kini dirinya telah mewujudkannya dan meyakini bahwa kesempatan itu nyata adanya. Jika bisa saya sebut, Stella ini paket komplit yang mahir dalam karya penulisan, mewujudkan mimpinya berkuliah dan terus aktif  menghidupi komunitas kerelawanannya.[]

 

Reporter: Erfina

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air