Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol simbol biru bagian kanan agak atas sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Aksara Tanpa Batas” Antologi Cerita Karya Teman Tuli Gerkatin Surakarta

Views: 19

Solidernews.com – Kesadaran sebagai seorang Tuli menggugah Pingkan dengan menyatakan bahwa baginya, komunikasi yang lebih efektif adalah dengan menggunakan bahasa isyarat. Kesadaran itu muncul tatkala dia duduk di bangku SMP di sebuah SLB. Apalagi tidak ada larangan dari orangtua saat menggunakan bahasa isyarat sehingga ia merasa enjoy, meski sang kakak menggunakan bahasa oral dan gesture. Ketika orangtuanya mengomel, Pingkan merespon dengan diam saja. Diakuinya di dalam rumah ia sering menggunakan bahasa gesture, sedangkan di luar atau di komunitas, ia menggunakan bahasa isyarat ragam bisindo.

Cerita tentang Pingkan adalah kisah bagaimana Teman Tuli mengakses bahasa isyarat dalam pergaulan sehari-hari mereka.

Ada belasan cerita Teman Tuli lainnya yang termaktub dalam  buku antologi “Aksara Tanpa Batas” yang diproduksi oleh Gerkatin bareng Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Fakultas Seni Rupa dan Desain  (FSRD) ISI Surakarta. Kebetulan buku itu diluncurkan bersamaan dengan pameran karya seni oleh teman Tuli pada akhir pertengahan Januari 2025.   Dalam sesi talkshow, Helmi, mahasiswa yang mengikuti MBKM lantas mempersilakan teman Tuli untuk bertestimoni termasuk Pingkan.

Salah satu penulis buku, Rizkia menceritakan tentang

bagaimana ia bertemu dengan orang tak dikenalnya. Ia ingin mengobrol tetapi rasa ketakutan menyeruak dan mendominasi. Padahal ia butuh informasi di mana letak toilet tetapi malahan  cemas dan takut. Ketika usianya menginjak 11 tahun, pada momen dia  diajak makan bersama oleh ayahnya, lantas ia memberanikan diri untuk berinteraksi dengan orang lain yakni dengan bertanya bagaimana ia memesan makanan dan  di mana letak toilet. “Akhirnya ada ayah  saya ngasih trik atau cara. Kalau kamu mau pesan makan,  maka saya harus tulis. agar cepat. Kalau waktunya bayar ya tulis. Akhirnya, bapak saya menjembatani,” terang Rizkia.

Simak juga ..  Pastikan Hak Pilih Tuli Terpenuhi, Ketua KPU Kota Yogyakarta Sosialisasikan Pilkada bagi Anggota Gerkatin

 

Kesulitan Bukan Hambatan tapi Tantangan

Andri, teman Tuli berpikir  setelah lulus  SMK  mudah cari kerja. Tapi ternyata sulit. Ia lantas  belajar tentang hambatan budaya dengar dan tidak ada  pendampingan. Selama  8 bulan ia bekerja di  Alfamart. Satu dua bulan pertama ada kendala misalnya ada orang membeli di toko tapi  ngomong cepat. Ada juga beberapa yang tidak mau ngomong dengan dia. Ada  beberapa perasaan berkecamuk, yang ia pikir agak kurang sreg. Sehingga penerimaannya cukup lama. Bertemu dengan orang baru,  hambatannya  sebenarnya hanya komunikasi. Tetapi tetap ada hambatan dan hambatannya solusinya sulit. Ada partnernya  yang mau belajar bahasa  isyarat tapi sedikit sekali. Sebab dituntut banyak kerjanya dari pada mengajari bahasa isyarat,  tapi orang yang bekerja di situ tidak bertahan lama.   Pertama karena shift. Ada ratusan orang yang datang ke Alfamart. Ia pikir cukup berat juga bekerja di kasir Alfamart. Lantas ia  berpikir harus melanjutkan kuliah,  saat ini semester 3  di Universitas Terbuka (UT).

Cerita lain dikisahkan oleh Faza yang pada  waktu SMP sepulang sekolah ia  jalan kaki. Lantas ia ketemu teman baik yang mau mengajak naik  motor bareng.  Lantas bertemu polisi yang menanyakan SIM. polisi bilang mana SIM. “Saya kasih STNK.  Saya bilang SIM ketinggalan padahal tidak ketinggalan. Saya cuma ngasi STNK. 15 menit kemudian. saya bersama polisi dan dia tanya saya sekolah di mana. Saya gantian bertanya  saya melanggar apa. Terbayang saya  ga bawa SIM. Saya menunggu mereka berdebat loma menit kemudian tidak jadi, akhirnya saya putar balik,” kata Faza.

Simak juga ..  Fakta-Fakta Menarik Konferensi WFD RSA Ke 11 di Yogyakarta

Pingkan pun pada tahun 2020 pernah ingin berbisnis saat SMA kelas 1. Ia ingin punya uang sendiri.  Ia pernah punya  pengalaman kerja di warung dan  sendiri dan hanya bertahan sampai kelas 3 saja karena ia akan menempuh ujian meski saat itu pemilik warung tidak membolehkan. Akhirnya ia membuat surat undangan ujian dan akhirnya setelah belajar ia lulus.

Dengan mengambil judul  ‘Dunia Gelap dalam Kabut” Cahyo menceritakan tentang pertemanannya yang mengajak piknik ke Tawangmangu dan ke taman-taman yang banyak hutan.

Pada kesempatan launching buku, Galih Saputro, Ketua Gerkatin pada saat itu, mengatakan bahwa ketika teman Tuli  ada di tempat yang benar maka akan  merasa ada temannya meski dengan  latar belakang berbeda atau  masing- masing berbeda : ada orang dengar, ada Teman Tuli,  ada Hard of Hearing,  Ada orang dengar karena penyakit tertentu jadi Tuli. Dari semua itu, yang paling bisa membantu adalah diri Teman Tuli  sendiri karena semua sama apapun situasinya.

Ia menambahkan penerimaan itu lebih ke spiritual bagaimana Teman Tuli  menerima di organisasi atau komunitas  bahwa ketika di lingkungan yang peduli dengan difabel maka Teman Tuli peduli. Ia mendukung agar Teman Tuli  berada di lingkungan. yang supportif,  sama-sama tahu disabilitas sama-sama tahu di lingkungan. Karena semua  butuh teman untuk  saling menguatkan satu sama lain.[]

 

Reporter: Astuti

Editor     : Ajiwan

 

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

berlangganan solidernews.com

Tidak ingin ketinggalan berita atau informasi seputar isu difabel. Ikuti update terkini melalui aplikasi saluran Whatsapp yang anda miliki. 

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air

Skip to content