Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Ajaran dari Surah Abasa dalam Konteks Inklusi Sosial

Solidernews.com – Setiap tahun di bulan ramadhan, umat Islam memperingati Nuzulul Qur’an, momen bersejarah di mana kitab suci Al-qur’an mulai diperkenalkan kepada Nabi Muhammad SAW dan menjadi cikal bakal adanya kitab suci umat Islam ini. Dalam refleksi ini, Surah Abasa, bagian dari juz ke-30 Al-Qur’an, muncul sebagai sumber teguran dan inspirasi, khususnya dalam konteks inklusi.

 

Surah ‘Abasa adalah salah satu surat yang turun di Mekah selama periode awal dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Surat ini merupakan bagian penting dari Al-Qur’an dan terdiri dari 42 ayat yang mengandung pesan moral dan petunjuk bagi umat Islam. Salah satu peristiwa terkenal yang terkait dengan turunnya Surat Abasa adalah ketika Rasulullah SAW menunjukkan ekspresi wajah yang murung ketika seorang difabel netra mendatanginya.

 

Sejarah Turunnya Surah ‘Abasa

Pada masa awal Islam di Mekah, Rasulullah SAW dan para sahabatnya menghadapi tantangan besar dari kaum Quraisy yang menentang keras ajaran Islam. Dalam konteks perjuangan ini, Surah ‘Abasa turun untuk memberikan petunjuk, bimbingan, dan teguran kepada umat Islam.

 

Keberadaan Rasulullah SAW dan dakwah Islam di tengah masyarakat Mekah pada masa itu tidaklah mudah. Kaum Quraisy, yang merupakan penguasa dan pemimpin masyarakat, merasa terancam oleh ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Ajaran tauhid  atau kepercayaan yang menggugah kesadaran spiritual dan menolak praktik-praktik jahiliyah (kebodohan dan keburukan pada masa lampau), serta seruan untuk keadilan sosial, menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan penguasa Quraisy.

 

Kaum Quraisy bertindak keras terhadap Rasulullah SAW dan para pengikutnya, menggunakan berbagai cara untuk menekan dan menghalangi penyebaran Islam. Mereka menerapkan boikot terhadap keluarga Rasulullah dan menyulitkan para sahabatnya secara ekonomi dan sosial. Bahkan, mereka tidak segan-segan menggunakan kekerasan fisik dan ancaman untuk membungkam dakwah Islam.

 

Dalam suasana konflik dan penindasan tersebut, Surah ‘Abasa turun sebagai bagian dari wahyu Ilahi yang memberikan arahan dan bimbingan kepada Rasulullah SAW serta umat Islam secara umum. Surat ini mengandung pesan moral yang mendalam tentang pentingnya kesabaran, keadilan, dan penghargaan terhadap semua individu, tanpa memandang status sosial atau kondisi fisik.

 

Salah satu kejadian yang dicatat dalam sejarah adalah ketika Rasulullah SAW sedang berbicara dengan beberapa pemimpin Quraisy dalam upaya untuk menyebarkan ajaran Islam. Pada saat itu, Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat difabel netra, mendekati Rasulullah untuk memperoleh pengetahuan tentang Islam.

 

Namun, Rasulullah, yang tengah sibuk memberikan dakwah kepada para pemimpin Quraisy, merasa terganggu oleh kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum. Rasulullah SAW, dalam momen itu, bermuka masam dan berbalik dari Abdullah bin Ummi Maktum.

 

Peristiwa ini menimbulkan pelajaran moral yang mendalam. Meskipun Rasulullah SAW adalah utusan Allah dan pembawa pesan Islam, beliau juga manusia yang rentan terhadap kesibukan dan emosi. Sikap beliau yang bermuka masam terhadap Abdullah bin Ummi Maktum, karena terganggu dengan kehadirannya saat sedang berbicara dengan pemimpin Quraisy, menjadi sebuah momen yang mencatat sebuah pelajaran berharga.

 

Allah SWT kemudian menegur Rasulullah SAW melalui turunnya Surah’ Abasa. Surat ini tidak hanya memberikan nasihat kepada Rasulullah, tetapi juga memberikan petunjuk kepada seluruh umat Islam tentang pentingnya memberikan perhatian kepada semua orang, tanpa memandang status sosial atau kondisi fisik.

 

Peristiwa ini menggambarkan sisi kemanusiaan Rasulullah SAW dan memberikan pelajaran tentang pentingnya kesabaran, penghargaan terhadap individu, dan keberpihakan kepada yang lemah dan terpinggirkan dalam masyarakat. Rasulullah SAW sendiri kemudian belajar dari kesalahannya dan menunjukkan perhatian dan kasih sayang yang lebih besar kepada Abdullah bin Ummi Maktum dan seluruh sahabatnya.

 

Kisah ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana Islam mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan dalam hubungan antarmanusia. Peristiwa ini juga menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk senantiasa mengedepankan sikap empati, pengertian, dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan bantuan dan perhatian lebih.

 

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya.” (QS ‘Abasa Ayat 1-10)

 

 

 

Teguran dari Surah ‘Abasa memiliki implikasi mendalam dalam konteks inklusi difabel. Melalui Surah ‘Abasa, kita diajari untuk melihat bahwa setiap individu, termasuk difabel, memiliki martabat dan hak untuk diperlakukan dengan hormat dan perhatian. Ini adalah panggilan untuk memperluas cakupan inklusi dalam masyarakat, termasuk di dalamnya difabel, agar mereka merasa diterima dan diakui sepenuhnya.

 

Ketika kita merenungkan teguran melalui Surah Abasa pada momen Nuzulul Qur’an, kita diingatkan akan tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa difabel tidak hanya diterima, tetapi juga diintegrasikan secara penuh dalam masyarakat. Ini bukan hanya tentang memperluas aksesibilitas fisik, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung bagi mereka.

 

Dengan memperkuat inklusi difabel, kita memperkaya kehidupan kita dengan keragaman yang membawa kedamaian, keadilan, dan keharmonisan. Momen Nuzulul Qur’an menjadi momentum penting untuk merefleksikan dan bertindak dalam membangun masyarakat yang inklusif bagi semua, termasuk difabel.

 

kesimpulan

Dengan demikian, Surat Abasa adalah bukti konkret bagaimana Islam mendorong inklusi dan penghargaan terhadap semua individu dalam masyarakat. Turunnya Surat Abasa mengingatkan umat Islam bahwa ajaran Islam menuntut perlakuan yang adil, penghargaan, dan perhatian terhadap semua orang, termasuk orang yang terpinggirkan dalam masyarakat. Dengan demikian, Surat Abasa menjadi salah satu tonggak awal dalam membangun masyarakat yang inklusif dan adil dalam Islam.[]

 

Penulis : Apipudin

Editor     : Ajiwan

 

Daftar Pustaka:

Prof. Dr. Hamka. 1982. Tafsir Al Azhar Juz XXX. Jakarta : Penerbit Pustaka Panjimas. hal 43

Prof. Dr. Hamka. 1982. Tafsir Al Azhar Juz XXX. Jakarta : Penerbit Pustaka Panjimas. hal 44

Prof. Dr. Hamka. 1982. Tafsir Al Azhar Juz XXX. Jakarta : Penerbit Pustaka Panjimas. hal 45

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air