Search
en id

Gunakan fitur ACCESSIBILITY melalui tombol bagian kanan bawah sebagai preferensi untuk kenyamanan Anda.

Agar Lebih Berdaya di Masyarakat; Berikut Solusi Praktis Mengatasi Kecemasan dan Depresi Bagi Difabel Psikososial

Solideernews.com – Dikutip dari theconversation.com bahwa mindfulness, praktik meditasi yang berfokus pada pelatihan perhatian dan kesadaran, terbukti  memiliki efek positif pada kesejahteraan mental dan fisik. Tinjauan studi terkini juga memperlihatkan bahwa meditasi Mindfulness membantu orang dengan difabel intelektual. dan gangguan spektrum autis mengurangi masalah mental dan fisik mereka.

 

Dalam artikel ini juga dituliskan bahwa perilaku menantang merupakan masalah yang paling umum dihadapi oleh difabel. Perilaku ini meliputi perilaku agresif, melukai diri sendiri, merusak, dan mengganggu.

 

Perilaku terjadi  pada 15% difabel intelektual. Hingga 95% orang dengan spektrum autis juga menunjukkan beberapa bentuk perilaku yang menantang. Perilaku yang menantang tersebut  menjadi  ancaman besar bagi pendidikan anak-anak dengan kondisi ini. Perilaku ini juga menjadi alasan utama yang mengarahkan mereka ke jalur kriminal. Dengan demikian mereka juga berpotensi tidak dapat optimal berperan di lingkungan masyarakat sekitar.

 

Lantas bagaimana dengan manfaat Mindfulness bagi difabel psikososial? seperti yang diungkapkan oleh Dyah, orang dengan bipolar, yang merupakan pengurus Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Jogja. Praktik mindfulness baginya  adalah sarana untuk membantu agar tetap stabil. Di samping upaya pengobatan yang selama ini dijalaninya.

 

Dyah Ari Wijayanti beserta suaminya, Jerrie, penyintas skizofrenia, menjalani mindfulness sejak 2015 dan membuka kelas meditasi di rumah mereka di Yogyakarta sejak dua tahun lalu. Pemaparan tersebut mereka sampaikan saat berlangsungnya kegiatan workshop yang digelar Grand Sarila oleh KPSI Jogja yang bekerja sama dengan  Jogja Tourism Training Center (JTTC), Dinas Sosial dan Jogja Event.

 

Mindfulness adalah pengetahuan tentang kehadiran dan kesadaran, contohnya orang yang menyadari kemarahan berarti dia bisa mengidentifikasi perasaannya lalu  mengalami  penerimaan.

 

Dr. Tika Prasetyawati, Sp.KJ, psikiater yang menjadi narasumber pada workshop selain memaparkan secara ilmu pengetahuan hubungan mindfulness dengan depresi, mindfulness dengan kecemasan dan pengaruhnya, juga  mengemukakan bahwa mindfulness itu sejatinya ketika pikiran bisa membedakan mana pikiran realitas dan non realitas. Mindfulness juga memiliki nilai-nilai yakni : tidak menilai : tidak mendiskreditkan dan tidak menstigma. Maka saran terbaik adalah tiga kata : alami, sadari, dan terima.

 

Perlu  untuk mengetahui perbedaan mindful dan mindfull. Jika mindful adalah fokus pada tujuan tertentu, saat ini di momen ini (tidak perlu ke mana-mana), maka mindfull adalah : masa lalu, masa depan, dan menyalahkan diri sendiri (pikiran seperti benang kusut). Selain itu juga perlu untuk mengetahui tujuh prinsip mindfulness yakni tidak menghakimi, tidak menyalahkan diri sendiri, kesabaran, kepercayaan, pikiran pemula, dan tidak ngotot,

 

Dr. Tika menjawab pertanyaan apakah  praktik mindfulness baik bagi pasien yang masih psikotik? menurutnya pada waktu mindfulness butuh konsentrasi pada satu tujuan misalnya pernafasan. Nah, pada pasien skizofrenia yang masih psikotik belum bisa membedakan piirannya apakah itu realitas atau tidak. Ia menegaskan bahwa  mindfulness bukan satu-satunya sarana terbebas dari gangguan kecemasan dan depresi.

 

Satu catatan, kalau ia, skizofrenia yang masih psikotik ini  rajin dan tetap berlatih mindfulness dengan  rutin maka sirkuit-sirkuit syaraf yang ada penebalan di area abu-abu (seperti dijelaskan dengan gambar) maka hormon-hormon dan cemas bisa dikendalikan dengan bagaimana mengatur nafas.

 

Wijoyo Adi Nugroho, Psikolog dan praktisi mindfulness memaparkan hal yang seakan berelasi dengan realita akhir-akhir ini terkait kecemasan. Menurutnya terjadinya kecemasan kaitannya dengan mindfulness disebabkan pikiran berfokus pada masa depan (yang akan terjadi), sangat menginginkan realita yang terjadi seperti yang dipikirkan dan ketidaksiapan menerima konsekuensi yang tidak sesuai harapan. Menurutnya seseorang bebas dari cemas dan depresi jika mampu berfokus pada saat ini dan menerima realita saat ini apa adanya.[]

 

Reporter: Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

Bagikan artikel ini :

TULIS KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT

BERITA :

Berisi tentang informasi terkini, peristiwa, atau aktivitas pergerakan difabel di seluruh penjuru tanah air